Penyesalan Anak Dan Suami

Penyesalan Anak Dan Suami
PAS 65


__ADS_3

"Bener-bener gila. Dasar manusia nggak ada otak, bisa-bisanya nuduh orang sembarangan. Anaknya juga, hamil sama siapa, minta tanggung jawab sama siapa. Bener-bener nggak habis pikir," omel Bunda Naima setelah kepergian Armand dan anak istrinya. "Amar, apa kamu tahu kalau perempuan ular itu anak tiri Armand?" tanya Bunda Naima yang sudah membuang embel-embel 'mas' dari nama Armand. Dirinya begitu dongkol kembali dipertemukan dengan laki-laki menyebalkan seperti Armand.


"Amar juga baru tahu, Bun. Makanya tadi sebenarnya Amar benar-benar terkejut. Amar nggak nyangka kalau perempuan ular itu anak tiri laki-laki itu. Kalau Amar tahu sejak lama, mana mungkin Amar mau berdekatan apalagi berteman dekat. Memang perselingkuhan itu bukan salah dia, tapi orang tuanya. Tapi ... melihat sikapnya yang tak ada bedanya dengan ibunya bahkan lebih parah benar-benar membuat Amar muak. Kok ada sih seorang ibu yang mendukung anaknya merusak rumah tangga orang lain. Laki-laki itu juga, tanpa mencari tahu kebenarannya, main tuduh sembarangan."


"Syukurnya kamu nggak sampai melakukan yang aneh-aneh sama dia. Kalau itu sampai terjadi, mau kamu nangis darah pun bunda nggak akan mau maafin kamu. Camkan itu!" tegas Bunda Naima.


Bukan mudah bagi bunda Naima untuk melupakan kenangan menyakitkan yang terjadi di masa lalunya. Karena kenangan menyakitkan itu pula bunda Naima merasa kesulitan untuk membuka lembaran baru. Padahal tidak sedikit duda dan perjaka tua yang mencoba memikat hatinya. Namun tak ada satupun yang mampu membuka hatinya. Sakitnya dikhianati membuat bunda Naima menutup diri.


"Iya, Bun. Iya, insya Allah Amar nggak akan melakukan itu lagi. Doakan Amar ya, Bun, agar Amar bisa menjadi laki-laki yang setia dan bertanggung jawab. Yang bisa membahagiakan Aliyah dan anak-anak. Oh ya Bun, besok lusa Amar ada undangan acara ulang tahun perusahaan. Nah semua petinggi perusahaan termasuk yang memegang jabatan cukup tinggi di perusahaan diminta membawa keluarga. Amar berencana membawa Aliyah, anak-anak, dan juga bunda. Bunda mau kan ikut?"


"Apa? Acara ulang tahun perusahaan? Nggak ah. Bunda malu. Udah tua mau ikut pesta-pestaan. Nggak ah, nggak. Kalian aja," tolak bunda Naima yang sudah tidak PD menghadiri acara-acara besar seperti itu. Kecuali kondangan pernikahan orang-orang terdekatnya baru bunda Naima mau datang.


"Yah , Bun, mau dong. Nanti juga akan ada pengumuman karyawan teladan dan terbaik. Siapa tahu kan Amar masuk nominasi atau bahkan menjadi pemenang. Bunda kan belum pernah Amar ajak acara kayak gini. Amar juga mau buat bunda, Aliyah, dan anak-anak bangga."


"Iya, itu kalau menang. Kalau nggak?"


"Yah bunda, kok malah ngomong gitu sih? Bunda lupa, ucapan itu adalah doa."


"Astaghfirullah, maafin, bunda. Ya udah deh, semoga kamu menang, tapi bunda tetap nggak mau ikut."


"Bun, ikut aja ya, please! Aliyah nggak mau datang juga kalau bunda nggak ikut. Jujur, sebenarnya Aliyah malu dengan kaki Aliyah yang cacat gini. Aliyah takut malah buat Mas Amar malu, tapi Mas Amar maksa. Katanya mau ajak ibu juga, makanya Aliyah bersedia ikut. Kalau bunda nggak mau, Aliyah juga nggak mau. Aliyah mau di rumah saja lah sama bunda dan anak-anak," sela Aliyah yang sudah keluar dari dalam kamar dengan bi Lela yang mendorong kursi rodanya.


"Tuh Bun, masa' bunda tega sih sama Amar. Masa' yang lain datang sama keluarga, tapi Amar malah datang sendiri. Kalau Amar digodain spesies-spesies seperti perempuan itu, bagaimana?" ujar Amar membuat mata Aliyah dan bunda Naima mendelik.

