
Amar dan keluarga kecilnya tampak sedang menikmati hidangan makan malam di pesta tersebut. Begitu pula anak-anaknya tampak begitu senang menyantap hidangan lezat yang disediakan di sana.
"Ayah, mau sate," ujar Nana yang tadi tak sengaja melihat ada tamu yang membawa sate dari meja prasmanan.
"Sate? Memangnya ada sate ya? Ayah kok nggak liat," sahut Amar sambil mengupasi udang dari kulitnya dan ia letakkan di piring Aliyah.
Nana mengangguk, "tadi ada yang ambil dari arah situ." Nana menunjuk ke arah meja prasmanan di sisi lain.
"Ya udah, ayah coba liat ya! Kamu tunggu di sini. Abang sama adek mau sate juga nggak?" tawar Amar.
"Mau, Yah, Abang mau."
"Adek duga hayu, Yayah," timpal Amri.
Amar pun mengangguk, lalu menoleh ke arah Aliyah.
"Kamu Yang, mau sate juga?" tawar Amar. Dipanggil sayang di depan anak-anak dan ibu mertuanya sontak saja membuat Aliyah tersipu.
"Nggak usah. Ini aja," tolaknya sebab di atas meja pun sudah terhidang berbagai menu. Ia tak ingin serakah dengan menyantap semua makanan yang tersedia. Kalaupun mau, dia bisa mencicip milik anak-anaknya nanti. Toh mereka juga makan tidak banyak.
Amar mengangguk, "kalau bunda?"
"Nggak usah. Ambilin buat anak-anak aja. Makan gini aja udah begah, apalagi ditambah sate," kekeh Bunda Naima.
Amar pun segera mengambilkan anak-anaknya sate ayam. Saat hendak menuju mejanya, ia melihat ada sate kerang. Amar ingat, Aliyah menyukai sate kerang jadi ia pun mengambilkannya.
Setelahnya, ia membawa dua piring berisi sate ayam dan sate kerang ke mejanya.
Amar tak henti-hentinya tersenyum. Ia senang sekali melihat wajah-wajah bahagia anak dan istrinya. Pun ibunya merasa bahagia karena akhirnya anak dan menantunya kembali bersatu.
"Mas, kamu makan aja dulu. Biar Amri aku yang suapin," ujar Aliyah sebab dari tadi Amar sibuk menyuapi Amri nasi. Sebenarnya Amri bisa makan sendiri, tapi kebiasaan anak itu adalah memakan lauknya terlebih dahulu sampai tandas baru nasinya terakhir. Namun tak jarang nasi ditinggalkan begitu saja dan Amri hanya menyantap lauk atau sayurnya saja. Oleh sebab itu, Amar berinisiatif menyuapinya nasi ke mulut Amri, sedangkan anak itu sedang sibuk memegang sate di tangan kanan dan kirinya.
Perasaan Amar membuncah tak terkira. Ia tak habis pikir kemana saja ia selama ini. Ia tak pernah menghabiskan waktu dengan anak-anaknya walau sekedar menyuapi ataupun menemani belajar. Sungguh Amar menyesal sudah menyia-nyiakan waktu dan kebersamaan dengan anak dan istrinya. Amar bertekad ingin menebus segala kesalahannya selama ini agar bisa berubah menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.
"Nggak papa, Sayang. Mas sudah banyak kehilangan waktu dekat kalian. Mas juga banyak melewatkan tumbuh kembang anak-anak. Kalau mas tidak melakukannya sejak sekarang, kapan lagi. Bisa kamu bayangkan 10 tahun kemudian, apa mungkin kita memiliki banyak waktu untuk bersama. Bisa jadi mereka akan sibuk dengan kepentingan dan kegiatan masing-masing. Apa mungkin mereka masih mau makan dari tangan kita. Untuk duduk bersama pun pasti rasanya akan sulit. Mas bersyukur, Mas belum terlambat menyadari kesalahan Mas. Mas ingin mengganti waktu yang pernah terlewat. Mas ingin menikmati masa-masa ini yang pastinya akan sangat kita rindukan kelak," ujar Amar panjang lebar.
Aliyah tercenung membenarkan ucapan sang suami.
