
"Sudah selesai, Mbak?" tanya Amar pada seorang make up artist yang ia sewa untuk mendandani sang istri. MUA tersebut sengaja ia datangkan ke rumah agar Aliyah tidak perlu bersusah payah bepergian keluar. Ia ingin membuat Aliyah lebih percaya diri dengan penampilannya yang tak biasa. Amar tahu, Aliyah merasa kurang percaya diri apalagi dengan keadaan kakinya saat ini. Oleh sebab itu, Aliyah mendatangkan MUA untuk mendandaninya. Ia juga membelikan Aliyah gaun indah beserta pashminyanya untuk Aliyah kenakan malam ini.
MUA tersebut tersenyum lebar, "sudah, Mas. Silahkan dilihat istrinya. Mas hebat, istrinya benar-benar cantik. Tapi emang cocok sih sama Mas nya yang ganteng," puji sang MUA jujur. "Apalagi seperti si Mbak nya jarang make up'an jadi setelah di make up, wajahnya kelihatan lebih bersinar. Cantik banget," imbuhnya membuat Amar kian tak sabar ingin melihat wajah cantik sang istri setelah dipoles oleh sang MUA.
"Bisa mbak tolong make up bunda dan anak perempuan saya sekalian. Kalau untuk anak perempuan saya, tolong yang simpel aja ya. Biar keliatan lebih segar aja."
"Oh, kalau itu jangan khawatir. Saya bisa menyesuaikan kok. Kalau begitu, saya ke ibunya dulu ya, Mas."
Amar mengangguk. Setelah sang MUA berlalu, Amar pun segera masuk ke kamarnya. Tak lupa ia mengunci pintu.. Setelahnya, ia segera berjalan mendekati sang istri yang duduk di kursi roda membelakanginya.
"Sayang, ini ... benar-benar kamu?" tanya Amar dengan mata berbinar-binar.
Aliyah menunduk malu, "nggak cocok ya, Mas? Aliyah tadi juga udah bilang, make up nya biasa aja, entar nggak cocok. Aliyah khawatir buat Mas malu. Aliyah nggak usah ikut aja ya, Mas. Aliyah ... "
Cup ...
Tiba-tiba Amar mencuri sebuah kecupan di bibir Aliyah membuat mata perempuan cantik itu membulat.
"Jangan terlalu merendah begitu, Sayang. Kata siapa nggak cocok. Ku malah cantik, cantik banget malah. Mas sampai terpesona. Istri siapa sih ini cantik banget. Coba aja kita nggak mau pergi, kamu udah Mas terkam saat ini juga, tau nggak," ujar Amar sambil mengecup punggung tangan Aliyah berkali-kali. Kanan dan kiri bergantian.
"Be-benarkah? Mas ... nggak sedang ingin membuat aku biar nggak sedih lagi kan?"
"Ck ... Dibilangin nggak percaya banget. Liat kamu cantik gini, jadi ingat saat hari pernikahan kita tau nggak. Kamu saat itu cantik banget. Tapi kok tambah umur, kamu jadi makin cantik sih, Sayang. Mas jadi takut kalau ada cowok kepincut sama kamu."
Aliyah berdecih dengan bibir terlipat, menahan senyum.
"Gombal."
__ADS_1
"Ih, Mas serius tau."
"Benarkah?" tanya Aliyah dengan mata mengerjap berkali-kali membuat Amar kian gemas dan mencuri satu kecupan lagi di bibirnya.
"Uh, rasanya nggak sabar mau cium. Tapi Mas takut lipstik kamu habis Mas makan. Tapi yang lebih menakutkan lagi, kita terlambat datang ke sana karena sesuatu yang tiba-tiba tak bisa ditunda," ujar Amar dengan seringai menggoda.
Awalnya Aliyah tampak bingung dengan apa yang dimaksud Amar, tapi setelah berpikir beberapa saat, Aliyah seketika membulatkan matanya dengan pipi memerah.
Amar terkekeh melihat semburat merah di pipi Aliyah. Tak tahan lagi, Amar lantas mengecup pipi kiri dan kanan Aliyah membuat pipi perempuan itu makin memerah seperti kepiting rebus.
...***...
Kini Aliyah, Amar, Bunda Naima, dan ketiga anaknya sudah berada di dalam mobil. Amar mengemudikan mobilnya menuju hotel tempat acara pesta ulang tahun perusahaan dilangsungkan.
Setelah tiba, mereka pun turun satu persatu, tapi tidak dengan Aliyah. Amar terlebih dahulu mengeluarkan kursi roda dan membuka lipatannya. Setelahnya, baru Amar mengangkat Aliyah ke dalam gendongannya dan mendudukkannya di kursi roda. Setelahnya, Amar menyerahkan kunci mobil kepada valet parking untuk memarkirkan mobilnya.
