
Dengan perasaan gelisah, Amar melajukan mobilnya menuju rumah. Amar bukan gelisah memikirkan perkataan Nafisa. Sejatinya ia justru tak peduli sama sekali dengan perempuan itu. Entah kemana perasaan menggebunya dahulu, setiap hari menunggu-nunggu ingin segera bertemu. Tapi sekarang, semua rasa itu sirna tak berbekas. Bahkan Amar tak peduli kalau ia mencintai dirinya sebab yang ada di dalam pikirannya sekarang ini adalah Aliyah.
Aliyah memang masih bersikap dingin padanya. Ia juga lebih banyak diam, bahkan sekedar berbicara dengannya pun Aliyah tampak enggan. Amar benar-benar sedih memikirkannya. Dan kini, Amar gelisah memikirkan Aliyah. Seharusnya ia sudah pulang sejak beberapa saat yang lalu, tapi karena kedatangan Nafisa, kepulangannya jadi tertunda. Meskipun Amar tahu, Aliyah mana mungkin menunggu kepulangannya, tapi tetap saja, ia ingin segera pulang. Ia ingin membantu anak-anak dan istrinya membersihkan diri. Meskipun Aliyah kerap menolak, bahkan sering mencoba berusaha sendiri, tapi tetap saja, ujung-ujungnya, mau tidak mau Aliyah terpaksa menerima bantuannya. Kakinya yang tidak bisa digerakkan sama sekali membuatnya bergantung pada Amar seperti memindahkannya atau membantunya memakai bawahan.
Amar telah memarkirkan mobilnya di depan rumah. Ia pun bergegas turun, tak sabar lagi rasanya ingin melihat wajah cantik sang istri. Rasa yang sempat hambar perlahan kembali hangat dan berbunga-bunga. Dadanya seakan dipenuhi aroma semerbak cinta. Padahal Aliyah bersikap dingin padanya, tapi Amar justru merasa makin cinta.
Entah mengapa ia bisa sampai mengabaikan istrinya selama ini. Mengapa ia begitu bodoh melewatkan hari-hari indah yang seharusnya mereka isi dengan kebahagiaan. Amar harap, ia bisa mengembalikan waktu mereka yang sempat hilang. Mengisinya dengan kebahagiaan dan kasih sayang. Saling mencinta dan menjaga. Hingga maut yang memisahkan mereka.
Namun, baru saja Amar mengucapkannya salam dan masuk ke dalam rumah, Nana sudah lebih dulu menarik lengan sang ayah agar keluar lagi dari rumah.
"Kamu kenapa sih, Na? Ayah baru pulang kok diseret keluar lagi?" tanya Amar dengan dahi berkerut.
Nana melotot dengan mata memerah. Kelopak matanya terlihat sembab. Sepertinya ia baru saja menangis.
"Kamu kenapa? Ada apa? Apa yang sudah terjadi? Ibu ... ibu kenapa? Ibu tidak apa-apa kan?" berondong Amar yang tiba-tiba khawatir.
"Ayah ... Hiks ... Hiks ... Hiks ... "
"Na, kamu kenapa? Jangan buat ayah khawatir. Sebenarnya ada apa?" Amar benar-benar panik saat ini.
"Yah, tadi ... tadi Nana bantu ibu mandi. Terus ... "
"Terus kenapa? Ibu jatuh? Bagaimana keadaan ibu? Sudah panggil dokter?"
Nana menggeleng, "bukan. Bukan itu. Tadi Nana bantu ibu mandi. Terus ... terus ibu pingin pake baju daster kesayangan ibu. Tapi ... " Nana mengusap kasar air matanya. Bibirnya bergetar. Bahkan cairan hidungnya pun sudah tak henti-hentinya keluar. " ... tapi baju daster ibu sudah sobek. Bukan sobek karena apa, tapi karena digunting-gunting. Nana yakin, itu pasti perbuatan nenek sihir itu kan dia yang terakhir kali pake daster ibu. Ibu sedih. Ibu nangis tanpa suara. Ibu nggak mau ngomong. Ibu pasti ngira Nana atau ayah yang gunting-gunting daster ibu, padahal bukan. Nana mau cerita pasti nenek sihir lah yang sudah gunting daster ibu, tapi Nana takut ibu mikir macam-macam. Nana bingung. Nana mesti gimana, Yah? Semua gara-gara nenek sihir itu. Nyesel Nana pernah baikin dia," adu Nana tersedu-sedu membuat nafas Amar seketika tercekat.
