Penyesalan Anak Dan Suami

Penyesalan Anak Dan Suami
PAS 51


__ADS_3

Di rumah hanya ada Aliyah, Nana, dan Amri. Sedangkan Amar dan Gaffi sedang menunaikan shalat Maghrib di masjid yang terletak tidak jauh dari rumah mereka.


"Bu, ibu kenapa melamun? Ibu masih mikirin kata-kata nenek sihir tadi ya?" tanya Nana.


Aliyah memandang sang putri dengan tatapan intens.


"Dulu Nana suka banget sama Tante cantik kamu itu, kok sekarang Nana malah putar haluan?" alis Aliyah naik sebelah membuat Nana menggaruk kepalanya karena malu dengan perbuatannya beberapa bulan yang lalu. "Bahkan Nana tanpa basa-basi membandingkan ibu sama dia, tapi kok sekarang Nana kayaknya benci banget sama dia. Jujur, ibu merasa aneh," ungkap Aliyah yang memang benar-benar merasa heran sekaligus penasaran.


"Ah, itu Bu, Nana hanya sadar kalau nggak ada perempuan sebaik ibu. Ibu yang udah mengandung Nana, melahirkan Nana, membesarkan Nana. Nana merasa durhaka sekali sudah membuat ibu kecewa sekaligus sakit hati seperti waktu itu. Maafin perbuatan Nana ya, bu. Nana nyesel. Nana janji akan jadi anak yang baik. Ibu mau kan maafin Nana, please!" melas Nana dengan mata berkaca-kaca.


Aliyah bisa melihat kesungguhan dari Nana.


Aliyah mengangguk, kemudian mengusap kepala Nana. Nana lantas membaringkan kepalanya di pangkuan Aliyah.


"Terima kasih, Bu. Nana harap, ibu juga maafin ayah. Ayah udah benar-benar berubah kok, Bu. Ayah udah baik sekarang. Ayah juga udah sayang banget sama ibu, Nana, dan adik-adik. Ibu jangan percaya kata-kata Nenek sihir itu. Dia itu tidak suka liat ibu bahagia. Dia iri. Dia mau deketin ayah, tapi ayah nggak mau. Dasar nenek sihir nggak tau malu. Ih, Nana gemes banget sama nenek sihir itu. Coba kemarin airnya Nana kasi cabe yang banyak, wah, pasti dia bakal teriak-teriak kayak orang gila karena kepanasan. Hahaha ... pasti seru banget tuh," celoteh Nana sambil terkekeh sendiri.


Aliyah tersenyum lalu mengusap rambut Nana dengan sayang. Ternyata sakitnya memberi hikmah pada sang anak sehingga bisa berubah sedemikian drastis.


Bukan hanya anaknya, tapi juga suaminya. Bahkan kini Amar sudah rajin beribadah. Mau membantu mengurus rumah dan anak-anak juga.


Tiba-tiba pintu diketuk. Lalu terdengar seruan salam dari luar.


"Assalamu'alaikum cantik-cantiknya ayah," ujar Amar sumringah.


"Accalamu'ikum ibu, kakak," ujar Gaffi yang juga mengucapkan salam.


"Wa'alaikumussalam," jawab keduanya.


"Ibu, ayah beli sate buat ibu, ibu mamam ya!"


Alis Aliyah terangkat, sudah lama ia tidak memakan sate. Sudah lama pula Aliyah menginginkannya, tapi sayang, banyaknya pertimbangan pengeluaran membuatnya harus menahan rasa ingin selama ini.


Aliyah mengangguk. Amar senang. Ia pun segera menyimpan sate itu ke dalam piring dan membagikannya ke istri dan anak-anaknya.


Melihat sang suami yang tidak ikut makan, dahi Aliyah berkerut.


"Mas ... tidak makan?" tanya Aliyah untuk pertama kalinya bertanya setelah sebulan lebih ini bersikap dingin.

__ADS_1


"Nggak usah. Terima kasih. Mas masih kenyang kok. Kamu makan aja."


"Memang ayah kapan makan kok tiba-tiba ayah sudah kenyang? Padahal tadi pelut ayah bunyi besal banget," sela Gaffi tiba-tiba membuat Amar terkejut salah tingkah.


"Itu ... ibu bukan bunyi perut ayah kok. Abang Gaffi mungkin salah dengar," kilah Amar.


"Tapi tadi Abang benelan dengel pelut ayah yang bunyi."


"Ayah ... "


Belum sempat Amar menimpali, tiba-tiba Aliyah sudah menyodorkan setusuk sate ke depan mulutnya. Amar merasa perasaannya tiba-tiba membuncah. Baru begini saja ia sudah merasa terharu. Ah, melow sekali kau Amar ejeknya sendiri.