"Ada apa, Al?"
"Mas, apa aku nggak papa ikut masuk ke ... "
"Ssst ... Berhenti berpikiran macam-macam. Semua orang berhak masuk ke dalam hotel ini. Apalagi kita jelas-jelas tamu di sini. Mas juga sudah booking kamar khusus kita, bunda, dan anak-anak. So, please, singkirkan perasaan was-was mu itu. Ayo, kita masuk.. Sepertinya, acaranya sudah akan dimulai," ujar Amar yang segera kembali berdiri dan mendorong kursi roda Aliyah yang diikuti bunda Naima yang bergandengan Raden Gaffi, sedangkan Amri ada dalam gendongan Nana.
"Ayah, lumahnya besal banget," ujar Gaffi merasa takjub.
"Wooo, lumahnya bagus banget, ayah. Adek mau punya lumah kayak gini," timpal Amri yang juga merasa takjub saat memasuki hotel tersebut.
Amar, Aliyah, Nana, dan Bunda Naima terkekeh sendiri mendengarnya.
__ADS_1
"Iya, nanti kalau adek sudah gede, adek buat rumah kayak gini ya. Tapi adek harus gede dulu, sekolah, terus belajar yang rajin biar pinter. Baru deh adek bisa buat rumah kayak gini," sahut Nana.
"Adek mau cepat besal telus sekolah."
"Abang juga. Biar Abang bisa buat lumah kayak gini juga," sambung Gaffi membuat Amar, Aliyah, bunda Naima, Nana, dan beberapa orang yang mendengarnya tak mampu menahan tawa.
Setibanya di ballroom hotel, Amar langsung membawa istri, anak-anak, San ibunya ke meja yang telah dipersiapkan untuk para tamu undangan. Acara berjalan dengan lancar. Berbagai hidangan lezat pun telah disiapkan di sana. Hingga saatnya pengumuman karyawan terbaik dan nama Amar menjadi salah satu yang disebut.
"Mas, nama kamu ... "
Amar mengangguk. Kemudian Amar segera berdiri saat ia diminta naik ke atas podium. Sebelum beranjak, Amar menyempatkan mencium pelipis Aliyah membuat yang lainnya bersorak.
Setelah berdiri di atas podium, Amar diminta menyampaikan sepatah dua patah kata sambutan, lalu ia pun segera mengucapkan terima kasih pada perusahaan yang telah memberikannya kesempatan mengembangkan diri di sana. Amar juga mengucapkan terima kasih pada pimpinan dan rekan kerjanya yang mana sudah menerimanya dengan tangan terbuka dan mau bekerja sama serta membimbingnya hingga berada di titik ini. Dalam sambutan terakhir, Amar juga mengucapkan terima kasih pada sang istri.
"Dan tak lupa saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada istriku tercinta. Yang mana ia telah mau mendampingiku dari yang bukan siapa-siapa hingga sampai ke titik ini. Sungguh, perjalanan kami tidaklah singkat. Dari yang tidak memiliki apa-apa, tapi istri saya dengan setia terus mendampingi dan mendukung setiap langkah saya. Saya bukanlah seorang suami yang sempurna. Saya bahkan sering menyakiti dan membuatnya terluka juga kecewa, tapi dengan kelembutan hatinya, kebaikannya, ia memaafkan saya. Menerima saya dengan tangan terbuka. Di kesempatan ini, izinkan saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada istri saya. Sayang, terima kasih sudah mendampingiku hingga saat ini. Terima kasih atas segala maaf dan kesempatan yang kau berikan. Terima kasih. Aku mencintaimu."
Sontak saja, tepuk tangan terdengar di segala penjuru ruangan itu. Semua orang bertepuk tangan tanpa terkecuali. Bahkan atensi semua orang sudah beralih ke arah Aliyah dan Amar bergantian. Amar turun dari podium dengan gagah. Lalu ia memberikan piala penghargaannya pada sang istri.
Mata Aliyah tampak berkaca-kaca. Ia merasa bahagia sekaligus terharu. Ia tidak pernah menyangka akan mendapatkan ucapan seperti itu. Bukan hanya di hadapan dirinya, tapi di hadapan semua orang yang ada di dalam ballroom tersebut.
"Mas, terima kasih."
"Tidak. Justru aku yang harus berterima kasih. Apa yang sudah kau lakukan sungguh sesuatu yang takkan pernah tergantikan atau terbayarkan dengan apapun. Perjuanganmu, pengorbananmu, semua yang kau lakukan selama menjadi istriku, semua sungguh luar biasa. Bahkan kata terima kasih dan uang berapapun takkan bisa menggantikannya."
Air mata Aliyah tumpah. Amar memeluk Aliyah membuat semua orang ikut terharu termasuk pimpinan perusahaan tersebut.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...