__ADS_1


"Kalau kamu kuat iman, kamu pasti nggak akan tergoda," sewot Bunda Naima. "Ya udah deh, bunda mau. Kalau bukan demi menantu kesayangan bunda, bunda nggak mau datang ke acara-acara kayak gitu," imbuhnya dengan raut wajah dibuat pura-pura kesal.


Aliyah terkekeh kemudian ia mendorong kursi rodanya sendiri mendekat lalu memeluk pinggangnya.


"Makasih ya, Bun. Makasih udah sayang sama Aliyah seperti sayang ke anak sendiri," ujar Aliyah bahagia memiliki mertua sebaik bunda Naima.


"Lah, bukan seperti anak sendiri lagi, Al, tapi memang bunda sudah anggap kamu anak sendiri. Kamu itu menantu rasa anak kandung tau. Bunda tuh sayaaang banget sama kamu. Kalau sampai anak nakal bunda itu nyakitin kamu lagi, liat aja, nanti bunda akan cariin kamu cowok yang lebih cakep, tajir, dan yang paling penting setia dan bertanggung jawab. Biar tuh anak nakal nyesel senyesel-nyeselnya," ujar Bunda Naima membuat Aliyah tergelak.


Sebaliknya, Amar mendelik tajam dengan bola mata nyaris keluar.


"Bunda jangan macam-macam deh! Aku nggak akan berbuat bodoh lagi kok. Awas ya kalau sampai bunda lakuin itu! Pokoknya Aliyah itu cuma milik aku," tegas Amar penuh keyakinan.


"Perempuan itu butuh bukti, Am, bukan sekedar omong kosong."


Aliyah tersenyum dan mengangguk.


"Aku percaya kamu kok, Mas. Jadi jangan sia-siakan kepercayaan ku kali ini ya!"


Mendengar kalimat itu membuat perasaan Amar membuncah. Ia lantas mengecup singkat bibir Aliyah tak peduli kalau ibunya masih berada di sana.


Cup ...


"Mas," pekik Aliyah terkejut.

__ADS_1


"Heh, pake cium-cium nggak tahu tempat! Masuk kamar dulu kek," omel bunda Naima.


Amar terkekeh, "bunda iri ya? Makanya Bun, buruan cari calon suami. Amar nggak masalah kok. Amar justru seneng kalo bunda ketemu jodoh baru. Lupain aja tuh mantan sampah. Nggak perlu diingat-ingat lagi. Toh dia juga udah melupakan dia, jadi buat apa berlama-lama berkubang nestapa."


"Sok tahu kamu. Siapa juga masih mengingat dia. Nggak penting banget. Dan perlu kau ingat, begitu-begitu yang kamu sebut mantan sampah itu ayah kandungmu sendiri," sewot bunda Naima karena dianggap masih mengingat mantan suaminya.


"Halah, ayah kandung, tapi nggak bertanggung jawab, buat apa. Udah ah, Amar mau mandi dulu. Yang, mandi bareng yuk?" Amar mengerlingkan sebelah matanya membuat pipi Aliyah seketika memerah.


Mata bunda Naima melotot, tapi mereka kan memang pasangan suami istri jadi tak masalah. Apalagi ada hadis yang memang menyarankan suami istri itu mandi bersama. Bunda Naima hanya bisa mengusap tengkuknya.


'Nasib jadi janda. Apa saran dari Amar tadi aku lakuin saja ya? Tapi ... sama siapa? Astaghfirullah, kok otakku jadi malah kepikiran ke sana? Memangnya siapa yang mau sama janda kisut kayak gini? Amar ada-ada saja,' batin Bunda Naima bermonolog.


Sementara itu, di tempat lain, tampak seorang laki-laki paruh baya sedang menatap foto keluarga kecilnya di masa lalu. Sekelebat ingatan akan kebersamaan mereka membuat mata laki-laki itu berkaca-kaca.


"Aku tak menyangka, akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi, Naima. Padahal sudah bertahun-tahun kita berpisah, tapi kenapa hatiku tetap bergetar saat bertemu dengannya? Apalagi Naima semakin cantik saja. Padahal usianya sudah tak muda lagi, tapi dia tetap saja terlihat cantik. Padahal seperti biasa, tak ada polesan make up tebal di wajahnya, tapi ... "


Laki-laki itu meraup kasar wajahnya. Sungguh, kenapa penyesalan itu makin memerangkap jiwa dan raganya. Melihat sorot mata penuh kebencian di mata Bunda Naima dan Amar padanya membuat hatinya nelangsa.


"Andai waktu bisa ku putar, aku pasti takkan pernah mengkhianatimu, Naima."


...***...


...^^^HAPPY READING ❤️❤️❤️^^^...

__ADS_1


__ADS_2