Penyesalan Anak Dan Suami

Penyesalan Anak Dan Suami
PAS 74


__ADS_3

"Fisa, bagaimana dengan laki-laki itu? Apa kau sudah menghubunginya?" tanya Gita yang begitu mengkhawatirkan kehamilan Nafisa. Ia tak ingin anaknya dicap perempuan murahan bila tak kunjung menikah, sementara kehamilan Nafisa pasti akan semakin terlihat jelas.


Nafisa menghela nafas kasar, "Mas Budi tidak bisa aku hubungi, Ma."


Gita Oun mendengkus kasar, "kenapa kau tidak datangi rumahnya? Bukankah katamu istrinya akan mengajukan gugatan cerai. Mama yakin, pasti dia sedang berusaha mempertahankan istrinya, makanya dia menghindarimu. Kau harus segera bergerak, jangan sampai dia jadi berbalik mempertahankan istrinya dan membuang mu. Bagaimana dengan kandunganmu bila kau tak kunjung menikah dengannya."


Nafisa tampak menimbang. Akhirnya ia setuju. Ia pun bergegas bersiap untuk menemui Budi di rumahnya.


...***...


Beberapa hari kemudian, akhirnya surat pemanggilan dari kepolisian keluar. Armand memang belum ditetapkan sebagai tersangka, tapi Armand dipanggil untuk mengikuti serangkaian proses pemeriksaan. Namun karena Armand sedang tidak ada di rumah dan keberadaannya pun tidak diketahui, pemanggilan pun ditunda.


Saat itu, Gita tentu saja tersenyum bahagia. Ia berharap Armand kelak benar-benar dipenjara dalam waktu yang lama. Bahkan Gita juga sudah berencana menjual rumah itu dan mengambil seluruh harta Armand, setelah itu pergi sejauh-jauhnya agar saat Armand keluar dari penjara, ia sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Bisa saja kan suatu hari nanti Armand berniat membalas dendam padanya. Jadi ia pun sudah merencanakan kepergiannya.


Sementara itu, setelah mendapatkan pencerahan dari temannya, Herman, Armand berencana menyerahkan diri ke polisi. Ia sudah mengetahui perihal pemanggilan tersebut. Tapi sebelum itu, ia hendak mengurus berkas-berkas perceraiannya sekaligus menemui Naima dan anak-anaknya. Entah mereka masih menolak kedatangannya atau menerima, yang penting ia akan berusaha terlebih dahulu.


Armand pulang ke rumahnya terlebih dahulu. Keadaan rumah begitu sepi, Armand yakin kalau saat ini Gita sedang tidak ada di rumah. Jadi ia pun segera masuk untuk mengambil berkas-berkas penting termasuk berkas untuk mengurus perceraiannya.


Saat sedang mencari berkas-berkas penting, Armand menyadari kalau sertifikat kepemilikan rumahnya tidak ada di tempat. Armand menggeram marah. Ia yakin, kalau Gita berencana menjual rumahnya. Menimbang Gita sudah menjadi istrinya selama bertahun-tahun, Armand pun memilih mengikhlaskan. Namun tidak untuk yang lain.


Setelah mengurus perceraiannya, Armand terlebih dahulu mampir ke bank untuk memblokir kartu kredit Gita. Bagaimanapun ia akan bercerai. Ia tak ingin menanggung utang-utang kartu kredit Gita. Terserah bagaimana nasib Gita setelahnya, toh ia sudah mendapatkan rumah. Mereka juga tidak memiliki anak. Jadi ia tidak perlu memberi Gita harta yang berlebih. Apalagi semenjak menikah dengan Gita, karirnya tak pernah menanjak lagi. Keuangannya terbatas. Terlebih gaya hidup Gita yang hedon membuat tabungannya bukannya bertambah, justru stuck di tempat. Armand merasa miris sendiri. Namun inilah konsekuensinya menikahi Gita.


...***...


Kini Gita sedang berada di pusat perbelanjaan. Tepatnya ia sedang berada di salah satu toko tas ternama. Ia tadi baru saja janjian dengan temannya yang akan membantu menjualkan rumahnya. Setelah bertemu, ia pun bertolak ke toko tas. Di pusat perbelanjaan, Gita berpapasan dengan beberapa orang teman arisannya. Jadi mereka pun masuk ke dalam toko tas bersama. Tak ada salahnya pikirnya membeli tas yang harganya mahal toh selama ini setiap kali ia belanja, tagihannya ditanggung Armand.


"Bu Gita, serius kamu mau beli tas ini?"


"Memangnya kenapa?"


"Harganya lumayan mahal lho."


"Maksudmu aku tak punya uang, begitu?" Gita tersinggung.

__ADS_1


"Aku nggak bilang begitu lho. Aku tuh cuma sayang aja duitnya. Kamu kan belum lama beli tas. Sekarang udah mau beli lagi, kamu tahu nggak, setiap barang yang kita miliki itu ada hisabnya dan akan kita pertanggung jawabkan di akhirat kelak."


"Bilang aja kamu iri," cibir Gita membuat temannya itu menghela nafas.


"Udah, biarin aja. Taulah dia sombongnya kayak gimana," ujar teman lainnya pelan. Wanita pun mengangguk. Lalu mereka memilih melihat-lihat aksesoris tas yang lucu.


Sementara itu, Gita pun segera membawa tas pilihannya ke meja kasir dan meletakkannya. Kasir pun segera memproses pembelian Gita.


"Harganya Rp 78.000.000, Bu," ujar sang kasir.


Dengan wajah angkuhnya, Gita mengeluarkan credit cardnya dan menyerahkannya pada kasir.


