
Gita pulang ke rumahnya dengan perasaan bergemuruh. Bagaimana ia tidak marah, ia baru tahu kalau kartu kreditnya ternyata sudah benar-benar diblokir. Sementara tabungannya sudah tidak seberapa lagi.
"Aaargh ... brengsekkk! Tua bangka sialan. Awas kau! Semoga kau segera membusuk di dalam penjara!" raung Gita sambil melepaskan barang-barang yang ada di dekatnya.
Baru saja ia hendak duduk, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Dengan kekesalan yang membuncah, ia pun membuka pintu. Wajahnya ditekuk masam. Ternyata yang mengetuk pintunya adalah seorang kurir.
"Ya, ada apa?" tanya Gita ketus.
"Ini Bu, ada surat dari pengadilan," ujar laki-laki tersebut.
Gita pun mengambil amplop coklat itu dengan kasar dari tangan pria tersebut. Setelahnya ia diminta menandatangani surat tanda terima. Setelah selesai, tanpa basa-basi, Gita langsung masuk dan membanting pintu dengan keras. Kurir tersebut sampai terperanjat kaget. Ia pun segera mengusap dadanya yang berdegup kencang akibat ulah Gita tersebut.
"Dasar, wong edan!" omelnya sambil menggelengkan kepala. "Wajar aja dicerein suami, lah sikapnya aja kayak Dajjal," imbuhnya lagi sambil naik ke atas motor dan mengenakan helmnya. Setelahnya, ia menyalakan motornya dan melakukannya ke tempat lain.
Sementara itu, di dalam rumahnya, Gita melotot dengan tatapan amarah dan kebencian. Armand memang telah menalaknya, tapi ia tidak menyangka akan mendapatkan surat cerai lagi. Ini merupakan kali kedua ia diceraikan. Ia benci. Ia marah. Lagi-lagi ia menjadi janda. Namun kemarahan itu tidak bertahan lama, sebab sejuta rencana telah muncul di otaknya. Kalau Gita digambarkan sebagai tokoh kartun, maka di atas kepalanya akan muncul lampu yang berpijar cerah. Menandakan kalau ia justru senang dan tak sabar ingin merealisasikan rencananya tersebut.
"Cerai? Baguslah. Kau pikir aku akan menderita setelah kau ceraikan, Mas. Hahahaha ... Tidak sama sekali. Bukankah ini kesempatan emas untuk mendapatkan laki-laki yang lebih lagi? Lebih kaya yang pastinya," gumamnya seolah begitu yakin bisa mendapatkan laki-laki yang lebih kaya dibandingkan Armand.
...***...
Gita tampak sedang bersantai di ruang tamu. Bibirnya tak henti-henti mengunyah sambil menonton televisi. Hingga tiba-tiba matanya tertarik pada berita terkini. Di layar televisi diberikan ditemukan jasad seorang perempuan hamil yang diduga merupakan korban pembunuhan di sebuah rumah kontrakan. Namun tidak ditemukan identitas apapun di rumah tersebut membuat polisi kesulitan mengindentifikasi korban.
"Ck ... Paling yang bunuh selingkuhannya. Si laki nggak mau tanggung jawab terus berakhir dibunuh. Dasar bodoh. Makanya cari laki yang pinter. Kalo gini kan dapatnya zonk. Benar-benar bodoh," omelnya tanpa merasa iba sedikitpun.
Saat sedang asik menonton, tiba-tiba terdengar beberapa kendaraan berhenti tepat di depan rumahnya. Awalnya Gita acuh tak acuh. Namun ia mulai penasaran saat pintu rumahnya diketuk.
"Siapa sih? Ganggu orang istirahat saja," gerutu Gita yang segera beranjak dengan kaki menghentak.
Matanya menyipit sesaat setelah pintu dibuka. Di hadapannya telah berdiri beberapa orang laki-laki bertubuh tinggi besar dengan raut wajah tegas membuat Gita jadi salah tingkah sendiri. Gita tidak menyadari kalau beberapa orang tersebut merupakan polisi sebab mereka hanya mengenakan kaos polo yang dibalut jaket kulit serta celana panjang jeans.
"Benar ini kediaman sodari Nafisa?" tanya salah seorang dari mereka membuat Gita mengernyit.
"Ya, benar. Saya ibunya. Ada apa ya? Kalian siapa?" tanya Gita penasaran. Nafisa sedang tidak ada di rumah. Entah kemana dia. Kemungkinan hanya ada dua, pertama ia menginap di rumah laki-laki yang menghamilinya dan kedua di kontraknya. lantas, kenapa orang-orang ini mencari anaknya? Apakah yang sebenarnya terjadi?
"Anda benar ibunya?" tanyanya memastikan. Gita pun mengangguk cepat.
"Kami adalah petugas kepolisian. Kedatangan kami kemari ingin mengabarkan kalau sodari bernama Nafisa telah ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di rumah kontrakannya. Kami tidak menemukan identitas lain di kontrakan. Dari itu, kami ingin Anda ikut kami guna memastikan kalau jenazah tersebut benar-benar Nafisa, putri Anda."
__ADS_1
Jeduar ...
Gita bagaikan kejatuhan beban seberat ribuan ton. Ia benar-benar shock mendengar apa yang barusan orang ini sampaikan.
