Penyesalan Anak Dan Suami

Penyesalan Anak Dan Suami
PAS 60


__ADS_3

Setelah kepergian Amar, Aliyah, dan Anne, tinggallah Budi dan Nafisa. Mereka lantas pulang bersama-sama.


Budi melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Ia benar-benar tidak menyangka Anne akan mengambil langkah sampai sejauh itu. Anne yang selama ini sabar bertahan meskipun sikapnya sering membuat Anne tertekan, tapi kali ini Anne dengan lantang menyatakan ingin berpisah dengannya.


Budi tak pernah membayangkan Anne akan dengan lantang menyatakan ingin berpisah dengannya.


Karena emosi yang tak terbendung, Budi lantas menepikan mobilnya di pinggir jalan yang cukup sepi. Setelah mobil berhenti, Budi segera melepas seat belt dan mengarahkan pandangannya pada Nafisa yang sedang mengernyit heran.


"Mas, kenapa kau berhenti di sini?" Nafisa celingukan menatap ke sekeliling. Jalan itu sepi. Entah mengapa Budi menepikan mobilnya di sini.


"Katakan padaku, apa kau yang sudah merekam video tersebut?" tanya Budi dengan tatapan menyelidik.


Bagaimana ia tidak menuduh Nafisa sebab video itu diambil di kontrakan Nafisa. Sedangkan di sana tidak ada siapa-siapa, jadi siapa lagi yang berpotensi mengambil video tersebut kalau bukan Nafisa, si pemilik kontrakan itu sendiri.


"Apa, Mas? Kamu nuduh aku yang rekam? Apa kamu gila? Ngapain coba aku rekam kita lagi gituan? Aku nggak semaniak itu sampai hal seperti itu direkam. Nggak ngerekam aja, perbuatan kita bisa jadi Boomerang ke kita berdua, apalagi kalo sengaja direkam," omel Nafisa dengan dada bergemuruh. Ia tidak terima Budi menuduhnya semaunya seperti ini.


"Kalau bukan kau, siapa coba? Video itu diambil di kontrakan mu. Tidak ada orang lain yang tinggal di sana selain kamu, jadi hanya kamu satu-satunya orang yang berpotensi merekam semua itu." Budi masih kekeh menyalahkan Nafisa. Apalagi ia sedang benar-benar emosi. Pikirannya semerawut. Apalagi setelah masalah bertubi-tubi menimpanya. Budi merasa hidupnya kini makin hancur. Dan akan lebih hancur lagi kalau sampai Anne benar-benar menceraikannya.


"Tapi nyatanya aku memang nggak ngerekam semua itu. Aku juga nggak tahu kenapa mereka bisa tiba-tiba memiliki rekaman kita sedang bercinta. Atau jangan-jangan itu Mas sendiri yang melakukannya?" Tiba-tiba Nafisa menuding Budi sendiri yang merekam kegiatan panas mereka. "Bisa saja kan Mas melakukan itu untuk menjebak aku agar kalau sewaktu-waktu aku melakukan kesalahan atau mengajak kamu mengakhiri hubungan kita, kamu bisa ancam aku dengan video itu, benar ka?" lanjut Nafisa yang sudah menatap tajam Budi.


Tangannya terkepal erat karena emosi yang menyelimuti hati dan jiwanya. Apalagi gara-gara video tersebut rencananya terancam gagal. Melihat ekspresi Aliyah yang bicara dengan yakin kalau bukan suaminya lah yang ada di video tersebut membuatnya benar-benar kesal.


Nafisa tadinya berharap besar Aliyah dapat terpengaruh sehingga segera memutuskan berpisah atau paling tidak meminta suaminya bertanggung jawab. Ia tak masalah menjadi yang kedua. Yang penting saat ini Amar bisa menjadi miliknya dan anak yang ada di dalam kandungannya memiliki seorang ayah yang diakui secara hukum.


"Kau mau menuduhku, hah?" Budi lantas mencengkeram rahang Nafisa dengan keras. Matanya melotot tajam. Ia kesal bukan main dengan tuduhan Nafisa yang kentara menyudutkannya.


"Kalau iya, kenapa? Tidak ada orang lain yang bisa masuk dengan bebas ke dalam kontrakanku selain kamu, Mas," balas Nafisa tak kalah garang.


Nafisa benar-benar lupa kalau dulu Nana juga kerap main ke sana dan dia sendiri yang memberikan kunci cadangan pada Nana agar Nana bisa main ke kontrakannya sewaktu-waktu. Tapi biasanya memang Nana menghubungi Nafisa terlebih dahulu bila ingin main ke kontrakannya. Namun tidak untuk hari itu. Karena sedang kesal dan malas pulang ke rumah membuat Nana memilih pergi ke kontrakan Nafisa tanpa mengabari lagi. Oleh sebab itu, Nafisa benar-benar tidak menyadari kalau Nana lah yang mengambil rekaman itu tanpa sepengetahuannya.


"Kau ... "

__ADS_1


"Sakit, brengsekkk! Lepas!" pekik Nafisa saat cengkraman di rahangnya makin mengeras.


Lalu Budi melepaskan cengkraman itu dengan kasar.


"Awas saja kalau ternyata benar-benar kau yang merekam semua itu. Jangan harap aku akan melepaskanmu!" ancam Budi dengan raut wajah penuh amarah.


...***...


Nafisa kini telah tiba di rumah orang tuanya. Ia memilih tempat aman untuknya sebab ia khawatir Budi kembali mendatanginya untuk melampiaskan kekesalannya. Nafisa tentu saja tak mau hal itu terjadi. Jadi ia pun memilih pulang ke rumah orang tuanya.


