
Seharian itu Armand tidak menyalakan ponselnya sama sekali. Bahkan ia meninggalkan mobilnya begitu saja di pinggir jalan karena sudah kehilangan tenaga dan konsentrasi untuk menyetir. Ia memilih pulang ke hotel tempatnya menginap sementara ini dengan menaiki taksi. Setibanya di hotel, Armand langsung saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Mata Armand menerawang. Mengingat masa-masa bahagianya dahulu kala saat masih menyandang sebagai suami Naima pun kebersamaan dengan anak-anaknya yang masih kecil. Kala itu ia amat sangat bahagia. Karirnya melejit. Semenjak menikah, kehidupannya makin membahagiakan dan apapun yang ia inginkan, dapat dengan mudah tercapai.
Seperti kata pepatah, ujian seorang istri itu saat suami tidak memiliki apa-apa, sementara ujian suami saat ia memiliki segalanya.
Bunda Naima berhasil menemani Armand dari 0 hingga kesuksesan pun diraihnya. Kehidupan mapan, rumah tangga yang harmonis membuatnya begitu bahagia.
Hingga suatu hari, giliran dirinya lah yang diuji. Bila bunda Naima berhasil melewati ujiannya, maka Armand tidak. Dia tergoda oleh seorang janda anak satu yang merupakan bawahannya dulu. Pertemuan demi pertemuan, Gita selalu menunjukkan ketertarikan maupun perhatiannya. Sebagai seorang laki-laki, tentu ia merasa bangga saat ada seorang janda cantik yang tampak begitu tergila-gila padanya. Apalagi penampilan Gita sangat seksi dan menarik. Ada kebanggaan tersendiri saat ia mengajak Gita ke berbagai pertemuan. Lambat laun, Armand benar-benar terjerumus pada pesonanya. Ia selalu memprioritaskan Gita di atas anak dan istrinya.
Akhirnya Armand menjalin hubungan dengan Gita di belakang Bunda Naima. Bahkan mereka menikah siri tanpa sepengetahuan Bunda Naima. Saat bunda Naima pertama kali mengetahui perselingkuhannya, tentu saja ia marah dan kecewa. Namun bunda Naima berusaha untuk bersabar dan bertahan. Semua ia lakukan demi anak-anakmu. Hingga akhirnya Armand sendirilah yang memilih melepaskan Bunda Naima dan anak-anaknya. Gita tidak ingin dimadu. Armand pun terlanjur sayang dan tak sanggup melepaskan Gita. Armand dipaksa memilih. Dengan berat hati ia pun lebih memilih si mantan janda lalu menjandakan istrinya.
Selama beberapa bulan setelah perceraian, Armand memang masih merasakan manis pernikahannya dengan Gita. Sikap Gita yang manja. Wajahnya yang cantik, tubuhnya yang seksi, tak jarang ia mendapatkan pujian dari orang-orang karena berhasil memiliki istri yang usianya jauh lebih muda dan cantik.
Meskipun Gita tak pernah melayaninya seperti Naima melayaninya. Tak pernah Gita memasak untuknya. Tidak seperti dulu saat awal-awal Gita mendekatinya. Dulu Gita kerap membawakannya makanan yang katanya hasil masakannya sendiri. Yang entah sebenarnya itu sebuah kejujuran atau kebohongan sebab selama menikah, ia tidak pernah melihat Gita memasak untuknya. Gita juga tak pernah menyiapkan pakaiannya, dan segala hal yang tampak sepele namun cukup berarti bagi Armand, tapi Armand bersabar. Ia pikir mungkin itu karena mereka masih di awal-awal pernikahan.
Namun seiring bergantinya waktu, Armand kadang merasa jengah dengan tingkah Gita yang hanya mementingkan diri sendiri dan penampilan hingga tak pernah mengurusi dirinya.
Setahun berlalu, perlahan Armand merasakan penyesalan sudah meninggalkan Naima dan anak-anaknya. Perlahan rindu menggerogoti hati dan jiwanya. Sikap lemah lembut Naima, perhatian Naima, masakan Naima, segala hal tentang Naima pun anak-anaknya terus berkelebat menciptakan palung rindu yang dalamnya tidak berdasar.
Armand yang sudah dilanda rindu pun memberanikan diri untuk menemui mantan istri dan anak-anaknya. Tapi sayang, saat ia datang, Naima dan anak-anaknya sudah tidak berada di rumah itu lagi. Rumah yang ia bangun khusus istri dan anak-anaknya ternyata telah dijual lalu mereka pindah entah kemana.
__ADS_1
Armand berupaya mencari keberadaan Naima dan anak-anaknya, tapi bertahun-tahun mencari, ia tak menemukan mereka sama sekali. Beberapa tahun kemudian, Armand dan Gita serta Nafisa pindah dari kota tempat tinggalnya ke kota yang mereka tempati kini sambil memendam rindu dan penyesalan dalam diam.
