Penyesalan Anak Dan Suami

Penyesalan Anak Dan Suami
PAS 72


__ADS_3

Setelah pergulatan panas, kedua insan itupun tertidur. Tapi baru 2 jam Aliyah terlelap, ia tiba-tiba terjaga. Pikirannya sedang bingung saat ini.


"Mas Amar ingin memiliki anak lagi, tapi apakah masih mungkin?"


Aliyah bergumam sambil memikirkan kondisi fisiknya yang belum dinyatakan benar-benar sehat. Selama beberapa bulan ini Aliyah memang masih melakukan kontrol. Baik penyakit kanker otak yang ia derita maupun ginjalnya. Kankernya memang berhasil dioperasi, tapi itu tak serta merta menyatakan ia sudah benar-benar pulih. Sementara ginjal, kini ia hanya memiliki satu ginjal alhasil ia tidak bisa melakukan sesuatu yang berat sebab bisa berdampak pada ginjalnya.


Aliyah mengusap kepalanya, bahkan rambutnya pun baru tumbuh mungkin sekitar dua sentimeter. Aliyah kadang merasa malu membuka jilbabnya di depan Amar. Mahkotanya telah tiada. Rambut panjang nan hitam lebatnya dicukur habis tak bersisa setelah rontok terus-menerus sebelumnya. Membuat kadar kepercayaan diri Aliyah terjun bebas, tapi Amar berhasil meyakinkan dirinya untuk tidak merasa rendah diri. Amar meyakinkan dirinya kalau ia akan menerima Aliyah apa adanya.


Amar menggeliat. Kemudian mata Amar menyipit, ia terkejut ternyata Aliyah sedang termenung di dalam pelukannya.


"Sayang, kamu kenapa? Apa yang kamu pikirkan, hm?" tanya Amar menyentak Aliyah dari lamunannya.


"Eh, Mas, aku ganggu kamu tidur, ya?" tanya Aliyah mengabaikan pertanyaan Amar.


Amar menggeleng, "jawab pertanyaan Mas, kamu kenapa? Ada yang kamu pikirkan?"


Aliyah menggeleng cepat, "nggak kok. Aku nggak mikirin apa-apa," kilah Aliyah.


"Jangan bohong, Sayang! Mas mohon, mulai sekarang katakan apa yang kamu pikirkan. Jangan lagi memendam sesuatu. Cukup kebodohan Mas dulu yang mengabaikan perasaanmu sampai-sampai tidak menyadari kalau kau sakit parah. Mas tidak ingin kehilanganmu, Sayang. Maaf mohon, mulai saat ini katakan apa yang kau rasakan, katakan saja apa yang mengganggu pikiranmu. Kalau ada yang sakit, katakan, jangan diam. Jangan buat mas kembali menjadi laki-laki bodoh yang tidak tahu apa-apa tentangmu," ujar Amar dengan netra teduhnya menatap lekat sang istri yang juga menatapnya.


Aliyah menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Benar kata suaminya, pikirnya. Jangan memendam apa-apa sendiri lagi. Tidak ada salahnya mengatakan apa yang ia pikirkan. Komunikasi yang baik adalah salah satu kunci keharmonisan dalam rumah tangga.


"Mas, kamu tadi bilang ingin memiliki anak lagi, tapi ... Bagaimana kalau aku tidak bisa hamil lagi? Kau tentu masih ingat kan kondisi tubuhku sudah tidak seperti dulu."


Amar mengerti kegelisahan sang istri, "ingin bukan berarti harus. Mas memang ingin, tapi sedikasihnya saja oleh Allah. Kalau tidak ya tidak masalah. Toh kita sudah memiliki Nama, Gaffi, dan Amri. Buah cinta kita. Bukannya dua hari lagi jadwalmu kontrol? Sekalian saja kita tanya, apakah masih ada kemungkinan kau hamil lagi. Mas juga sebenarnya tadi sempat terpikir, mas takut kehamilanmu justru membuat penyakitmu kambuh lagi atau ... yah pokoknya seperti itu. Namun mas akan tetap berdoa, semoga keadaan kesehatanmu benar-benar pulih. Tidak kambuh lagi," ujarnya.


Sebenarnya ada ketakutan tersendiri di benak Amar sebab dokter pernah berkata, bila penyakitnya kambuh lagi, maka persentase kesembuhan akan semakin menipis. Apalagi kanker otaknya. Bisa jadi kanker akan menyebar lebih cepat dan sulit untuk disembuhkan.


Aliyah memang masih harus melakukan kontrol. Sebelum dokter belum menyatakan kankernya telah sembuh dengan total, maka Amar belum bisa benar-benar tenang.


"Aamiin ya rabbal alamin," jawab Aliyah yang kemudian kembali merebahkan kepalanya di dada bidang Amar.


Keesokan harinya,


Siang hari, setelah selesai makan siang, Amar dan keluarganya segera bersiap untuk pulang. Saat sedang membereskan barang-barangnya, tiba-tiba ponsel bunda Naima berdering. Dilihatnya, nama pemanggil adalah Akmal. Bunda Naima pun reflek tersenyum.


"Assalamu'alaikum, Nai."


"Wa'alaikumussalam salam, Mal. Ada apa ya?"

__ADS_1


"Em, kamu sudah pulang?"


"Belum. Memangnya kenapa?"


"Sudah makan siang? Kalau belum, bagaimana kalau kita makan siang bersama."


"Duh, maaf Mal, sayangnya aku sudah makan siang bareng anak dan menantu serta cucu-cucuku."


"Yah, aku terlambat." Terdengar helaan nafas kecewa di seberang sana.


"Setelah ini, kamu ada rencana?"