"Kamu kenapa mukanya kusut begitu?" tanya ibu Nafisa saat melihat anak perempuannya masuk ke rumah dengan raut wajah kacau. Sang ayah pun ikut memperhatikan wajah Nafisa yang memang tampak berantakan.


"Iya Sa, kamu kenapa? Apa kamu sedang ada masalah?" timpal sang ayah.


Nafisa memutar otaknya, mencari jalan keluar dari masalah yang ia hadapi. Hatinya tiba-tiba bersorak saat ia mendapatkan sebuah ide cemerlang.


"Ma, Pa, maafin Fisa. Huhuhu ... "


"Kamu kenapa, Sa? Ada yang jahatin kamu? Katakan sama papa, siapa yang jahatin kamu? Atau kamu ada masalah? Katakan sama mama dan papa, sebenarnya apa yang terjadi?" cecar sang ayah yang sudah menegakkan punggungnya.


"Iya, Sayang, katakan, Nak, kamu kenapa?" timpal sang ibu.


"Ma, Pa, Fisa ... Fisa hamil. Tapi ... ayah dari calon anak Fisa tidak mau tanggung jawab. Dia justru memfitnah Fisa selingkuh dengan laki-laki lain. Huhuhu ... " adu Nafisa memutar-balikkan fakta.


Ayah Nafisa terbelalak sempurna. Ibu Nafisa pura-pura terkejut. Seolah-olah baru mengetahui perihal kehamilan Nafisa.


"Kurang ajar. Siapa laki-laki itu? Katakan! Biar Papa yang menemuinya dan meminta pertanggungjawabannya," ujar ayah Nafisa menggebu. Dadanya naik turun. Ia benar-benar marah atas apa yang menimpa putrinya.


"Namanya Mas Amar, Pa. Dia sebenarnya laki-laki yang sudah beristri. Tapi dia bilang tidak mencintai istrinya dan mencintai Fisa, karena itu Fisa mau menjalin hubungan dengannya. Tapi tiba-tiba dia memutuskan hubungan dengan Fisa saat tau Fisa hamil," ujar Nafisa dengan air mata berderai.


"Amar?" beo sang ayah yang seketika teringat dengan nama anak sulungnya yang entah dimana keberadaannya. Namun ia tidak terpikir kalau Amar yang dimaksud Nafisa bisa jadi anaknya.

__ADS_1


Sementara itu, di kediaman Budi, setibanya di rumah, ia mengetuk-ngetuk pintu. Namun setelah beberapa menit berlalu, pintu tak kunjung dibuka juga. Amar lantas memutar handle pintu, tapi sepertinya pintu terkunci dari luar. Budi lantas mengeluarkan kunci cadangan yang tersimpan di dompetnya dan segera membuka pintu. Dicari-carinya keberadaan anak-anak dan istrinya, tapi ia tak menemukannya dimana-mana. Budi lantas mencoba menghubungi Anne, namun panggilannya tak kunjung diangkat. Barulah pada panggilan kelima panggilan itu diangkat.


"Halo, assalamu 'alaikum," ucap Anne tetap terdengar lembut dan menenangkan.


Budi yang tadinya ingin marah, tiba-tiba kehilangan kata.


"Halo," ucap Anne lagi.


"Wa'alaikumussalam salam," ujar Budi gugup.


"Ya, Mas, ada apa?" tanya Anne.


"Kamu dimana? Kenapa kalian tidak ada di rumah? Hari sudah hampir sore. Jangan pulang malam-malam, kasihan anak-anak, nanti sakit," ujar Budi yang tiba-tiba perhatian membuat Anne terkekeh.


"Mas, Mas, Mas sakit?"


"Maksudnya?" tanya Budi bingung.


"Mas tiba-tiba sok perhatian, aneh tahu. Biasanya juga nggak peduli. Kalaupun marah, bukan karena peduli, tapi karena kamu butuh sesuatu dari aku," ujar Anne yang memang benar apa adanya. Budi seketika mati kutu. Tak menyangka Anne akan berkata seperti itu padanya.


"Mas hanya khawatir pada kalian," kilahnya.


"Sudahlah, Mas. Seperti biasa aja, nggak perlu perhatian ke kami toh kami masih bisa hidup meskipun tanpa kamu. Lebih baik kamu urusin itu selingkuhan kamu yang sedang hamil itu. Dan untuk informasi saja, aku sedang ingin liburan sama anak-anak jadi nggak perlu tungguin kami. Mungkin kami baru akan kembali saat sidang pertama perceraian kita digelar. So, sampai jumpa di pengadilan, Mas. Jangan lupa beresin barang-barang kamu, oke! Kalau bisa, sepulangnya kami dari liburan, kamu udah pergi dari rumah itu. Mau pergi kemana, terserah. Mau pulang ke rumah ibu kamu itu juga terserah. Bye, Mas. Wassalamu'alaikum," ujar Anne benar-benar santai. Setelahnya, Anne pun segera menutup panggilan itu membuat Budi benar-benar tercengang dengan tingkah sang calon mantan istri.


Tut ... Tut ... Tut ...


"Anne, Anne, hei, Anne ... " pekik Budi terkejut saat tahu Anne telah menutup panggilannya begitu saja.


"Shittt! Brengsekkk! Sialan! Kenapa semuanya jadi kacau seperti ini?" geram Budi sambil menjambak rambutnya sendiri.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...


__ADS_2