Penyesalan Anak Dan Suami

Penyesalan Anak Dan Suami
PAS 43


__ADS_3

Tepat tengah malam, Aliyah tiba-tiba terbangun. Ia tiba-tiba ingin buang air kecil, tapi Aliyah merasa enggan untuk mengagungkan Amar. Apalagi Amar tampak tidur sangat lelap sekali. Sudah lama rasanya ia tidak melihat wajah Amar seperti ini. Namun sebaik apapun sikap Amar, belum mampu meluluhkan hatinya yang masih beku saat ini. Rasa sakit yang telah Amar torehkan benar-benar membuat hatinya luluh lantak. Perih tak terkira.


Aliyah gelisah di atas tempat tidurnya. Ia menggeliat ke kiri dan ke kanan seraya menahan desakan yang kian menjadi dari bawah perutnya.


Situasi inilah yang Aliyah benci. Mengapa ia harus mengalami kelumpuhan sehingga ia tidak bisa bergerak secara bebas. Keadaan kakinya membuat dirinya makin insecure terhadap dirinya sendiri. Dirinya yang merasa kalah jauh dari Nafisa yang tampak sempurna, jadi kian merasa rendah diri dengan keadaan kakinya. Keadaannya sangat kontras dengan Nafisa yang Aliyah anggap perempuan yang telah berhasil mencuri perasaan suaminya.


Aliyah menangis dalam diam. Ia memukul-mukul kakinya yang mati rasa. Ia benci situasi seperti ini. Ingin rasanya ia memaki takdirnya yang buruk dan menyedihkan, tapi ia tahu Tuhan takkan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hambanya. Namun bagaimanapun Aliyah tetaplah manusia biasa. Setebal-tebalnya iman adakalanya merasa tak berdaya dan merasa apa yang ia alami benar-benar tak adil.


Merasa sisi di sebelahnya agak berisik, Amar pun sontak membuka mata. Semenjak mengetahui keadaan Aliyah yang tidak baik-baik saja membuat Amar mudah sekali terbangun meski demikian gerakan sedikit saja.


Amar membelalakkan matanya saat melihat Aliyah memukul-mukul kakinya sambil terisak. Tangisan tanpa suara itu justru membuat dada Amar sesak. Bahkan saat seperti ini pun Aliyah seakan tak mau kesedihannya di lihat orang lain.


Amar pun gegas duduk dan menangkap tangan Aliyah agar berhenti memukul-mukul kakinya seperti itu.


"Al, kenapa? Ada apa? kenapa kau memukul-mukul kakimu seperti itu?" cecar Amar seraya menatap sendu netra yang dipenuhi kaca bening itu.


Aliyah bungkam. Ia tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Hanya air matanya saja yang tak henti-hentinya mengalir. Mata Amar ikut berkaca-kaca saat melihat sorot mata penuh kesedihan dan kehancuran itu.


"Al, kamu kenapa? Bicara? Aku bukan cenayang ataupun indigo yang bisa membaca pikiranmu. Katakan kau kenapa?" tanya Amar lembut seraya mengusap lembut air mata di pipi Aliyah. Namun Aliyah mencoba menghindari sentuhan Amar. Hati Amar sakit. Sebegitu bencikah Aliyah pada dirinya? Seandainya bisa meminta, Amar ingin kembali ke masa lalu. Masa-masa dimana hari bahagianya dan Aliyah. Lalu akan ia jaga rasa cinta dan kesetiaan itu agar tidak pernah menyakiti Aliyah. Takkan pernah ia lakukan hal-hal yang bisa menyakiti Aliyah. Sungguh, ia menyesal telah menyakiti wanita yang ada di hadapannya itu.


Aliyah tetap bungkam. Namun ia meringis sambil menggigit bibirnya. Pinggulnya bergerak tak nyaman membuat Amar menarik kesimpulan kalau Aliyah sedang ingin buang air kecil.


"Kamu mau ke kamar mandi, hm? Kamu mau pipis atau pup?"


Tak ada yang keluar dari bibir Aliyah. Amar tersenyum miris, bahkan sekadar untuk minta tolong pun Aliyah merasa enggan. Ia lebih baik menahan sakit daripada sekedar meminta tolong.


Amar menghembuskan nafas panjang. Percuma kalau menunggu Aliyah meminta tolong sebab semua takkan pernah dilakukannya. Amar pun segera turun dari tempat tidur dan berdiri di sisi ranjang tempat Aliyah berbaring. Lalu tanpa banyak bicara, Amar langsung mengangkat tubuh kurus Aliyah ke dalam gendongannya.


Aliyah memekik kaget. Tapi Amar acuh tak acuh dan tetap melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Lalu Amar membuka tutup closet dan mendudukkan Aliyah di atasnya. Setelahnya, Amar pun membantu Aliyah menurunkan celananya.


Aliyah mencoba menghentikan gerakan Amar, tapi sorot mata tajam Amar membuat Aliyah mati kutu.