Sang kasir mencoba menggesekkan kartu kredit tersebut ke mesin EDC di depannya, namun setelah berkali-kali dicoba, kartu tersebut tidak dapat memproses pembelian.


"Maaf Bu, ada kartu yang lain? Kartu ini tidak bisa dipakai transaksi," tanya kasir itu ramah.


Dahi Gita berkerut, "tidak mungkin. Coba sekali lagi?"


"Mana mungkin itu terjadi. Semalam saja aku masih bisa gunakan kok," Gita tetap kekeh tidak mau mengalah.


"Maaf Bu, tapi kartu ibu memang tidak terbaca."


"Kau ini pasti pegawai baru kan? Saya sudah langganan di toko ini, bagaimana mungkin kartuku tidak bisa digunakan," sentak Gita.


Karena Gita tetap berkeras kartunya pasti bisa digunakan. Bahkan ia memaki kasir tersebut dan mengatakannya bodoh membuat atensi beberapa pengunjung beralih kepada mereka. Jadi manager toko tersebut pun akhirnya turun tangan. Setelah mencoba beberapa kali, kartu tersebut ternyata benar-benar tidak bisa digunakan. Menurut sang manager yang sudah lebih berpengalaman akan kejadian serupa, ia pun menerangkan kalau kartu kreditnya kemungkinan besar sudah diblokir.


Wajah Gita merah padam. Ia malu bukan kepalang. Apalagi temannya tadi masih berada di sana. Dengan terpaksa, Gita pun mengeluarkan kartu debitnya. Padahal saldonya tidak begitu banyak lagi. Gaya hidupnya yang hedon membuat sebanyak apapun ia g yang Armand berikan tidak pernah bisa bertahan lama di tangannya.


Setelah melakukan pembayaran, Gita pergi secepat mungkin. Ia khawatir teman-temannya tadi mengatasi dirinya karena kartu kreditnya yang tidak bisa digunakan.


Sementara itu, di tempat lain tampak Armand mengucapkan salam di depan sebuah rumah. Itu adalah rumah Armand. Tak lama kemudian, pintu pun terbuka.


"Maaf, ada Naima atau Amar?" tanya Armand pada Bi Lela yang membukakan pintu.

__ADS_1


"Maaf pak, pak Amar sekeluarga sudah berangkat pagi-pagi sekali ke Surabaya," ujar Bi Lela.


"Surabaya?" beo Armand. Ia bingung kenapa Amar dan yang lainnya pergi ke sana.


Bi Lela yang sudah tahu siapa itu Armand pun menjelaskan, "adik pak Armand akan melahirkan jadi mereka sekeluarga pergi ke sana."


Armand mengingat Amara, anak perempuannya yang dulu begitu dekat dengannya. Bahkan saat ia akan pergi, Amara menangis kencang dan melarangnya pergi. Tapi dengan teganya ia pergi meninggalkan anak perempuannya itu begitu saja. Amara pun mengejar mobilnya sampai terjatuh, tapi ia bergeming dan melajukan mobilnya begitu saja tanpa menoleh lagi.


Mengingat kekejamannya di masa lalu, membuat Armand tergugu. Bagaimana bisa ia begitu tega dengan anak kandungnya sendiri dan memilih anak wanita lain. Sungguh, Armand amat sangat menyesali perbuatannya di masa lalu.


Setelah dari rumah Amar, Armand pun bertolak menuju kantor polisi untuk menyerahkan diri. Ia menitipkan barang-barang berharganya yang tidak seberapa dengan Herman sebab ia tahu Herman dapat ia percaya.


Akhirnya, mulai hari itu Armand resmi ditangkap setelah ia membenarkan segala tuduhan yang ditujukan padanya.


...***...


Berita penangkapan Armand sudah tersebar luas dimana-mana. Apalagi Armand dengan berani menyerahkan diri tanpa mencoba berkelit sama sekali. Karena kekerasan yang dilakukan Armand tidak berakibat fatal, vonis yang Armand dapatkan hanya 5 bulan saja.


Bahkan bunda Naima beserta anak-anaknya pun sudah mendengar berita tersebut.


"Kata bi Lela, ayah pernah datang ke rumahku, Bun. Tepat di hari kita berangkat ke Surabaya. Sepertinya sebelum menyerahkan diri, ayah ingin menemui kita," ujar Amar melalui sambungan telepon.


Bunda Naima diam tak bergeming. Hanya helaan nafas kasar saja yang terdengar di seberang sana.


"Ya sudah, itu risiko yang harus ia tanggung sendiri. Toh apa yang terjadi semua buah perbuatannya sendiri. Yang pasti, bunda takkan pernah menemuinya. Bunda dan dia sudah tidak memiliki hubungan apapun. Tapi terserah kalau kau dan Amara ingin bertemu. Bunda tidak akan melarang. Bagaimanapun, dia tetaplah ayah kalian. Ada darahnya yang mengalir di tubuhmu dan Amara," tutur Bunda Naima bijak.


"Entahlah, Bun. Rasanya Amar pun masih enggan bertemu dengan ayah. Apalagi saat mengingat bagaimana terpukulnya Amara saat itu. Ia sampai sakit berminggu-minggu dan tak mau berbicara selama berbulan-bulan sampai bunda akhirnya memutuskan kita pindah sekeluarga. Baru di tempat baru Amara perlahan kembali ceria," papar Amar yang begitu kecewa mengingat apa yang terjadi pada Amara setelah kepergiannya. Bahkan setelah pergi, Armand tidak sekalipun datang menemui mereka membuat Amara makin terpukul.


Seandainya saat itu Armand masih bersikap baik dan mau menemui mereka, pasti mereka takkan sampai sekecewa ini.


...***...


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2