Rahangnya mengeras. Ia benar-benar tidak tahu kalau Nafisa bisa berbuat sebegitu teganya. Padahal apa salah Aliyah padanya? Tidak ada. Justru mereka lah yang bersalah pada Aliyah. Bahkan saat teman-temannya datang berkunjung dan menganggap Aliyah sebagai artnya, Amar diam, tidak membela sama sekali. Lalu kini, Nafisa melakukan hal tak terduga. Tapi ia masih bersikap biasa saja. Seolah tidak pernah melakukan kesalahan sama sekali. Benar-benar keterlaluan.
__ADS_1
Mungkin kalau ia sering memberi Aliyah hadiah, Aliyah pasti tidak akan sesakit hati itu, tapi ... karena sudah sangat lama ia tidak memberi Aliyah hadiah ataupun oleh-oleh, pasti Aliyah merasa sakit sekali. Apalagi daster itu daster kesayangannya. Amar pun benar-benar tidak menyangka, daster sederhana itu bisa menjadi barang kesayangannya. Perempuan memang sesederhana itu. Tak perlu barang mewah, asalkan sesuatu itu diberikan dengan penuh rasa cinta, kasih sayang, dan perhatian, maka mereka akan merasa sangat bahagia. Seolah-olah diberi barang paling berharga di dunia.
Amar lantas mencoba menenangkan Nana. Setelah Nana mulai tenang, ia pun bergegas masuk ke kamar mereka. Tampak sang istri sedang duduk termenung menghadap jendela kaca yang mengarah ke taman samping rumah mereka.
"Sayang," panggil Amar lembut sambil memeluk tubuh Aliyah dari belakang.
Aliyah tersentak. Bahkan tubuhnya terasa menegang kaku karena pelukan tiba-tiba Amar. Sesuatu yang pernah ia dambakan, tapi tak pernah ia rasakan. Tapi di saat ia sedang di titik terlelahnya, Amar justru melakukan sesuatu yang tak terduga. Sesuatu yang menggetarkan hatinya.
Amar bisa merasakan tubuh wanitanya menegang kaku. Amar meringis, mungkin karena memang sudah begitu lama mereka tidak melakukan hal-hal yang berbau romantisme. Alhasil, Aliyah merasa tegang dan canggung sendiri karena ulahnya. Amar pun reflek saja melakukan itu. Amar merasa begitu merindukan sang istri. Padahal mereka baru berpisah beberapa jam saja, tapi rasa rindunya sudah begitu membuncah. Jantungnya pun berdebar tak seirama saat tubuhnya mendekap tubuh Aliyah.
Dipanggil seperti itu, entah ada rasa tergelitik di dalam perut Aliyah. Sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan. Apalagi selama ini Amar memanggilnya nama saja. Sungguh sesuatu yang tak biasa. Namun Aliyah diam tak bergeming. Amar tersenyum miris, belum ia menyembuhkan luka hati Aliyah, kini hatinya sudah kembali tergores karena ulah Nafisa yang tidak beradab sama sekali.
"Maaf," ujar Amar lagi. "Daster itu ... a-aku yang mengguntingnya. Maafkan aku," dusta Amar. Ia terpaksa melakukan itu. Ia tak mau Aliyah makin kecewa karena mengetahui ada perempuan lain yang masuk ke dalam rumah mereka, khususnya kamar yang merupakan tempat privasi mereka.
"Kenapa?" tanya Aliyah dengan bibir bergetar. "Apakah ... aku tak pantas memiliki satu saja barang pemberianmu?"
'Kau benar-benar jahat, Amar. Lagi-lagi kau membuat istrimu menangis.'
