Penyesalan Anak Dan Suami

Penyesalan Anak Dan Suami
PAS 38


__ADS_3

...❤️MY LOVELY HUSBAND BIRTHDAY ❤️...


Mata Amar terbelalak. Ia pikir dering tadi merupakan panggilan masuk atau pesan masuk, tapi ternyata suara tadi merupakan bunyi alarm pengingat yang ada di ponsel Aliyah. Yang makin membuatnya sesak adalah meskipun ia kerap mengabaikan Aliyah, tapi perempuan itu tidak pernah melupakan dirinya. Bahkan hari ulang tahunnya pun selalu diingat. Untuk mencegah lupa, Aliyah bahkan membuat pengingat di ponselnya. Begitulah Aliyah, ia selalu mengingat dan memperhatikan kebutuhannya hingga ke hal yang terkecil.


Amar terduduk lemas di ruangan cukup besar namun bersekat antara pasien satu dengan pasien lainnya. Ruangan itu memang tidak ditempati istrinya sendiri, tapi ada pasien lain yang juga butuh pengawasan ekstra.


Amar menangis terisak. Teringat ulang tahunnya di dua tahun terakhir. Dua tahun yang lalu, Aliyah menyiapkan kejutan ulang tahun untuknya. Seperti biasanya, Aliyah memang kerap menyiapkan kejutan ulang tahun untuknya. Tidak mewah. Hanya ada sebuah kue brownies kukus buatan dirinya. Ia memang senang membuat brownies kukus. Amar dan anak-anak memang menyukai brownies kukus buatan Aliyah. Dengan hiasan sederhana yaitu taburan meses coklat dan parutan keju sudah terasa nikmat di lidah mereka.


Namun dua tahun yang lalu, Amar justru menghardik Aliyah yang hanya bisa melakukan itu-itu saja. Meskipun hari itu Aliyah juga memberinya sebuah kado, sebuah dasi, tapi Amar bukannya berterima kasih, ia justru menghina pemberian Aliyah yang ia anggap norak. Amar masih ingat ekspresi kesedihan Aliyah saat itu. Mengingatnya, membuat dada Amar perih. Bagaimana ia bisa begitu tega pada Aliyah. Padahal dirinya sendiri saja sudah sekian tahun tidak memberikan Aliyah sebuah kado ataupun hadiah yang mana bisa menyenangkan istrinya itu. Jangankan memberikan sebuah kado, sebuah ucapan selamat ataupun doa pun tak pernah ia berikan lagi. Namun diantara keterbatasannya, Aliyah masih selalu mengusahakan untuk menyenangkannya. Bahkan ia rela menjadi buruh cuci demi memberikan makanan enak padanya dan anak-anaknya. Tapi ia memang laki-laki brengsekkk, bukannya bersyukur karena sang istri masih mengingat hari spesialnya, tapi ia justru menghardiknya dengan kata-kata pedas dan kasar.


Lalu hari ulang tahunnya tahun lalu pun melintas di benaknya. Bagaimana ia justru lebih memilih menghabiskan waktu dengan berkumpul bersama teman-temannya. Ia mentraktir mereka semua. Bahkan ia mengajak Nafisa makan malam di sebuah restoran yang cukup mewah. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan pada Aliyah. Jangankan restoran, makan bakso di luar bersama pun sudah sangat lama tidak ia lakukan. Ia selalu beralasan anak-anak masih kecil. Bikin repot. Riweh. Ditinggal juga tidak mungkin. Jadi Amar lebih memilih makan sendiri. Benar-benar sendiri. Bahkan pulangnya pun Amar tidak membelikan untuk Aliyah. Ia ingat ekspresi kecewa Aliyah saat melihat suaminya pulang makan bakso dengan tangan kosong. Tanpa perlu bertanya, ia paham, Amar tidak membelikan bakso untuknya. Amar hanya mempedulikan perutnya sendiri.


Amar pulang dari makan malam dengan Nafisa setelah hari cukup larut. Tampak malam itu begitu sunyi. Amar tidak tahu kalau Aliyah dan anak-anak telah menanti kepulangannya sejak tadi, tapi karena tidak ada tanda-tanda kepulangan Amar, Aliyah pun memutuskan memotong kue buatannya tersebut untuk dibagikan dengan anak-anaknya. Apalagi anak-anaknya sudah tak sabar menyantap kue buatan ibunya tersebut. Jarang-jarang ibunya membuat kue. Semua karena keuangan yang terbatas. Jadi Aliyah tidak bisa sering-sering membuatkan kue. Untuk membelikan pun Aliyah butuh banyak pemikiran.


