
Malam ini pak Akmal mengundang Amar dan keluarga besarnya makan malam di kediamannya. Kini mereka semua sudah menduduki kursi masing-masing sambil mengelilingi meja makan yang cukup besar berbentuk oval. Mereka menikmati santap malam tersebut dengan bahagia. Putra pak Akmal dan keluarga kecilnya pun turut hadir membuat malam itu makin terasa hangat. Apalagi dengan mendengar celotehan anak-anak kecil. Sungguh menyenangkan.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Pak Akmal mengajak keluarganya dan juga keluarga Amar termasuk bunda Naima tentunya ke ruang keluarga. Mereka pun duduk bersantai dengan anak-anak bermain di sisi lain dengan aneka mainan yang membuat mereka tampak girang sehingga tidak memedulikan apa yang orang tuanya perbincangkan.
"Ekhem, Ardan, seperti yang papa sampaikan tadi kalau Tante Naima ini teman semasa sekolah papa. Tapi ... Sebenarnya bukan hanya itu."
Pak Akmal menarik nafas dalam-dalam. Semua orang tampak memperhatikan mimik gugup di wajah pak Akmal. Pak Akmal melirik bunda Naima. Bunda Naima tersenyum lembut seolah memberinya kekuatan saat itu juga.
"Sejujurnya, Naima adalah cinta pertama papa. Tapi karena papa melanjutkan pendidikan di luar negeri, kami pun putus komunikasi. Papa pikir, setelah pulang, papa bisa melamar Naima, tapi ternyata papa kalah start. Naima menikah lebih dulu dengan Armand yang juga teman sekolah kami. Di saat bersamaan, opa juga menjodohkan papa dengan mamamu. Jadi papa pun menikah dengan mama. Kamu jangan salah paham dulu ... " Pak Akmal takut Ardan lebih dulu negatif thinking dengannya. Berpikir kalau mamanya hanyalah pelampiasannya saja.
"Papa memang awalnya tidak mencintai mama, pun mama juga begitu. Tapi seiring waktu, papa dan mama pun saling mencintai. Tapi bukan itu intinya saat ini. Sungguh, papa pun tidak menyangka akan kembali dipertemukan dengan Naima. Jujur, setelah pertemuan pertama kami setelah belasan tahun berlalu, rasa itu tiba-tiba hadir kembali. Setelah sekian tahun menyendiri, akhirnya papa kembali merasakan keinginan untuk membangun rumah tangga. Jadi, Ardan, kamu putra papa satu-satunya, di kesempatan ini papa ingin meminta izin padamu untuk kembali menikah dengan Naima, apakah kau mengizinkannya, Nak?" tanya Pak Akmal pada sang putra.
Perasaan Pak Akmal was-was. Apalagi saat melihat raut wajah datar sang putra. Belum lagi ia masih harus meminta restu dari putra dan putri Naima. Ia benar-benar khawatir. Sebenarnya mereka bisa menikah tanpa meminta restu mereka. Toh status mereka adalah anak-anak. Mereka juga sudah dewasa dan masing-masing sudah berkeluarga. Namun baik Pak Akmal maupun bunda Naima ingin menghormati pendapat anak-anak mereka. Mereka tidak ingin melakukan sesuatu semaunya yang pada akhirnya melukai anak-anaknya. Meskipun mereka sudah dewasa, tapi anak tetaplah anak. Mereka akan kecewa bila keberadaan mereka seolah tidak dianggap.
Ardan memandang wajah sang ayah dengan seksama. Ada binar harapan di netranya yang sehitam jelaga. Sementara Bunda Naima hanya tersenyum lembut.
Ya, pak Akmal memang sudah menyatakan keinginannya mengajak Bunda Naima menikah. Toh mereka sudah lama sendiri. Tidak ada salahnya kan kalau mereka merajut rumah tangga kembali. Ini bukan sekedar kebutuhan syah-wat, tapi keinginan mengisi hari tua bersama dalam cinta dan kasih. Merajut asa yang pernah pupus. Meraih mimpi untuk bahagia bersama sebagai sepasang suami istri.
Sebenarnya melihat bagaimana pak Akmal yang begitu perhatian padanya selama ini jelas menghadirkan getar yang lama padam. Setelah sekian tahun ia mengubur asa dan angannya untuk kembali merajut kasih dengan seorang laki-laki, tapi kali ini pak Akmal berhasil kembali menyalakan keinginan itu sehingga tanpa banyak basa-basi, bunda Naima pun segera menerima. Toh tak ada salahnya kembali menikah. Apalagi sosok itu juga sudah lama sendiri. Mereka juga sudah sama-sama tua, jadi tak perlu lah mengulur-ulur waktu dekat berpacaran layaknya ABG.