"Bukan seperti itu, Sayang. Maaf, aku ... aku waktu itu sedang kesal karena ... karena kau mengirimiku pesan yang menjengkelkan. Lalu saat aku pulang, kau sudah kembali tidur di kamar Gaffi. Karena kesal, aku ... aku melampiaskannya dengan ... Maaf," Amar tak sanggup merangkai kebohongan lagi. Jadi ia hanya bisa mengucapkan kata maaf.
Tengah malam, Amar tak bisa tertidur. Sementara itu, Aliyah sudah tampak begitu pulas. Wajah polosnya bak anak kecil yang begitu menggemaskan. Melihat mata sembab Aliyah, sungguh membuat Amar merasa sakit. Amar sudah melihat bagaimana baju daster itu digunting hingga tak berbentuk lagi. Amar yang melihatnya saja sakit, apalagi Aliyah.
"Kau benar-benar keterlaluan, Fisa. Awas saja kalau kita sampai bertemu lagi," geram Amar dengan rahang mengeras.
Keesokan paginya, Amar telah siap dengan setelan kaos kerah lengan pendek berwarna biru muda dan celana pendek kargo berwarna hitam. Pagi itu ia ingin mengajak Aliyah dan anak-anaknya jalan-jalan di taman. Mumpung akhir pekan, jadi ia ingin mengajak keluarga kecilnya jalan-jalan bersama.
"Kau mau sesuatu, Al?" tanya Amar saat mereka sudah berada di taman.
__ADS_1
Aliyah yang sebelumnya tampak muram, kini terlihat sedikit cerah. Sudah lama ia tidak menikmati hari santai dengan berjalan-jalan seperti ini. Bertahun-tahun terkurung di dalam rumah, tanpa bisa bebas bepergian, membuat jalan-jalan kali ini terasa begitu menyenangkan. Aliyah memejamkan matanya sambil menghirup udara segar dalam-dalam. Paru-parunya sampai terasa penuh. Benar-benar menyenangkan.
Aliyah membuka matanya saat Amar menanyakan sesuatu.
"Tidak. Tanyakan saja anak-anak, mungkin mereka menginginkan sesuatu," ujar Aliyah yang memang terbiasa mendahulukan kepentingan anak-anaknya.
"Untuk anak-anak tak perlu kau risaukan. Mereka justru sedang menikmati bubur ayamnya sejak tadi," ujar Amar sambil terkekeh saat melihat gurat keterkejutan di wajah Aliyah.
"Hah, sejak kapan?" gumamnya yang baru menyadari hal tersebut.
"Sejak kau sibuk melamun," ucapnya sendu. "Maaf ... " Entah sudah berapa kali Amar mengucapkan maaf semenjak Aliyah sakit. Namun Amar takkan pernah merasa bosan mengucapkannya sebab ia sadar kesalahannya sudah begitu banyak dan menggunung. Mungkin kata maaf yang terucap seumur hidup pun takkan bisa menebus segala kesalahannya.
"Maaf karena tidak pernah memperhatikanmu, kebahagiaanmu. Aku terlalu sibuk dengan kebahagiaan sendiri sehingga melupakan kebahagiaanmu. Maafkan aku," ujarnya lagi.
"Aku mau lontong sayur," ucap Aliyah sengaja mengalihkan Amar agar tidak melanjutkan perkataannya.
Amar hanya bisa tersenyum pilu, bahkan mendengar permintaan maafnya saja Aliyah merasa enggan. Namun sedetik kemudian, wajah Amar kembali terlihat ceria. Ia tak ingin merusak kebahagiaan keluarga kecilnya hari itu dengan kata-kata melownya.
"Siap, bos. Laksanakan!" serunya dengan senyuman merekah indah semanis gulali.
Amar lantas mendorong kursi roda Aliyah hingga ke salah satu gerai makanan yang menjual lontong sayur. Aliyah tampak menikmati lontong sayur dengan lahap. Namun kehadiran seseorang tiba-tiba membuat mood Aliyah anjlok seketika hingga ke dasarnya.
"Mas Amar," pekik seorang perempuan membuat Amar terkesiap dengan wajah pias.
...***...
Besok insya Allah ya update soalnya mau temenin anak ikut karnaval. 😄 Takut-takut nggak sempat atau kecapean jd nggak sempat update.
__ADS_1
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...