Penyesalan Anak Dan Suami

Penyesalan Anak Dan Suami
PAS 47


__ADS_3

Sayup-sayup Aliyah mendengar lirih lantunan zikir di indra pendengarannya. Membuat Aliyah yang semula tertidur lelap, jadi seketika mengerjapkan mata.


Suara yang sama, yang hampir setiap malam ia dengarkan di sela tidur lelapnya. Suara yang kini bagai senandung merdu penentram jiwanya.


Sungguh mengejutkan sebenarnya sebab selama bertahun-tahun, suaminya tersebut tidak pernah melakukan ibadah tengah malam seperti ini. Ditambah lagi lantunan zikir, sungguh Aliyah baru tahu kalau suara suaminya itu begitu merdu. Padahal mereka sudah menikah selama bertahun-tahun, tapi memang selama ini Amar kerap lalai akan kewajibannya. Apalagi ibadah Sunnah seperti ini. Oleh sebab itu, Aliyah cukup terkejut dengan kejutan tak terduga ini. Suaminya ... benar-benar berubah.


Padahal, biasanya dirinya lah yang kerap melakukan shalat malam, tapi kini justru suaminya lah yang melakukan. Tapi sepulangnya dari rumah sakit, ia hanya sesekali melakukan shalat malam.


Amar baru saja selesai melaksanakan ibadah yang rutin ia kerjakan sejak Aliyah jatuh sakit. Setelah menyimpan sajadah dan sarung beserta pecinya, ia pun kembali membaringkan diri di samping Aliyah. Mata Aliyah sudah terpejam. Ia segera memejamkan mata saat melihat Amar sudah selesai melaksanakan ibadahnya.


Aliyah dapat merasakan usapan lembut di kepalanya. Juga kecupan hangat suaminya itu di dahinya. Hati Aliyah bergetar. Dadanya bergemuruh hebat.


Sebenarnya Aliyah bisa melihat kesungguhan Amar untuk menebus segala kesalahannya. Aliyah pun bisa melihat ketulusan dan cinta yang lama hilang itu kembali hadir diantara mereka.


Namun salahkah Aliyah belum bisa memaafkan laki-laki yang bergelar sebagai suaminya itu?


Hatinya masih terasa sakit. Meskipun sekarang sudah sedikit tersamarkan oleh kesungguhan Amar dalam menunjukkan kesungguhannya untuk berubah. Namun hal itu tak serta merta membuatnya luluh begitu saja.


Ada ketakutan besar yang masih membayangi pikirannya. Apalagi ia tahu, Amar waktu itu sempat menaruh hati pada perempuan bernama Nafisa yang masih merupakan rekan kerjanya. Entah bagaimana hubungan mereka saat ini. Bisa saja mereka masih berhubungan kan. Ia takut, di saat hatinya kembali luluh, tiba-tiba sebuah fakta besar menghantam bahtera rumah tangganya. Mungkin bila itu benar terjadi, maka hatinya akan benar-benar hancur tak terselamatkan.


"Al, aku tahu kau sulit untuk memaafkan ku. Aku tak mengapa. Hal itu wajar setelah apa yang aku lakukan selama ini padamu. Namun satu yang harus kau tahu, Sayang, aku ... sangat mencintaimu. Dan akan selalu begitu."


Lirih Amar mengucapkan itu. Sungguh, hal itu membuat dada Aliyah bergetar. Ingin rasanya Aliyah berhamburan ke pelukan suaminya yang lama tidak ia rasakan hangatnya. Tapi sisi egonya masih lebih dominan.


'Tidak, Al. Jangan cepat luluh. Masih banyak hal yang belum jelas saat ini. Jangan sampai karena sisi lemah mu ini membuatmu terperosok ke jurang yang sama untuk kedua kali,' batin Aliyah memperingatkan dirinya sendiri.