"Kamu benar, Amar. Tak perlu jauh-jauh, cukup kamu yang bunda jadikan contoh. Saat kamu beranjak remaja, kamu akan sibuk bukan hanya dengan urusan sekolah, tapi kegiatan di luarnya. Berkumpul bersama teman. Mengikuti kegiatan ini itu sesuai hobi. Lalu beranjak dewasa kamu bukan hanya sibuk dengan urusan kuliah, bekerja, dan ... menghabiskan waktu dengan kekasih. Setelah menikah, kau pergi untuk fokus dengan keluarga kecilmu. Terkadang bunda begitu merindukan masa-masa kecil kalian. Apalagi saat sendiri, bunda kerap merasa amat sangat kesepian. Tapi bukan berarti bunda tidak ingin kalian maju. Tidak. Namun memang masa kanak-kanak kalian itu memang begitu bunda rindukan. Meskipun sempat merasa getir dalam perjalanannya, tapi tetap saja, ada kebahagiaan tersendiri bisa melihat tumbuh kembang kalian dengan mata kepala sendiri," tutur Bunda Naima membuat Amar tersenyum sendu.
__ADS_1
"Bila tadi Amar amat sangat berterima kasih pada Aliyah yang sudah setia menemani hingga di titik ini, maka kini Amar juga ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas segala perjuangan bunda. Tanpa bunda, apalah artinya Amar. Tanpa Bunda, dukungan bunda, doa-doa bunda, Amar yakin hidup Amar pasti akan sulit. Bahkan kembalinya Aliyah ke sisi Amar pun, Amar yakin itu tak lepas dari doa bunda. Terima kasih, bunda. Amar sangat menyayangi bunda," ujar Amar sambil tersenyum lembut.
Mata bunda Naima sampai berkaca-kaca mendengar ungkapan terima kasih sang putra.
"Doa seorang ibu itu selalu menyertai anak-anaknya. Seorang ibu itu pasti akan mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya. Begitu pula bunda. Duh, kenapa kita jadi acara mewek-mewek gini sih? Nanti orang-orang malah merasa heran, kok di meja kita pada nangis-nangis gini," ucap Bunda Naima sambil berseloroh. Ia menyeka sudut matanya yang basah dengan tisu yang Aliyah sodorkan.
Amar dan Aliyah terkekeh. Nana hanya jadi tim penyimak. Sedangkan Amar dan Gaffi masih sibuk mengunyah. Hingga tiba-tiba meja mereka dihampiri seseorang membuat semua orang di meja itu menoleh.
"Selamat malam. Maaf, menganggu kebersamaannya," ujar seseorang yang menghampiri meja Amar.
"Pak Akmal," seru Amar terkejut sebab laki-laki yang menghampiri meja mereka adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Amar sendiri jarang bertemu dengan pak Akmal sebab kantor tempatnya bekerja hanya salah satu cabang usaha yang dimiliki Pak Akmal. Jadi ia hanya akan bertemu bila pak Tommy mengajaknya untuk mengikuti pertemuan rutin bulanan guna melaporkan hasil kinerja mereka.
Pak Akmal tersenyum sembari mengulurkan tangannya.
"Selamat atas prestasi yang pak Amar capai. Saya sangat bangga melihat anak muda seperti Pak Amar yang bukan hanya sukses mendedikasikan dirinya dalam pekerjaannya dengan baik, tapi juga dengan keluarga. Terlebih Anda amat sangat mencintai istri Anda. Sungguh, bertahun-tahun saya berkecimpung di dunia bisnis, jikalau ada yang mendapatkan penghargaan seperti itu, ia justru hanya mengucapkan terima kasih sekadar basa basi. Bahkan lebih mengungkapkan kalau semua berkat kerja kerasnya semata tanpa mengingat sosok yang selalu setia mendukung di belakangnya. Sekali lagi selamat pak Amar," ujar pak Akmal yang memang menunjukkan kekagumannya.
"Itu memang sudah sepantasnya saya lakukan, Pak. Tanpa doa dan dukungan istri saya-Aliyah, anak-anak, dan juga bunda, mana mungkin saya bisa sampai ke titik ini. Oh iya, perkenalkan ini istri saya-Aliyah. Al, ini pak Akmal, pemilik perusahaan tempat Mas bekerja," ujar Amar seraya memperkenalkan atasannya pada Aliyah dan sebaliknya.