Namun di saat mereka dipertemukan lagi, keadaan sudah benar-benar berubah. Mantan istri dan anak-anaknya membenci dirinya. Anak tirinya terlibat permasalahan dengan anak kandungnya. Dan kini, kenyataan yang lebih menyakitkan membuat jiwanya makin nelangsa. Mantan istrinya ternyata dekat dengan teman lamanya yang Armand sangat ketahui kalau laki-laki itu dulu menyukai Naima. Kalau saja laki-laki itu tidak pergi, kemungkinan besar Naima pasti akan berakhir berumah tangga dengannya. Dan satu yang pasti, takkan pernah ada kesempatan baginya untuk mendekati Naima.
Namun yang berlalu telah terlanjur terjadi. Kalaupun dulu ia sempat memiliki, semua takkan pernah terulang lagi. Karena kebodohan dirinya sendiri, ia berakhir dibenci. Jangankan mendekat, melihatnya saja Naima dan anak-anaknya tak sudi. Armand kini hanya bisa meratapi kebodohannya yang akhirnya begitu ia sesali kini.
"Naima, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal telah menyia-nyiakan mu. Amar, Amara, ayah rindu, Nak. Sangat rindu."
Armand tersedu. Entah bagaimana caranya untuk menebus segala kesalahannya.
Setelah lebih dari satu jam menangis dan meratap, Armand pun menyalakan ponselnya. Hingga akhirnya satu notifikasi panggilan tak terjawab masuk. Armand lantas menelpon seseorang itu balik.
"Halo, assalamu'alaikum," ucap Armand.
"Aku ada di hotel. Seharian ini aku memang tidak mengaktifkan ponselku. Memangnya kenapa pak polisi yang super sibuk sepertimu menghubungi aku yang hanya warga sipil ini," ucap Armand seraya bercanda untuk menghilangkan kesedihannya.
"Ini bukan saatnya bercanda, Armand. Sebenarnya apa yang terjadi antara kau dan istrimu itu? Kenapa kau sampai melakukan kdrt seperti itu?"
Dahi Armand berkerut, "bagaimana kau tahu? Apa kau bertemu dengan Gita?"
"Ck ... " Seseorang bernama Herman yang berprofesi sebagai seorang polisi itu pun berdecak mendengar pertanyaan Armand. Bukannya menjawab pertanyaannya, Armand justru balik bertanya. "Aku tadi melihat istrimu baru pulang dari kantorku. Jadi aku tanya ke rekanku, apa tujuan kedatangannya dan kau tahu apa jawaban rekanku itu? Ternyata Gita baru saja melaporkanmu atas kekerasan yang sudah kau lakukan padanya. Tak tanggung-tanggung, dia membawa hasil visum untuk menguatkan laporannya. Kini laporan Gita sedang diproses, bisa jadi dalam 1x24 jam, kau akan dipanggil untuk diperiksa dan bila kau benar-benar terbukti bersalah, maka kau benar-benar akan menjadi tersangka," papar Herman membuat mata Armand terbelalak.
__ADS_1
Bagaimana ia tidak terkejut, ia benar-benar tidak menyangka kalau Gita akan mengambil langkah tak terduga seperti ini.
Di telepon, Armand memang mengakui kalau ia telah melakukan kekerasan akibat tidak bisa mengontrol emosi. Herman pun menasihati Armand agar tidak mencoba berkelit dengan polisi. Akan lebih baik segera mengakui kesalahan agar bisa mendapatkan keringanan hukuman.
Setelah berbincang-bincang sejenak, panggilan pun ditutup.
Kemudian, dengan kekesalan yang sudah memuncak, Armand pun memilih menghubungi Gita. Ia belum mau menemui wanita itu sebab ia khawatir tidak bisa mengontrol amarah seperti sebelumnya hingga kembali melakukan kekerasan.
"Halo," jawab seorang perempuan acuh tak acuh di seberang sana.
"Gita, kau apa-apaan, hah? Kenapa kau melaporkanku ke polisi?"
"Oh, Mas Armand sudah tahu toh. Baguslah kalau begitu. Jadi aku tinggal duduk manis sambil menunggu kehancuranmu."
"Dasar perempuan sialan. Menyesal aku mengenal dan menikahimu. Ternyata kau perempuan yang benar-benar busuk. Tak tahu balas budi. Padahal karena ulahmu aku kehilangan segalanya, lalu kini kau pun ingin menghancurkan ku? Sialan. Aku bersumpah, kau akan mendapatkan pembalasan yang lebih menyakitkan dari yang aku alami. Tunggu saja!" Raung Armand dari sambungan telepon. Setelah mengucapkan itu, Armand pun menutup panggilan dengan dada yang bergemuruh.
Tiba-tiba jantungnya terasa begitu sesak. Armand pun kembali merebahkan tubuhnya sambil memegang dada. Di usia muda, dengan pongah ia meninggalkan orang-orang yang selalu setia mendampinginya dan kini lihat, di usia senjanya, ia pun ditinggalkan oleh orang-orang yang dulu i pertahankan. Sungguh miris.
"Mungkin inilah karmaku. Benar apa kata pepatah, apa yang kau tabur, itu yang kau tuai."
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...