Penyesalan Anak Dan Suami

Penyesalan Anak Dan Suami
PAS 56


__ADS_3

"Brengsekkk!" umpat Amar saat ia terjatuh tersungkur di jalan. Untung saja posisinya bukan di tepi jalan raya, kalau tidak, mungkin nyawanya sudah melayang karena hantaman kendaraan yang lalu lalang tanpa henti itu.


Belum sempat Amar bangkit apalagi menoleh, seseorang sudah kembali menarik kerah bajunya dan menghantam wajahnya dengan tinju. Amar reflek mundur ke belakang. Matanya mendelik tajam saat menyadari siapa yang sudah menghajarnya.


"Kau ... ! Apa-apaan kau, hah? Kenapa kau tiba-tiba datang kemudian memukulku?" teriak Amar sambil menyeka darah di pinggir bibirnya.


Laki-laki yang tak lain adalah Budi itu pun mendekat dan mencengkeram kerah kemeja Amar dengan mata memerah. Sorot mata Budi memancarkan kebencian membuat Amar tak habis pikir sebenarnya kenapa hanya karena posisinya lebih cepat naik, Budi jadi sebegitu benci kepada dirinya. Amar tak tahu, kalau hati seseorang sudah diliputi rasa iri dengki, maka dia akan marah dan benci saat kita sukses atau mendapatkan kesenangan, dan mereka akan merasa senang bukan main saat kita merasa kesusahan.


"Kau masih tanya kenapa, hah? Jangan pura-pura bodoh kau! Kau pasti senang kan aku dipecat? Kau pasti merasa bangga, kau berhasil menyingkirkan aku kan? Kau memang benar-benar bajingaan?"


Budi hendak kembali menghantam wajah Amar dengan tinjunya, tapi dengan cepat Amar menangkis tangan itu kemudian menendang lututnya hingga Budi terjengkang.


"Brengsekkk!" umpat Budi.


"Kau yang brengsekk. Aku tidak pernah mengusik mu, tapi kenapa kau selalu mengusikku? Membenciku hanya karena jenjang karirku lebih cepat, sungguh bodoh."


"Sialan!" umpat Budi tak terima karena Amar mengatainya bodoh.


Bughh ...


Bughh ...


Bughh ...


Mereka terus berkelahi. Orang-orang di sekitar kini sudah mengerumuni Amar dan Budi. Para perempuan berteriak histeris saat melihat kedua orang itu saling pukul hingga wajah mereka berdarah-darah.


Satpam cafe sampai turun tangan ingin menghentikan perkelahian kedua orang itu, tapi ia kesulitan sebab kedua orang itu seakan tak terkendali.


"Mas Amar, Mas Budi," teriak Nafisa yang terkejut saat melihat Amar dan Budi lah yang berkelahi.


Ia sebenarnya sudah penasaran sejak tadi saat mendengar orang-orang di dalam cafe membahas ada orang yang berkelahi di depan cafe. Siapa sangka kalau Amar dan Budi lah yang berkelahi.


"Mas Budi, stop! Mas Amar, berhenti!" teriak Nafisa yang sudah memeluk Amar dari belakang.


"Fisa, apa yang kau lakukan, hah? Oh jadi ini pekerjaanmu di belakangku? Kau ada main dengannya, begitu? Apa karena aku sudah tidak bekerja lagi, jadi kau lebih memilih dia? Begitu?" teriak Budi tidak terima kekasih gelapnya justru lebih memilih Amar dibandingkan dirinya.


Nafisa kebingungan harus menjawab apa, sebab bila ia mengiyakan, maka akan menjadi masalah. Namun bila ia tidak mengiyakan, maka juga akan jadi masalah.

__ADS_1


"Lepas!" teriak Amar sambil melepas kasar tangan Nafisa di perutnya.


"Mas Amar, aku ..."


"Amar, apa yang terjadi?" tiba-tiba rekan kerja Amar sudah berdiri di dekat Amar. "Budi?" beo mereka saat menyadari kalau Amar berkelahi dengan Budi. "Apa kalian sudah gila berkelahi di tengah jalan seperti ini? Lihat, kalian jadi tontonan orang-orang. Bagaimana kalau mereka melaporkan kalian ke polisi? Bisa panjang urusan, kalian tahu!" sentak rekan kerja Amar yang lebih senior.


"Kalian tidak usah ikut campur urusanku!" teriak Budi yang kembali ingin menghajar Amar. Namun beruntung, orang-orang menahan tangan Budi agar tidak menyerang Amar lagi.


"Sudahlah, Amar. Lebih baik kita segera kembali ke kantor. Jam istirahat sudah hampir habis!" ajak rekan kerja Amar sambil menarik tangan Amar agar segera pergi dari sana.


Amar pun mengikuti langkah rekan kerjanya. Budi berteriak. Ia terus mengumpat dan memaki Amar pengecut karena pergi dari sana lebih dulu.


"Mas Budi, udah. Lihat, Mas jadi bahan perhatian orang-orang," sergah Nafisa sambil menarik pelan lengan Budi.


Budi menatap nyalang Nafisa.


"Pergi kalian semua!" usir Budi pada orang-orang yang memperhatikannya.


Orang-orang tersebut pun segera bubar sambil berseru mengejek ke arah Budi. Tapi Budi masa bodoh sebab ia masih harus menyelesaikan urusannya dengan Nafisa.