Keesokan harinya, seperti biasa, Amar akan membantumu memandikan Gaffi dan Amri. Sementara bi Lela yang Amar pekerjaan datang tepat pukul 6 dan langsung bergerak menyiapkan sarapan.


"Al, maaf, aku tidak sempat menemanimu sarapan. Pagi ini aku ada meeting penting. Kamu makan ya, Sayang. Aku sudah meminta Bi Lela suapi Gaffi dan Amri jadi kau tidak perlu khawatir," ujar Amar seraya menghampiri Aliyah yang sudah duduk lebih dulu di meja makan.


Amar memang tampak begitu tergesa-gesa. Sebab sejak pagi ia sudah harus disibukkan dengan mengurus kedua bocah laki-lakinya yang aktif luar biasa. Setelah kedua bocah laki-laki itu sudah mandi, bersih, dan wangi, barulah Amar mandi dan bersiap pergi bekerja.

__ADS_1


Sebelum pergi, Amar menyempatkan mencium puncak kepala Aliyah dan dahinya. Aliyah ingin memalingkan wajahnya, tapi dengan cepat Amar menahannya.


"Jangan palingkan wajah cantikmu, Al. Kau tahu, melihat wajahmu adalah sumber semangatku. Apalagi kalau kau tersenyum, hariku pasti akan terasa lebih bersemangat dan menyenangkan. Baik-baik di rumah ya. Kalau ada apa-apa atau butuh sesuatu, bilang saja sama bi Lela atau kau juga bisa hubungi aku. Bye, Love. Assalamu'alaikum," ucap Amar lirih.


Cup ...


Setelah mengucapkan itu, Amar pun segera mencuri kecupan di bibir Aliyah dan segera berlari dari hadapan sang istri dengan senyum merekah.


Aliyah sontak ternganga dengan sikap suaminya yang tidak seperti biasanya. Sungguh perubahan yang signifikan. Aliyah sampai nyaris tak mengenalinya.


"Wa'alaikumussalam," jawabnya pelan setelah punggung Amar sudah benar-benar menghilang.


Dengan dada yang bergemuruh, Aliyah pun mulai mengambil nasi goreng untuk dirinya. Namun saat ia menoleh ke samping, mata Aliyah terbelalak sebab ia baru sadar kalau bi Lela masih berada di sana. Bi Lela tampak senyum-senyum melihat ke arahnya. Aliyah dapat menebak kalau Bi Lela melihat apa yang Amar lakukan tadi padanya.


...***...


Amar telah berada dalam perjalanan menuju kantor. Ia melajukan mobilnya dengan senyum merekah sempurna. Ia benar-benar merasa bahagia hari ini. Hanya karena satu kecupan saja ternyata mampu membuat perasaannya membuncah bahagia. Tak perlu infus vitamin c lagi, hanya butuh satu kecupan, sudah cukup menjadi mood booster untuknya melanjutkan pekerjaan hari itu.


"Mas Amar," panggil Nafisa yang sudah menghadang jalan Amar.


Dahi Amar berkerut, mau apa lagi perempuan itu pikirnya. Padahal mereka sudah tidak memiliki urusan lagi, tetapi mengapa perempuan itu masih saja mengusiknya. Padahal sudah jelas-jelas ia tidak mau lagi berhubungan dengan perempuan itu. Panggilan maupun pesannya pun tak pernah ia balas. Ia bahkan memblokir nomornya agar tidak menghubunginya lagi, tapi kenapa dia tiba-tiba datang menemuinya seperti ini?


"Kau? Ada apa? Untuk apa menemui ku? Bukankah kita sudah tidak ada urusan lagi?" ketus Amar dengan ekspresi datar dan dingin.


"Mas, Mas Amar masih marah sama aku?" tanya Nafisa sendu dan lirih.


"Marah? Untuk apa? Untuk segala kecuranganmu waktu itu? Aku tidak marah sebab aku saja yang bodoh waktu itu. Bisa-bisanya ditipu mentah-mentah oleh rubah betina sepertimu," sinis Amar membuat mata Nafisa membola.