Aliyah menangkup kedua telapak tangannya di depan dada, "Aliyah, Pak. Salam kenal."
Pak Akmal pun mengikuti cara Aliyah dengan mengatupkan kedua telapak tangannya.
"Lalu ini bunda saya, Pak. Bun, ini pak Akmal, pemilik ... "
"Naima ... Naima, bukan?" cetus pak Akmal tiba-tiba membuat Amar terkejut saat sang atasan mengenal ibunya.
"Heh, aku pikir kau sudah lupa sama aku. Dari tadi aku sengaja diam mau lihat apa kau masih mengenali aku atau tidak," cibir bunda Naima membuat Pak Akmal terkekeh.
"Hahaha ... Kau bisa saja. Mana mungkin aku lupa. Walaupun kau sudah tampak menua, tapi aku tetap mengenali teman baikku satu ini. Oh Naima, akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi. Apa kabar?" ujar Pak Akmal sambil mengatupkan kedua telapak tangannya mengikuti cara Aliyah tadi.
Bunda Naima pun melakukan hal yang sama sembari tersenyum.
"Aku Alhamdulillah baik. Wah, aku tidak menyangka kau akan menjadi orang sesukses ini, Mal."
"Silahkan duduk, Pak," ujar Amar mempersilahkan Pak Akmal duduk di kursi yang berseberangan dengan sang bunda.
"Terima kasih," ujarnya. "Kau tidak perlu terlalu memuji. Aku hanya sekedar melakukan hobi. Mengisi hari-hariku supaya tidak sepi."
"Memangnya kemana anak istrimu?"
__ADS_1
Pak Akmal tersenyum sendu, "almarhumah istriku sudah pergi belasan tahun yang lalu. Sedangkan anakku satu-satunya sibuk dengan pekerjaannya sebagai dokter. Mana dia sudah berkeluarga membuatnya sangat sibuk dan hampir tidak memiliki waktu untukku," ujar pak Akmal lirih. Bunda Naima sampai tak enak hati mendengarnya.
"Maaf, aku tidak tahu."
"Tak perlu merasa tak enak hati. Biasa saja," sanggahnya. "Kalian hanya berenam?"
Bunda Naima paham maksud Pak Akmal, "ya. Kami hanya berenam. Anak perempuanku ada di kota A, tidak ikut kemari. Aku datang kemari karena merindukan cucu-cucuku dan menantu."
"Jadi bunda tidak merindukan anak bunda ini?" timpal Amar tiba-tiba membuat yang lain terkekeh.
"Untuk apa merindukan anak nakal sepertimu. Nggak penting."
"Wah, bunda ternyata pilih kasih, hm! Sungguh terlalu," seloroh Amar sambil mengeja kalimat sungguh terlalu ala-ala Rhoma Irama. Sontak saja Aliyah, Bunda Naima, dan Pak Akmal tergelak mendengarnya.
"Oh ya, apa suamimu sama seperti istriku, sudah ... "
"Tidak. Tapi anggap saja ia sudah tiada, tidak masalah."
Pak Akmal sontak melongo mendengar jawaban konyol bunda Naima.
"Nggak perlu pasang tampang pura-pura bego begitu, aku yakin, kamu pasti paham maksudnya. Dah lah ah, bahas yang lain saja."
"Ibu, mau bobok" ujar Amri yang sudah menguap.
"Abang juga," timpal Gaffi yang ikut menguap.
"Ya sudah, kita naik ke atas saja yuk. Bun, bunda masih mau mengobrol atau mau langsung ke kamar?" tanya Amar.
"Langsung ke kamar aja deh. Bunda juga udah lelah ini."
"Yah, kamu gimana sih, udah lama nggak ketemu kok aku malah ditinggal sendiri," ucap pak Akmal. "Tapi ya udah, nggak papa. Tapi aku bisa minta nomor telepon kamu?" Pak Akmal mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Bunda Naima.
Bunda Naima pun menerima ponsel tersebut dan mengetikkan nomor ponselnya.
Pak Akmal tersenyum. Kemudian mereka pun saling berpamitan satu sama lain.
...***...
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...
__ADS_1