Dan yang paling penting, sosok itu merupakan pria masa lalunya. Laki-laki yang pernah menjadi cinta dalam hatinya. Selama mengenal pak Akmal, bunda Naima sangat tahu kalau pria itu merupakan laki-laki yang baik. Ia tidak pernah macam-macam. Jadi tidak salahkan kalau kali ini ia menjatuhkan hatinya pada pria itu?
__ADS_1
Melihat wajah teduh Bunda Naima, seketika senyum di bibir Ardan merekah. Lalu ia memandang Amar dan Amara, "bagaimana Mar, Amara, apa kalian mengizinkan papaku menikahi bunda kalian?"
"Kalau kau?" tanya Amar balik.
"Kalau aku, jujur, aku tidak ... " wajah semua orang menegang seketika. Apalagi wajah pak Akmal yang tadinya memancarkan binar harapan seketika meredup, "tidak akan menolak. Sudah saatnya papa meraih kebahagiaan Papa. Papa sudah cukup berjuang untuk kebahagiaanku. Kini giliran papa yang merengkuh bahagianya," imbuh Ardan membuat mata Pak Akmal berkaca-kaca.
"Sama seperti aku, aku pun tidak menolak sama sekali. Bunda pun pantas bahagia. Sudah cukup ia terlarut dalam kesendirian dan kesepian. Sudah saatnya bunda bangkit dari pusaran luka masa lalu. Aku sebagai seorang anak hanya bisa berdoa, bunda segera menemukan kebahagiaannya."
"Begitu juga Amara, Bun. Bunda pasti paham kenapa sampai sekarang Amara lebih memilih tinggal dengan bunda padahal mas Ardi sudah membeli rumah untuk keluarga kecil kami tempati sebab Amara tidak tega melihat bunda hidup dalam kesepian dan kesendirian. Amara hanya berharap, Om Akmal bisa membahagiakan bunda. Sudah cukup kesedihan yang bunda tanggung sendirian selama ini. Seperti kata Mas Amar, kami sebagai anak hanya bisa berdoa agar bunda mendapatkan kebahagiaan bunda sendiri. Sudah saatnya bunda bangkit dan menjemput bahagia bunda. Apapun yang terbaik bagi bunda, kami akan mendukungnya."
Bunda Naima tampak berkaca-kaca. Ia amat sangat bersyukur dikaruniai anak-anak yang baik, penyayang, dan berhati lapang. Mereka tidak pernah egois. Selalu memikirkan kebahagiaannya.
Amara yang melihat mata sang ibu berkaca-kaca pun segera memeluknya.
"Apa?" tanya Amara.
"Kan tadi pak Akmal meminta izin kita menikah dengan bunda, memangnya bunda sudah setuju?" goda Amar membuat semua orang mengalihkan tatapannya pada bunda yang tiba-tiba salah tingkah.
"Amar benar, ekhem ... Tante, sebagai pihak papa, boleh Ardan bertanya?"
Bunda Naima pun mengangguk dengan wajah tersipu.
__ADS_1
"Si-silahkan!" ujar bunda Naima yang tiba-tiba gugup.
"Apa Tante bersedia menikah dengan papa?" lanjut Ardan membuat Bunda Naima melirik pak Akmal yang sudah tersenyum lebar.
"Emm, Tante ... bersedia," lirih bunda Naima.
Mendengar jawaban itu, Ardan pun segera berdiri dan bersalaman dengan Amar. Tidak hanya itu, mereka pun saling berpelukan. Malam itu kediaman pak Akmal terdengar begitu riuh. Setelah sekian lama sepi, akhirnya kebahagiaan di rumah itu akan segera kembali.
Bunda Naima dan pak Akmal tidak pernah menyangka, mereka akan menemukan cinta di usia senja. Mereka pikir mereka akan menghabiskan masa tua mereka dengan hidup sendiri, kesepian, tanpa seorang pendamping.
Namun kenyataan tidak. Takdir berkata lain. Tanpa disangka-sangka bahkan tanpa mereka duga dan harap sama sekali, mereka justru menemukan pasangan sejati mereka di usia yang tidak muda lagi. Setelah sekian lama mengubur asa maupun rasa. Fokus hanya pada keluarga khususnya anak-anak. Kini giliran mereka menjemput bahagia. Anggap saja itu sebagai reward atas kesabaran mereka menjalani terjalnya hidup selama ini.
...***...
...Insya Allah besok bab terakhir ya....
... Untuk nasib Gita yang masih gantung juga dibahas besok. ...
...Sampai jumpa. ❤️❤️❤️...
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...