
"Al, Sayang, buka pintunya, Sayang! Al, tolong buka pintunya, please!" seru Amar sambil mengetuk pintu berkali-kali, tapi sayang Aliyah tidak merespon sama sekali.
"Al, Sayang, tolong buka pintunya! Dengerin penjelasan aku dulu. Jangan percaya kata-kata perempuan ular itu! Sumpah, aku tidak pernah berbuat hal sebejat itu padanya. Tolong Al, buka pintunya! Biar kita bicarakan baik-baik!" teriak Amar lagi.
Perasaan Amar benar-benar cemas. Ia takut terjadi sesuatu yang tidak-tidak karena ucapan penuh kedustaan dari Nafisa. Ia benar-benar tidak menduga, Nafisa akan melakukan cara kotor untuk mendapatkan dirinya. Memangnya apa kelebihan dirinya sampai Nafisa bertindak nekat seperti ini.
Ya, sepulang dari kantor, ia langsung dihadang Nana. Ia menceritakan perihal Nafisa yang sepertinya telah memprovokasi sang ibu sehingga bertindak anarkis. Bi Lela pun akhirnya bercerita tentang apa yang Nafisa sampaikan sehingga membuat Aliyah emosi.
"Perempuan itu bilang ke ibu kalau dia hamil anak bapak, pak. Dia minta pertanggung jawaban sama bapak. Dia terus-menerus memancing emosi Bu Aliyah. Dia juga ngata-ngatain ibu, buat ibu emosi," adu bi Lela setibanya saat Amar meminta penjelasan mengenai apa yang sudah Nafisa katakan sehingga membuat istrinya itu histeris.
Jelas saja Amar terkejut bukan main. Bisa-bisanya ia meminta pertanggungjawaban dirinya, sedangkan dirinya saja tidak pernah menyentuh dia secara intim. Bahkan berciuman saja tidak pernah, lantas bagaimana ia bisa hamil?
Orang yang makan nangkanya, kok dia yang dapat getahnya. Sungguh keterlaluan. Amar yakin, kalau memang Nafisa hamil, maka ayah biologis anak itu adalah Budi. Bukankah yang memiliki hubungan terlarang dengannya itu adalah Budi. Kenapa ia tidak meminta pertanggungjawaban Budi? Kenapa ia justru mendatangi dirinya dan menuntut pertanggungjawaban? Sungguh tidak masuk akal.
"Aliyah Sayang, Mas mohon, buka dulu pintunya! Kita bicarakan ini baik-baik. Jangan telan mentah-mentah apa yang dia sampaikan. Apa yang perempuan ular itu sampaikan tidaklah benar. Dia berbohong. Semuanya dusta. Mas mohon, Sayang, buka pintunya," mohon Amar sambil bersandar di daun pintu.
Ceklek ...
Terdengar kunci yang dibuka, Amar yang belum siap bergeser lantas terjengkang saat tiba-tiba pintu terbuka lebar.
Bugh ...
"Awh ... " pekik Amar saat ia sudah terguling di lantai kamar.
__ADS_1
"Hai sayang, aduh ... " Amar mengusap bokongnya yang sakit akibat mencium lantai kamar.
Aliyah memasang wajah datar. Tak peduli dengan ekspresi kesakitan sang suami. Aliyah justru segera membelokkan kursi rodanya menuju jendela kamar. Memandangi langit yang mulai berubah warna menjadi merah kekuningan.
Amar menghela nafas berat. Lalu ia menutup pintu dan menguncinya. Setelahnya, ia segera beranjak mendekati Aliyah. Ia berjongkok di depan Aliyah sambil menatap wajah sendu sang istri. Mata Aliyah membengkak. Bahkan netranya masih memerah. Begitu pula hidung. Pipinya masih terlihat lembab bekas air mata. Artinya sejak tadi Aliyah terus menangis dan mungkin ia baru berhenti saat ia datang.
Amar lantas menggenggam tangan Aliyah. Namun baru saja ia menyentuh tangan sang istri, Aliyah langsung menepis kasar tangan Amar dengan sorot mata jijik membuat dada Amar sakit.
"Jangan pernah sentuh aku lagi dengan tangan kotormu itu!" sentak Aliyah yang segera memundurkan kursi rodanya.
"Al, aku tidak sekotor itu! Sungguh, aku tidak pernah menyentuhnya sampai sejauh itu. Apalagi ... "
"Tapi kau pernah menyentuhnya bukan?" potong Aliyah.
"Hanya? Hanya apa? Hanya sampai hamil? Begitu?"
"Al, bisa jangan potong ucapanku? Aku tidak pernah melakukan hal sehina itu. Aku berani bersumpah, aku tidak pernah melakukannya dan anak yang ia kandung bukanlah anakku," ucap Amar dengan suara meninggi membuat Aliyah tersentak hingga menegang dengan jantung berdebar.