__ADS_1


"Kau ingin melakukannya sendiri? Ayo lakukan! Aku mau lihat, apa kau bisa melakukannya sendiri?" Amar menyunggingkan seulas senyum sinis. Tanpa terasa Aliyah meneteskan air matanya lagi. Ia merasa menjadi manusia paling tidak berguna. Bahkan untuk buang air kecil saja ia tidak bisa melakukannya sendiri.


Amar tahu, Aliyah merasa benar-benar kecewa dengan dirinya sendiri saat ini. Di saat inilah justru titik terendahnya. Dan di saat ini pulalah ia harus bisa membuktikan kalau ia takkan pernah meninggalkan Aliyah di saat seperti apapun. Ia akan selalu berada di sisi sang istri, tak peduli bagaimana keadaannya ke depannya. Ia akan terus mendampingi hingga ajal memisahkan mereka berdua.


"Jangan menangis, Al! Ingat, aku suamimu. Sudah sewajibnya aku membantumu di saat seperti ini. Ayo, aku bantu. Ingat, ginjalmu baru di operasi dan tinggal satu. Menahan buang air kecil tidak bagus untuk kesehatan ginjalmu. Aku tidak ingin kau sakit lagi, Al. Cukup satu kali, ah maksudku dua kali aku hampir kehilanganmu dan aku tidak ingin semua itu terulang kembali. Kalau kau malu, kau bisa tutup matamu. Ayo!"


Aliyah pun menurut dan menutup matanya. Di saat itulah Amar pun membantu Aliyah menyingkap dasternya ke atas dan menurunkan celananya. Setelahnya, Aliyah pun membuang apa yang sejak tadi ditahannya.


Sungguh, Aliyah merasa malu setengah mati. Padahal Amar suaminya sendiri, tapi tetap saja ia malu. Apalagi hubungannya sempat merenggang membuat Aliyah benar-benar canggung berhadapan dengan suaminya sendiri.


Setelah selesai, Amar kembali membawa Aliyah ke tempat tidur dan membaringkannya. Lalu Amar menarik selimut hingga sebatas dadanya. Tak lupa Amar mengecup dahi Aliyah sebagai pertanda kalau ia masih sangat menyayangi istrinya tersebut.


"Tidurlah lebih dulu. Mas mau tahajud dulu," ujarnya membuat Aliyah sedikit mengerutkan keningnya.


Sejak kapan Amar melakukan sholat sunnah tersebut, pikirnya? Sedangkan shalat wajib saja dulu Amar sering melewatkannya.


Amar tersenyum. Ia tahu kalau Aliyah merasa penasaran dengan perubahannya. Tapi ia tidak mau menjelaskannya. Setelahnya, Amar pun segera melakukan shalat Sunnah yang paling sedikit berjumlah dua rakaat dan paling banyak tanpa batasan.


"Maafkan segala kesalahanku, Sayang. Aku takkan pernah bosan meminta maaf padamu. Terserah kau mau memaafkan atau tidak sebab yang penting bagiku adalah masih bisa melihatmu di sisiku."


Amar menghela nafas panjang, lalu ia melirik ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ia mengambil ponsel tersebut dan memeriksa beberapa pesan masuk maupun panggilan masuk.


Sorot matanya berubah menjadi kelam saat melihat salah satu pengirim pesan yang jumlahnya amat sangat banyak tersebut. Ada lebih dari 50 pesan dan hampir 100 panggilan masuk yang ia abaikan dari satu orang pengirim.


Tanpa mau membaca pesan tersebut sama sekali, Amar pun langsung memblokir nomor tersebut agar perempuan itu tidak pernah lagi mengganggunya.


Sementara itu, di tempat lain ada seorang perempuan yang mengumpat kesal karena pesannya lebih dari 2 Minggu ini terus diabaikan oleh Amar.


"Mas, apa kabarmu?"


"Mas, bisa kita bertemu? Ada yang ingin aku sampaikan. Penting."

__ADS_1


"Mas, kamu masih marah padaku?"


"Mas, kamu kemana?"


"Mas, kenapa kamu tidak pernah membalas pesan-pesanku maupun mengangkat panggilanku?"


"Mas, kamu benar-benar marah padaku?"


"Mas, untuk masalah di kantor, sungguh aku terpaksa melakukannya."


"Mas Budi yang memaksaku mencurangi mu."


"Mas, sungguh, aku terpaksa melakukannya."


"Mas, maafkan aku. Aku mohon, jangan abaikan aku?"


"Mas, apa mbak Aliyah masih sakit?"


"Mas, tolong angkat panggilan ku!"


"Mas, tolong balas pesanku!"


Lebih dari 50 pesan yang Nafisa kirimkan kepada Amar, tapi tak pernah direspon sama sekali. Begitu pula panggilan yang ia lakukan, selalu saja diabaikan.


Nafisa menggeram kesal. Saat melihat nomor Amar aktif, Nafisa kembali memberondong Amar dengan pesan-pesannya. Namun kekesalannya makin menjadi saat tiba-tiba nomornya tidak bisa lagi mengirimi Amar pesan apalagi melakukan panggilan.


"Sial! Dia memblokir nomorku. Aaargh ... Dasar kampret!"


...***...


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2