Keesokan harinya, seperti biasa, setelah shalat subuh, ia akan membantu Aliyah membersihkan diri. Setelahnya, membantu Amri dan Gaffi mandi. Tapi sekarang Nana sudah bisa membantu memakaikan pakaian pada adik-adiknya jadi Amar tidak begitu kerepotan lagi seperti biasanya. Setelahnya, barulah Amar mandi. Saat Amar mandi, Bi Lela datang untuk menyiapkan sarapan. Setelah ia rapi, barulah mereka sarapan bersama.


Siang hari, saat sedang menonton televisi, tiba-tiba terdengar seruan dari luar rumah.


"Mbak, ada tukang paket di luar," ujar bi Lela setelah melihat siapa yang berteriak di luar sana.


"Hah, paket? Paket siapa?" tanya Aliyah bingung.


"Katanya paket atas nama mbak Aliyah."


"Bibi juga nggak tahu, Mbak. Bibi cuma menyampaikan pesannya aja. Mbak Aliyah ditunggu di luar tuh. Mbak Aliyah liat aja secara langsung ya, soalnya mau nolak juga kasian. Entar beneran buat mbak Aliyah gimana."


"Ya udah, tolong bantu saya ke depan, bi."


"Baik, Mbak."


Bi Lela pun mendorong kursi roda Aliyah ke depan. Sebenarnya ia bisa mendorong kursi rodanya sendiri ke depan, hanya saja ia khawatir orang yang akan menemuinya itu bukan kurir sungguhan. Bisa jadi perampok atau penjahat lainnya. Pikiran Aliyah memang makin sensitif sekarang.


Tak butuh waktu lama, akhirnya Aliyah dan bi Lela sudah berada di depan bertemu dengan kurir dengan jaket khas berwarna hijau.


"Maaf pak, beneran ada paket buat saya?" tanya Aliyah.


"Benar ini dengan ibu Aliyah?" tanya kurir itu terlebih dahulu.


Aliyah mengangguk, "iya, benar pak."

__ADS_1


"Nah, ini ada kiriman barang atas nama ibu Aliyah. Mohon diterima," ujar kurir tersebut. Awalnya Aliyah ragu, tapi melihat nama tertera di paket tersebut benar nama dirinya, Aliyah pun terpaksa menerimanya.


"Terima kasih, Bu. Kalau begitu, saya permisi."


"Sama-sama, pak. Terima kasih kembali," ujar Aliyah.


Setelah kurir itu pergi, Aliyah pun segera membawa masuk kotak yang berukuran kira-kira 30x30 cm tersebut. Dengan hati-hati, Aliyah pun membuka paket tersebut.


Setelah kotak paket tersebut terbuka, mata Aliyah terbelalak saat melihat isinya. Isinya adalah setengah lusin daster cantik dengan anek warna. Mata Aliyah seketika berbinar cerah. Padahal hanya daster, tapi Aliyah sudah seperti mendapatkan kalung berlian saja, benar-benar bahagia.


Saat sedang membuka daster-daster tersebut, sebuah kertas terlipat jatuh. Aliyah pun segera membukanya dengan dahi berkerut.


[Untuk istriku tercinta. Semoga kau suka hadiah kecil dariku. Dari suamimu tersayang.]


Tak lupa Amar membubuhkan emoticon hati berjejer di sana. Tanpa sadar, Aliyah terkekeh kecil.


Tring ...


Sebuah pesan masuk ke ponsel Aliyah. Aliyah pun dengan cepat membukanya. Ternyata pesan tersebut berasal dari Amar.


[Bagaimana dengan hadiah dariku? Kau suka?"]


[Suka, Mas. Terima kasih.]


Balas Aliyah sambil tersenyum.


Namun senyum itu seketika sirna saat ia melihat Nafisa tiba-tiba sudah masuk ke dalam rumahnya dan duduk tanpa permisi.


"Kau ... bagaimana kau bisa masuk ke rumahku tanpa izin?" desis Aliyah dengan tatapan penuh kebencian.


Nafisa dengan pongah duduk di sana, "rumah ini juga nanti akan jadi rumahku jadi suka-suka aku dong masuk ke mari."


"Jangan mimpi! Cepat katakan, untuk apa kau datang ke mari!" desis Aliyah.


"Wah, sepertinya kau tidak ingin berbasa-basi lagi ya! Baiklah, langsung ke inti persoalannya saja. Aku hanya ingin mengatakan kalau aku hamil. Hamil anak Mas Amar. Jadi aku ingin kau mengizinkan aku dan Mas Amar menikah," ujar Nafisa dengan senyum menyeringai.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...


__ADS_2