"Mas, pelan-pelan!" pekik Nafisa saat Budi menariknya kasar.


Namun Budi yang sedang dirundung emosi mengabaikan pekikan Nafisa. Ia justru mendorong kasar Nafisa masuk ke dalam mobil. Setelahnya, ia ikut masuk dan duduk di bangku kemudi. Setelahnya, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kontrakan Nafisa yang tidak begitu jauh dari sana.


Hanya dalam 30 menit, mobil Budi pun telah terparkir di depan kontrakan Nafisa. Lalu ia kembali menarik kasar Nafisa menuju kamar kontrakannya.


Brakkk ...


Budi mengunci pintu setelah mereka masuk ke dalam kontrakan tersebut.


"Mas," cicit Nafisa saat melihat sorot mata tajam Budi padanya.


"Kau mau mengkhianati aku, heh? Aku selalu menunggu kamu, tapi nyatanya kau justru menemui bajingaan itu. Dasar jalaang!" sentak Budi murka.


"Mas, jangan bicara seenaknya! Aku melakukan ini demi kamu, tau nggak!" kilah Nafisa yang sudah ketar-ketir melihat sorot mata tajam itu.


"Untuk aku? Apa untungnya untuk aku, hah? Kau jelas-jelas mengandung anakku. Bahkan kau belum bilang kalau kau mengandung anakku, tapi kau justru lebih memilih menemui dan mengatakan tentang kehamilan mu pada bajingaan itu lebih dulu. Bahkan kau juga bilang kalau aku tidak mau tanggung jawab, brengsekkk!" pekik Budi yang benar-benar emosi sambil terus mendekat ke arah Nafisa. Nafisa reflek mundur hingga tubuhnya mentok menabrak dinding.

__ADS_1


Brakkk ...


Budi meninju dinding tempat Nafisa yang sudah bersandar dengan peluh bercucuran. Ia sudah lama tidak melihat ekspresi membunuh dari Budi.


"Ka-kau salah paham, Mas. Justru aku ... aku sesungguhnya ingin membantu mu balas dendam. Kau tahu, Mas kalau keluarga Amar baik-baik saja. Jabatannya masih bagus. Bukankah ... bukankah itu tidak adil untukmu. Karena itu, aku ... aku berniat menghancurkan rumah tangganya dengan mengakui kalau aku hamil anaknya di depan istrinya. Aku yakin, sebentar lagi keluarganya akan hancur lebur. Setelah itu, karirnya pun akan ikut hancur karena tidak bisa berkonsentrasi," kelit Nafisa. Yang pasti, apa yang ia katakan ini hanyalah dusta. Ia memang masih mencintai Budi. Tapi tanpa sadar ia pun sudah jatuh cinta pada Amar.


Meskipun ia hamil anak Budi, tapi mana mau ia minta pertanggung jawaban laki-laki itu. Ibunya pasti takkan setuju sebab sampai sekarang Budi masih pengangguran.


Berbeda dengan Amar, meskipun mereka sama-sama suami orang, tapi Amar jauh lebih mapan. Ia juga tampan. Ah, sungguh tak ada celah untuk menolak pesonanya.


Dahi Budi mengernyit, "benarkah? Jangan menipuku? Kau tahu bukan, aku benci dibohongi. Aku bisa membunuhmu saat ini juga bila kau menipuku?"


Nafisa dengan cepat menggeleng, "tidak, Mas. Sungguh. Aku ini sedang membantu mu membalaskan dendam mu. Jadi jangan salah paham. Dan ... maaf karena belum sempat memberitahu mu soal kehamilanku. Aku juga baru tahu beberapa hari yang lalu. Maaf, Mas jangan marah lagi ya!" Nafisa mencoba membujuk Budi dengan mengusap dadanya.


Budi menghela nafas panjang kemudian langsung berbalik menuju ranjang. Ia menghempaskan bokongnya di tepi ranjang sambil menepuk pahanya. Nafisa yang paham akan maksud Budi pun segera duduk di pangkuan laki-laki itu.


"Baguslah kalau kau tidak mengkhianati aku."


"Mas tidak perlu khawatir. Aku tidak akan mengkhianati mu. Sungguh," ucap Nafisa mendayu-dayu. Bahkan jemarinya telah bermain di dada Budi.


Budi menangkap jari itu dan mengecupnya.


"Baiklah. Kau tahu, aku benar-benar marah sekali tadi saat melihat kau bertemu dengan bajingaan itu di belakangku. Tapi mendengar penjelasanmu, aku jadi merasa bersalah. Maaf."


"Tak usah pikirkan. Em, Mas, apa Mas tidak ingin menjenguk anak kita? Sepertinya, dia merindukan papanya?" goda Nafisa yang memang sudah hafal kelemahan Budi. Ia sengaja melakukan itu agar Budi melupakan kekesalannya tadi. Meskipun ia mulai mencintai Amar, tapi ia masih menyukai permainan Budi.


Budi tersenyum menyeringai, "benarkah?"


Nafisa mengangguk.


"Baiklah."


Budi pun tak mau menunda-nunda lagi. Apalagi sudah beberapa hari ia tidak bertemu dan menumpahkan hasratnya dengan Nafisa. Mereka pun kembali melakukan hubungan terlarang itu. Bergumul dosa berbalut kenikmatan.


...***...


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2