Amar sama sekali tidak tahu. Ia lupa kalau istrinya tersebut selalu menyiapkan kejutan untuknya. Ia baru tahu saat membuka kulkas dan terlihat ada sepiring kue yang telah dipotong-potong. Namun bukannya merasa senang karena istrinya masih mengingat hari ulang tahunnya, Amar justru bersikap acuh tak acuh. Seakan tidak pernah terjadi apapun.

__ADS_1


Amar tergugu di ruangan nan sunyi tersebut. Ia membekap mulutnya agar tidak menggangu pasien yang ada di bilik sebelah. Amar baru sadar kalau ia memang begitu brengsekkk selama ini.


"Kamu memang brengsekkk, Mar. Benar-benar brengsekkk," makinya pada diri sendiri.


Dua hari berselang akhirnya operasi pun dilakukan. Tampak Amar dan kedua orang tua Aliyah menunggu kabar hasil operasi dengan perasaan was-was. Detik berganti menit, lalu menit berganti jam. Sudah hampir 5 jam berlalu, tapi lampu tanda operasi sedang berlangsung belum juga padam. Artinya kegiatan operasi masih berlangsung. Entah kapan akan selesai, tidak ada kepastian.


Amar paham, pasti tidak mudah melakukan operasi kali ini. Bahkan dokter yang terlibat pun tidak sedikit. Hal ini diakibatkan penyakit Aliyah yang bukan hanya satu. Operasi yang dilakukan pun tidak sesederhana itu. Butuh perjuangan dan konsentrasi ekstra. Amar, orang tua Aliyah, bunda Naima, bahkan Nana yang juga menantikan kabar di rumah tak henti-hentinya berdoa. Memohon kelancaran operasi dan kesembuhan Aliyah.


Beberapa jam kemudian, akhirnya lampu tanda operasi berlangsung padam. Dengan jantung berdebar, Amar pun bergegas berdiri, menunggu pintu ruang operasi terbuka. Menanti kabar dari sang dokter mengenai keadaan Aliyah.


"Dokter, bagaimana keadaan istri saya? Apakah operasinya berjalan lancar?" cecar Amar saat sang dokter keluar dari ruang operasi.


Selesai operasi, Aliyah masih belum bisa ditemui. Aliyah masih harus menjalani observasi sehingga tidak bisa ditemui terlebih dahulu. Dengan sabar Amar menunggu kabar terbaru.


Kedua orang tua Aliyah awalnya memang sangat marah dan benci pada Amar, tapi melihat bagaimana perjuangan Amar untuk kesembuhan Aliyah berhasil mengetuk pintu hati keduanya. Mereka sadar, setiap manusia pasti memiliki kesalahan. Tak ada yang luput dari salah dan khilaf. Allah saja maha pemaaf, betapa sombongnya mereka bila tidak bisa memaafkan kesalahan orang-orang yang sudah benar-benar bertobat.

__ADS_1


"Abah, sudah masuk ashar, mau ke mushola bareng?" tanya Amar pada sang ayah mertua.


Abah Ahmad mengangguk, "Emak mau bareng atau nanti saja sholatnya?"


"Abah sama Amar saja dulu. Biar emak di sini. Bagaimana kalau dokter tiba-tiba cari kita terus kita tidak ada yang berbeda di sini satupun."


Abah Ahmad setuju dengan perkataan sang istri, "ya sudah, Abah sama Amar ke mushola dulu ya."


Emak Laila mengangguk. Ia lantas kembali duduk di tempatnya semula. Namun tiba-tiba terdengar kegaduhan dari dalam ruangan yang belum lama anaknya di operasi di dalam sana. Sontak saja Emak Laila berdiri tegang dengan jantung berdegup kencang.


"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Emak Laila khawatir.


"Ibu Aliyah tiba-tiba mengalami kejang-kejang. Maaf, kami harus segera memanggil dokter terlebih dahulu," tukas salah seorang perawat yang bertugas menjaga Aliyah selama pasca selesai operasi.


Emak Laila terduduk lemas, "Aliyah, emak mohon, bertahanlah. Bila bukan demi emak, Abah, ataupun suamimu, minimal demi anak-anakmu. Berjuanglah, Sayang."

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...


__ADS_2