"Nggak ada sih. Sebenarnya kami justru sedang beres-beres mau pulang ke rumah."


"Lho, kok cepet banget? Nambah lagi aja nginep di sini? Nanti aku perpanjang bookingannya. Kebetulan yang punya hotel ini mertua Akhsan, putraku. Bagaimana?"


"Nggak usah, Mal. Aku nggak mau ngerepotin. Anak-anak juga nggak bebas main di sini."


Hening.


"Em, oh gini aja, pulangnya tunda sampai sore aja bagaimana? Kita ajak anak-anak renang di kolam renang hotel," tawar Akmal.


"Kalau kamu setuju, aku akan urus segala sesuatunya. Bagaimana?"


Bunda Naima tampak berpikir. pasti anak-anak senang bila diajak renang. Apalagi sudah lama mereka tidak melakukan liburan ataupun jalan-jalan.


"Boleh juga. Nanti aku bilang ke Amar dan Aliyah."


"Good. Kalau begitu, nanti kalau segala sesuatunya udah siap, kau hubungi kamu lagi, oke?"


"Oke."


Setelah mengucapkan salam, panggilan pun ditutup.


...***...


"Apa? Renang Eyang?" seru Nana dengan mata berbinar. Sudah sejak lama ia ingin sekali berenang, tapi sisa uang jajannya selalu pas-pasan. Padahal teman-temannya sering mengajaknya berenang, tapi selain tidak memiliki baju renang, Nana juga tidak memiliki uang lebih. Ia tidak ingin seperti dulu yang kerap memaksa ibunya memberikan sejumlah uang. Berapapun yang diberi, Nana belajar untuk mensyukurinya.


"Abang hayu lenang, Eyang," timpal Gaffi.

__ADS_1


"Ikut, ikut, ikut," timpal Amri yang sebenarnya tidak paham maksud pembicaraan Eyang dan kakaknya.


Melihat antusiasme anak-anak, Aliyah dan Amar lantas setuju. . Sesuai perkataan Akmal, laki-laki paruh baya itu mengurus segala sesuatunya. Bahkan ia juga meminta orangnya membelikan pakaian renang untuk Nana, Gaffi, dan Amri.


Bunda Naima dan Aliyah tidak ikut berenang. Mereka malu dan canggung. Sementara Akmal hanya duduk-duduk sambil berbincang. Aliyah didudukan Amar di tepi kolam. Amar sengaja agar Aliyah bisa melihat anak-anaknya berenang dari dekat. Sedangkan dirinya terpaksa ikut berenang untuk menjaga kedua anak laki-lakinya.


Hari beranak sore, akhirnya tiba waktunya untuk pulang. Sebelum pulang, Akmal mengajak bunda Naima dan keluarga bersantai sejenak di salah satu food court yang ada di dekat hotel. Setelahnya, baru mereka pulang. Namun bila saat pergi Bunda Naima ikut Amar, maka pulangnya ia justru ikut Akmal. Teman semasa sekolahnya itu menawarkan diri untuk mengantar bunda Naima pulang. Bunda Naima pun setuju.


Setelah berkendara hampir satu jam, akhirnya mereka pun tiba di rumah Amar. Setibanya di rumah, Amar pun mempersilahkan atasannya mampir ke rumahnya. Saat bunda Naima sedang berbincang dengan Pak Akmal, tiba-tiba terdengar suara salam dari luar. Suara yang begitu familiar di telinga Bunda Naima dan Amar. Membuat senyum bahagia seketika berubah kecut.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam salam," jawab Amar yang langsung menghampiri laki-laki yang tak lain adalah Armand.


"Amar," panggil Armand sambil tersenyum.


Namun wajah Amar tampak datar-datar saja, "mau apa kau datang ke mari?"


"Amar, ayah hanya ... "


"Ayah? Maaf, ayah saya sudah tidak ada lagi. Jadi jangan mengaku-ngaku. Lebih baik Anda segera pergi dari sini karena kehadiran Anda hanya merusak suasana saja," ucap Amar datar.


Tenggorokan Armand terasa tercekat. Ia sempat melirik ke dalam rumah, ada seorang laki-laki yang sedang berbincang dengan mantan istrinya. Dan ia tahu siapa laki-laki itu.


Teman dekat mantan istrinya.


Bukan sekedar dekat, tapi sangat dekat. Apalagi keduanya pernah saling menyukai dan Armand tahu itu. Namun saat itu Akmal tiba-tiba pindah sekolah membuat mereka terpisah. Memanfaatkan kesempatan, barulah Armand maju mendekati bunda Naima hingga akhirnya mereka berhasil menikah. Namun pernikahan mereka tidak bertahan lama. Godaan wanita idaman lain membuat Armand melakukan kebodohan dan lebih memilih selingkuhannya. Sesuatu yang amat Armand kini sesali.


"Nak, bagaimanapun ayah ini ... "


"Cukup! Sama seperti Anda yang meninggalkan kami tanpa menoleh lagi, saya minta Anda segera pergi dari sini karena kami sudah tidak membutuhkan Anda lagi," pungkas Amar tegas membuat dada Armand seketika sesak.


Dengan mata berkaca-kaca, Armand pun membalikkan badannya segera pergi dari sana. Di dalam mobil, air matanya luruh. Ia meraung karena penyesalannya yang sudah kadung terlambat.


Di saat Armand sedang tenggelam dengan penyesalannya, di tempat lain, Gita sedang bersalaman dengan pihak kepolisian yang akan membantunya mengurus laporannya. Gita sudah melaporkan kekerasan yang Armand lakukan. Ia sudah tak sabar membuat Armand hancur.


...***...


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2