
Brakkk ...
"Sebenarnya tujuanmu apa, hah? Untuk apa kau mempertemukan kami?" bentak Budi benar-benar tersulut emosi.
"Tidak bisakah kau duduk dulu. Kita bisa bicarakan ini baik-baik," sela Amar dengan wajah datar, namun terkesan sinis.
"Tutup mulutmu. Jangan-jangan ini rencanamu! Apa maumu sebenarnya, hah?" bentak Budi yang sudah mencengkeram kerah kemeja Amar, tapi Amar dengan cepat menyentak tangan Budi sambil berdecih sinis.
"Oke kalau kau ingin tahu, ya ini memang rencanaku, kenapa? Tak suka?" ujar Amar seraya tersenyum mencubir.
"Kau ... Katakan, sebenarnya apa maumu, hah? Belum cukupkah kau membuatku dipecat dari pekerjaanku, brengsekkk!"
"Aku? Membuatmu dipecat? Apa kau sudah mulai kehilangan kewarasanmu? Kapan aku membuatmu dipecat dari pekerjaanmu? Apa kau lupa, apa yang kau dapatkan itu merupakan buah dari perbuatanmu sendiri. Setiap perbuatan itu ada konsekuensinya, Budi. Dan apa yang kau dapatkan itu merupakan buah perbuatanmu sendiri. Aku tak pernah mengusik mu, tapi aku yang kau lakukan? Tapi ... Ya sudahlah. Itu sudah berlalu. Tapi ada satu yang harus aku selesaikan sekarang juga. Dan ini ada hubungannya dengan kekasih gelap mu itu," ujar Amar sambil menggestur ke arah Nafisa.
Budi dan Nafisa sontak gelagapan, "apa maksudmu?"
"Tak perlu berpura-pura tak tahu, Mas. Kamu semua sudah tahu kebusukan kalian. Jadi lebih baik kalian mengaku sekarang," timpal Anne yang sudah muak melihat tingkah Budi yang sok terdzolimi. Benar-benar playin victim. Sama seperti Nafisa, playing victim seolah Budi tak mau bertanggung jawab atas perbuatannya, padahal itu rencananya sendiri untuk menjerat Amar agar mau menikahinya.
"Jangan sembarangan memfitnahku! Jangan bilang kalian ingin menuduhku berselingkuh dengan Nafisa? Iya?" ujar Budi kemudian terkekeh. Ia merasa tidak bersalah sama sekali.
Amar dan Anne saling menoleh kemudian tergelak. Nafisa sudah berkeringat dingin. Ia penasaran, kenapa dua orang itu seperti begitu percaya diri.
__ADS_1
"Sudahlah, Mas, berhenti berkelit. Kamu sudah tahu semuanya. Bahkan siapa ayah dari bayi yang Nafisa kandung pun kami sudah tahu," ucap Anne sambil terkekeh sinis.
"Sebenarnya apa yang kalian ucapkan? Jangan sembarangan bicara. Kapan aku dan Mas Budi menjalin hubungan? Jangan asal menuduh. Kalian bisa aku laporkan ke polisi karena sudah memfitnah kami tanpa bukti," sergah Nafisa yang sudah berdiri. namun keringat dingin sudah mengucur deras di pelipisnya.
"Kau ingin laporkan kami ke polisi, jalaang? Silahkan! kami tak masalah. Kalian pikir kami menuduh kalian tanpa bukti? Heh, justru karena kami memiliki bukti jadi kami bisa bicara seperti ini. Dan kau Mas, aku tak menyangka kau bisa sekotor ini. Selama ini aku berusaha bertahan dan bersabar meskipun kau kerap berlalu kasar padaku, tapi tidak untuk perselingkuhan. Diam-diam kau menjalin hubungan dengan jalaang itu sampai hamil. Sudah cukup aku bertahan. Kali ini aku menyerah."
Setelah mengucapkan itu, Anne melirik Amar kemudian mengangguk. Amar pun balas mengangguk. Kemudian Amar menepuk tangannya beberapa kali. Setelahnya, tiba-tiba layar televisi yang tergantung di dinding menyala.
Mata Nafisa dan Budi seketika terbelalak saat melihat apa yang ditampilkan di layar tersebut. Itu adalah video pergumulan panas mereka. Entah kapan video itu diambil, Budi dan Nafisa tidak tahu. Namun dari pakaian yang mereka kenakan, itu pasti sepulang mereka bekerja.
Tapi ... Bagaimana bisa? Siapa yang merekam kegiatan panas mereka itu?
Tubuh Budi dan Nafisa reflek menegang kaku. Peluh sebesar biji jagung sudah mengucur deras di sekitar wajah mereka.
"Mas, Mas, padahal di video itu jelas-jelas menampilkan wajah kamu, tapi masih saja kau ingin berkelit," ucap Anne seraya tergelak.
"Sayang, kau tak tahu, zaman sekarang baik video maupun foto bisa dimanipulasi. Mana myaku mengkhianatimu. Sungguh."