Gita menggeleng dengan cepat, "tidak. Kalian pasti salah. Tidak mungkin anak saya meninggal. Jangan sembarangan bicara kalian!" sentak Gita yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan petugas tersebut.
Gita lantas membalikkan badannya cepat membuat para petugas tersebut heran. Ternyata Gita masuk untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Nafisa. Tapi setelah dihubungi berkali-kali, ternyata nomor milik putrinya tersebut tidak aktif.
Gita mere mas rambutnya kasar. Jantungnya berdegup dengan kencang. Tubuhnya berkeringat dingin. Ia benar-benar takut kalau apa yang orang-orang tersebut sampaikan benar.
"Nggak, nggak, itu nggak mungkin. Fisa pasti masih hidup. Putriku masih hidup. Tidak mungkin Fisa meninggal begitu saja. Itu mungkin terjadi," pekiknya kalut.
Singkat cerita, akhirnya Gita berhasil dibujuk pergi ke rumah sakit untuk memastikan kalau jasad tersebut benar-benar Nafisa. Setelah sampai di kamar jenazah, kain putih yang menutupi seluruh tubuh Nafisa pun disingkap. Gita berteriak histeris. Ia mengguncang-goncang tubuh Nafisa untuk membangunkannya.
"Fisa, ayo bangun, Nak! Kamu masih hidup kan. Jangan bercanda, Fisa, ini tidak lucu! Ayo Nak, buka matamu! Ini mama, Fisa, bangun cepat! Nafisa, buka matamu cepat! Nafisa ... " teriak Gita histeris.
Petugas sampai menjauhkan Gita dari sana agar Gita tidak berbuat nekat. Apalagi Gita sampai mengguncang-goncang tubuh Nafisa, sementara mereka belum selesai melakukan otopsi.
Karena terlalu shock, akhirnya Gita jatuh tak sadarkan diri. Ia benar-benar terguncang dengan apa yang terjadi.
...***...
Anne yang sedang menonton televisi dan melihat berita tersebut benar-benar terkejut. Ia tidak menyangka laki-laki yang sebentar lagi resmi sebagai mantan suaminya itu tega membunuh kekasihnya sendiri. Anne tidak mengerti, mengapa Budi sampai melakukan itu. Namun hasil dugaan sementara, hal itu disebabkan Nafisa yang menuntut pertanggungjawaban Budi atas kehamilannya.
Tak jauh berbeda dengan Anne, Amar dan Aliyah pun terkejut bukan main setelah melihat berita tersebut.
"Innalilahi wa ina'ilaihi raji'un," ucap Aliyah sambil menutup mulutnya setelah melihat berita tersebut. "Mas," panggil Aliyah pada Amar yang duduk di sebelahnya.
"Hmmm ... " Amar mengeratkan pelukannya di pinggang Aliyah.
"Bagaimana perasaan, Mas?"
Amar menoleh Aliyah dengan dahi berkerut. Kebetulan mereka hanya berdua saja di rumah itu sebab ketiga anaknya sedang jalan-jalan dengan Bunda Naima dan pak Akmal.
"Maksudnya?" tanya Amar bingung.
"Itu ... di berita itu perempuan itu kan?" tanya Aliyah dengan wajah cemberut.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?"
"Mas nggak merasa sedih, gitu? Bagaimanapun kalian kan ... "
Amar seketika terkekeh. Ia paham maksud Aliyah. Ia lantas mengecup bibir cemberut Aliyah gemas.
"Sedih sih tidak, hanya saja simpati. Bagaimanapun dia pernah menjadi rekan kerja yang baik. Tapi mengingat apa yang sudah dia lakukan, simpati itu lenyap begitu saja. Namun ya sudahlah, semua sudah menjadi masa lalu. Tak perlu diingat-ingat lagi."
"Baguslah. Tapi kasihan juga ya, Mas? Aku benar-benar nggak nyangka kalau dia bakal berakhir seperti itu."
"Mas pun juga. Beruntung Mas sadar sebelum terlambat, kalau tidak, entah apa yang akan terjadi pada Mas. Maafkan atas perbuatan Mas di masa lalu ya, Sayang," ucapnya sambil menatap netra teduh Aliyah.
"Udah ah, Mas, bahas itu terus. Semua sudah berlalu. Yang penting Mas sudah tidak melakukan kesalahan itu lagi. Hanya saja kalau sampai Mas melakukan kesalahan yang sama, Aliyah nggak akan maafin Mas lagi, ingat itu!" tegas Aliyah dengan sorot tajam mengintimidasi.
Amar lantas mengeratkan pelukannya dan mencium pipi Aliyah, "iya, iya, Sayang. Kamu nggak perlu khawatir. Mas nggak akan mengulangi kebodohan yang sama. Mas nggak mau kehilangan kamu lagi."
"Bener ya!"
"Iya, bener. Sayang."
"Hmmm."
"Ke kamar yuk!"
Aliyah lantas menoleh, "ngapain?"
"Anatomi tubuh."
"Anatomi tubuh?"
"Ya, Mas mau anatomi tubuhmu. Boleh ya?"ujar Amar dengan mata mengerling genit.
"Ck ... " Aliyah berdecak, namun ia mengangguk malu-malu membuat Amar tersenyum lebar. Ia pun segera meraih Aliyah ke dalam gendongannya untuk memulai pelajaran anatomi tubuh.
...***...
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...
__ADS_1