"Mas, kenapa kau berkata seperti itu? Sudah aku katakan, aku terpaksa. Aku ... Aku dipaksa Mas Budi melakukan itu. Dia mengancam akan menyakitiku. Oleh sebab itu, aku terpaksa membantunya mencuri berkas-berkas dan file mu," kilah Nafisa yang masih saja kekeh berbohong.


"Kau pikir aku percaya? Sudahlah. Lupakan saja. Anggap kita tidak saling mengenal. Jangan pernah temui aku lagi."

__ADS_1


Amar ingin melanjutkan langkahnya dengan menggeser langkah kakinya ke samping, tapi Nafisa lagi-lagi menghadangnya.


"Mas, kenapa kau jadi seperti ini? Apa kedekatan kita selama ini tak ada artinya bagimu?" lirih Nafisa.


Amar menghela nafas kesal. Padahal ia datang lebih awal karena ada yang harus ia kerjakan sebelum meeting di mulai. Ia bahkan rela melewatkan sarapannya dengan Aliyah demi menyelesaikan pekerjaannya, tapi kedatangan Nafisa justru membuat waktunya terbuang sia-sia.


"Tidak ada," jawab Amar tegas. "Lebih baik kau menyingkir. Aku banyak pekerjaan," imbuhnya dingin.


"Tapi Mas aku masih ingin bicara denganmu."


"Tak ada lagi yang mesti kita bicarakan. Anggap kita tidak pernah saling mengenal satu sama lain," ucap Amar dengan sorot mata dingin.


Lalu ia melanjutkan langkahnya. Nafisa lagi-lagi ingin menghalangi langkah Amar, tapi Amar justru melewati Nafisa begitu saja. Tak peduli ia telah menabrak pundak Nafisa hingga perempuan itu nyaris terjatuh. Yang pasti ia harus menghindari perempuan parasit itu.


"Mas, Mas Amar, Mas Amar jangan pergi. Mas Amar ... "


"Berhenti mengganggu hidupku, Nafisa! Ingat, aku sudah beristri. Apa kau tidak malu telah mengganggu laki-laki yang sudah beristri sepertiku?" geram Amar karena Nafisa terus mengganggunya. Bahkan Nafisa sampai menarik lengannya. Tapi dengan cepat Amar menghempaskan tangan itu.


"Kau memang sudah beristri, tapi apa salah kalau aku katakan aku mencintaimu? Aku mencintaimu, Mas. Aku mohon maafkan kesalahanku, Mas. Mari kita mulai semuanya dari awal lagi Bukankah kau pun sudah tidak mencintai istrimu lagi," ucap Nafisa tanpa rasa malu sama sekali.


Mata Amar membulat. Rahangnya mengeras.


"Cepat pergi dari sini sebelum aku meminta satpam menyeretmu dari sini!" tegas Amar membuat Nafisa membelalakkan matanya. Perlahan mata Nafisa berembun. Ia menangis terisak. "Dan dengar ini baik-baik, aku mencintai istriku dan sampai matipun akan tetap mencintai istriku. Ingat itu! Jadi jangan coba-coba mengganggu ku lagi karena sampai kapanpun aku takkan pernah mau dengan perempuan seperti dirimu!"


Usai mengucapkan itu, Amar pun segera masuk bertepatan dengan pintu kaca yang terbuka. Nafisa ingin mengejar masuk, tapi pintu langsung tertutup kembali. Nafisa berdecak kesal. Ingin menyusul, tapi Amar telah lebih dulu masuk ke dalam lift.


Nafisa dengan terpaksa pulang dengan tangan hampa. Ia kesal setengah mati sebab ia tidak berhasil meyakinkan Amar kali ini.


"Kau pikir aku akan berhenti sampai di sini? Tidak. Aku pasti akan mendapatkan mu," kekeh Nafisa yang belum mau menyerah.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...


__ADS_2