"Mas, Budi benar," sela Nafisa tiba-tiba. Lalu ia berdiri di samping Amar dan menarik lengannya. "Mas Amar, kenapa kau lakukan itu? Kenapa kau justru membulak-balikan fakta. Padahal itu video kita, tapi kau justru mengeditnya dengan wajah Mas Budi. Apa ini caramu untuk mangkir tanggung jawab? Iya?" pekik Nafisa dengan berderai air mata. Amar sampai membulatkan matanya saat melihat respon Nafisa yang sungguh di luar dugaan. Ia pikir kedua manusia itu akan merasa malu luar biasa karena boroknya yang selama ini tersimpan dengan rapi, bisa terkuak begitu saja di hadapan mereka semua.
"Kau gila!" pekik Amar sambil menunjuk wajah Nafisa.
__ADS_1
"Iya, memang aku sudah gila. Aku gila karena kau tidak mau bertanggung jawab atas perbuatanmu," pekik Nafisa. "Mbak Aliyah, Mbak, yang divideo itu sebenarnya aku dan Mas Amar. Aku nggak tahu, kapan Mas Amar merekam itu. Sepertinya Mas Amar sengaja melakukannya untuk menjebakku bila suatu saat aku meminta pertanggungjawabannya," ujar Nafisa yang sudah berjongkok di depan Aliyah dengan air mata berderai.
Aliyah yang sejak tadi diam seketika mengangkat wajahnya dan tersenyum manis. Namun senyuman itu justru terlihat mengerikan di mata Nafisa.
"Kau pikir sudah berapa lama aku mengenal suamiku? Bahkan dengan sekali lihat saja aku bisa melihat itu bukanlah suamiku. Aku tidak bodoh, Nafisa. Jangan playing victim. Karena itu takkan mempan. Yang ada di video itu jelas-jelas bukan suamiku," desis Aliyah dengan rahang mengeras. Sorot matanya begitu tajam, menyiratkan amarah yang sudah memuncak. Lalu dengan cepat Aliyah meraih rambut Nafisa dan mencengkeramnya membuat Nafisa menjerit kencang. Sudah sejak tadi Aliyah ingin menampar dan menjambak rambut Nafisa, tapi karena keterbatasannya, ia tidak bisa melakukannya. Mumpung orangnya sedang berada di depannya, Aliyah pun tak akan menyia-nyiakan kesempatan. "Berani-beraninya kau ingin memfitnah suamiku, hah? Sepertinya kau begitu ingin menghancurkan rumah tanggaku? Takkan aku biarkan!" desisnya lagi lalu ia melepaskan cengkraman itu sedikit kasar membuat Nafisa seketika terduduk.
Sebenarnya ia ingin melakukan dengan sedikit kasar, tapi ia tak ingin mencelakakan bayi yang ada di dalam kandungan Nafisa. Bila ia melakukan itu, bukan tidak mungkin Nafisa mengalami keguguran dan dirinya yang berakhir di penjara. Meskipun ia benar-benar emosi, tapi sebisa mungkin ia mengendalikan emosinya agar tidak merugikan dirinya sendiri.
"Awww ... Brengsekkk!" umpat Nafisa kesal.
"Sudahlah. Berhenti bersandiwara," sela Anne. Kemudian ia mengeluarkan berkas dari dalam tasnya. "Dan kau Mas, aku sudah mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan agama. Mungkin sebentar lagi undangan sidang akan sampai padamu. Aku harap kita bisa menyelesaikan masalah ini baik-baik. Namun bila kau tidak mau, tanggung sendiri risikonya. Video ini pasti akan sampai ke tangan pihak pengadilan. Dan kau tahu sendiri apa yang akan terjadi selanjutnya, kau dan selingkuhanmu itu akan ditangkap polisi atas kasus perzinahan. Terserah kau mau memilih yang mana, pisah baik-baik atau ... Berakhir menjadi pesakitan di penjara," ujarnya sambil menyeringai sinis. Anne merasa amat sangat lega setelah menyampaikan itu. Apalagi saat melihat ekspresi Budi dan Nafisa yang menegang. Benar-benar membuatnya begitu puas. "Oh ya, satu lagi, segera bereskan barang-barangmu karena kau sudah tidak memiliki hak tinggal di rumahku!" tegasnya membuat Budi menelan ludahnya sendiri. Ia benar-benar bingung. Ia bagaikan makan buah simalakama. Ingin rasanya ia berteriak tidak ingin menceraikan Anne, tapi ancaman Anne sukses membuatnya bergidik ngeri. Ia tak mau berakhir menjadi pesakitan di penjara. Ia menoleh ke arah Nafisa. Ia pun menggeleng pelan yang artinya ia pun bingung harus berbuat apa sebab ia pun tak ingin berakhir di penjara.
Budi yang emosi, lantas segera mendekat ke arah Amar.
"Ini semua karenamu. Puas, kau! Puas sudah menghancurkan rumah tanggaku!" pekik Budi yang justru menyalahkan Amar atas segala yang ia alami.
"Hei, bro, santai! Kenapa kau justru menyalahkan ku? Memangnya apa yang sudah aku lakukan?" cibir Amar seraya terkekeh. "Seharusnya kau instrospeksi diri. Apa yang kau alami, merupakan buah perbuatanmu sendiri."
Setelah mengucapkan itu, Amar pun segera beranjak berdiri di belakang kursi roda Aliyah dan dengan perlahan mendorongnya.
Ia pun segera beranjak dari sana, diikuti Anne yang tersenyum puas sambil melirik Nafisa yang terdiam tak berdaya.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...