"Al, maaf, bukan maksud aku bicara kasar padamu. Bukan ... "
Hati Amar terasa perih saat melihat Aliyah menangis tanpa suara. Hal ini mengingatkan Amar pada beberapa bulan yang lalu. Sebenarnya Amar sering mendapati Nafisa menangis dalam diam ketika sholat. Ia tidak tahu apa yang Aliyah adukan pada sang pencipta. Atau bisa jadi Aliyah mengadukan sikap dan sifat dzalim dirinya.
Amar yang tidak tahan kembali mendekat, tapi Aliyah kembali menjauh membuat Amar menghela nafasnya.
__ADS_1
"Sayang, aku memang pernah menyentuhnya, ah lebih tepatnya dia yang menyentuh, tapi bukan dalam arti seperti yang kau pikirkan. Aku memang laki-laki brengsekkk. Laki-laki bajingaan, tapi aku ... aku berani bersumpah, kalau aku tidak pernah melakukan itu. Apalagi sampai berhubungan badan. TIDAK," ujar Amar dengan menekankan pada kata 'tidak' agar Aliyah dapat melihat kejujurannya. "Kami hanya pernah bergandengan, itu saja. Tidak lebih. Jadi jangan percaya kalau ia mengatakan kalau dia hamil anakku. Bagaimana ia bisa hamil anakku bila aku saja tidak pernah melakukan hubungan badan dengannya. Sayang, aku memang laki-laki brengsekkk. Benar-benar brengsekkk. Mengabaikan mu, menghardik mu dengan kasar, bahkan pernah membuatmu terluka lahir dan batin, tapi untuk hal seperti itu aku benar-benar tidak pernah melakukannya. Bahkan aku tidak pernah menjalin hubungan dengannya. Kamu hanya pernah dekat, tapi tidak lebih. Aku mohon Sayang, percayalah," tutur Amar dengan wajah memelas.
Aliyah menatap wajah Amar yang matanya sudah berkaca. Ia mencari kebohongan dalam netra sang suami, namun ia tidak menemukannya. Ia justru melihat kesungguhan dan kejujuran. Namun tetap saja, hatinya masih belum bisa percaya 100%. Ada keraguan yang tak terbantahkan di dalam hatinya. Kekecewaan yang begitu luar biasa membuatnya sukar untuk mempercayai kata-kata sang suami.
"Kau selalu pulang terlambat. Terkadang setelah pulang pun kau keluar lagi dan pulang larut. Pernah juga saat libur, kau pergi lagi dan pulang larut. Kau selalu memuji-mujinya, menganggapnya sangat spesial dan luar biasa. Bahkan kau dan Nana dengan lantang membandingkan aku dengannya, lantas ... Bagaimana aku bisa mempercayai kata-katamu?"
Amar terhenyak. Ternyata perbuatannya di masa lalu benar-benar membekas dalam ingatan Aliyah. Ia benar-benar kesakitan atas ulahnya. Ia bertanya-tanya, mengapa ia bisa menjadi laki-laki sebrengsekk itu? Mengapa ia bisa mengabaikan istrinya yang luar biasa ini demi perempuan sampah seperti Nafisa?
Amar merasa dirinya sangat bodoh. Bagaimana ia bisa membandingkan Aliyah dengan perempuan seperti Nafisa? Yang bila dibandingkan pun, Nafisa sangat jauh berbeda dan tidak ada apa-apanya dibandingkan Aliyah. Aliyah bukan hanya perempuan yang baik, tapi dia ibu yang baik. Wanita yang sempurna. Ia mampu menjaga kehormatannya. Dan dia adalah laki-laki pertama untuk istrinya itu.
Aliyah merupakan perempuan terjaga. Santun, lembut, perhatian, penuh kasih sayang, cerdas, pandai memasak, pandai mengurus suami, anak, dan rumah tangga. Hanya karena penampilannya yang sedikit tak terawat akibat waktunya yang tersita habis oleh mengurus rumah tangga, ia lantas mengabaikannya dan membandingkannya dengan perempuan lain, sungguh sangat keterlaluan.
"Maaf, karena aku sudah banyak mengecewakanmu, tapi apa yang aku katakan merupakan sebuah kejujuran. Atau perlu aku bersumpah di atas Al Qur'an agar kau benar-benar yakin dengan perkataanku?"
Aliyah menggeleng tegas, "tidak. Bukan itu yang aku inginkan. Aku tak butuh sumpah apalagi janji."
"Lantas?"
"Buktikan. Buktikan kalau apa yang kau katakan adalah suatu kebenaran."
Mendengar permintaan sang istri, Amar pun berjanji akan membuktikannya. Ia akan membongkar kedok Nafisa. Ia pun memikirkan rencana apa yang harus dilakukannya untuk membongkar kebusukan Nafisa. Sebenarnya bisa saja ia langsung menunjukkan bukti video tak senonoh Nafisa dan Budi, tapi ia ingin membongkar semuanya. Bukan hanya Nafisa yang perlu ia berikan pelajaran, tapi juga Budi. Karena laki-laki itulah yang harus bertanggung jawab atas perbuatan mereka.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...