
"Ayah, ibu gimana?" tanya Nana yang ternyata masih duduk di depan kamar Aliyah. Ia sepertinya tak sabar untuk mengetahui keadaan sang ibu setelah menangis selama berjam-jam.
Amar mengambil tempat duduk di samping Nana lalu menyandarkan punggungnya. Terdengar helaan nafas kasar dari bibir Amar. Nana bisa melihat kalau ayahnya tersebut sedang benar-benar lelah. Bahkan pakaian kerja Amar pun belum juga berganti.
"Ibu udah tidur," jawab Amar.
"Yah, emangnya benar kalau nenek sihir itu hamil anak ayah?" tanya Nana dengan memasang wajah polos. Ia sejak tadi penasaran, apakah benar Nafisa mengandung anak sang ayah.
Amar segera menegakkan punggungnya, "nggak. Sumpah, itu bukan anak ayah. Yang berhak mengandung anak ayah cuma ibu kamu dan anak-anak ayah cuma kalian bertiga saja, nggak ada yang lain," tegas Amar tak ingin anaknya berpikiran buruk padanya.
Nana memicingkan mata, "beneran? Ayah nggak lagi bohongin Nana kan?" tanya Nana yang masih ragu.
"Astaghfirullahal adzim, beneran lah, Na. Ayah masih tahu dosa kok. Ayah memang jahat sudah membuat ibu kalian sakit hati dan kecewa, tapi ayah juga nggak sebejat itu sampai menghamili perempuan yang bukan istri ayah," sergah sang ayah cepat.
"Kalau bukan, terus kenapa nenek sihir itu malah minta ayah tanggung jawab?" cecar Nana yang masih belum yakin 100%.
Amar mengedikkan bahunya, "ayah juga nggak tahu. Bisa jadi laki-laki itu nggak mau tanggung jawab, makanya dia mau jebak ayah agar mau menikahi dia."
"Awas ya kalau itu beneran anak ayah. Nana nggak akan maafin ayah selamanya," ujar Nana sambil mengerucutkan bibir.
Amar tersenyum lalu menarik leher Nana dan menjepitnya dengan lengan. Kemudian ia mencapit hidung Nana gemas.
"Nggak percayaan banget. Sumpah, itu benar-benar bukan anak ayah. Ayah yakin, itu anak temen kerja ayah tempo hari. Yang laki-laki di video itu lho."
"Eh, bener juga, Yah. Eh, video yang di ayah masih kan? Kalau yang di Nana udah Nana hapus. Takut ada yang liat terus nyebarin. Kalau orang nyebarin nggak nyangkutin nama Nana sih nggak masalah, entar Nana yang dituduh macam-macam kan masalah. Apalagi kalau ketahuan guru, kan bisa gawat," ujar Nana yang memang sudah menghapus video tersebut setelah mengirimkannya pada sang ayah.
Ia tahu, itu video tak pantas. Ia tak boleh menyimpannya karena berbahaya. Apalagi ia masih anak-anak, bahaya melihat sesuatu yang tak pantas seperti itu. Cukup ia melihat saat kejadian dan Nana tak ingin melihatnya lagi.
Mengingat kejadian itu, Nana bergidik jijik sendiri. Bagaimana bisa dua orang yang belum menikah melakukan hal tercela seperti itu. Meskipun ia masih remaja, tapi ia sudah mempelajari mengenai edukasi se ks. Dan hal tersebut hanya boleh dilakukan dengan pasangan yang telah menikah.
Amar mengangguk, "yang di ayah masih kok. Baguslah kalau yang di kamu udah di hapus. Bisa bahaya kalau orang lain lihat. Ingat, perbuatan itu dilarang. Nana jangan sampai melakukan itu ya? Masa depan kamu masih panjang. Jangan sampai kamu terjerumus pada perbuatan yang bisa merusak masa depan kamu." Amar mencoba menasihati sang anak agar menjauhi perbuatan tersebut.
Nana mengangguk, "siap, Yah. Tapi Yah, bagaimana kalau nenek sihir itu terus nuntut ayah buat nikahin dia?"
Amar mengusap kepala Nana dengan sayang, "kamu tenang aja, Sayang. Pasti ayah akan membuktikan kalau ayah nggak bersalah. Fokus belajar saja. Urusan ini biar jadi urusan ayah."
"Siap, Ayah."
Saat sedang berbincang dengan Nana, Amar melihat bi Lela keluar dari kamar Gaffi.
"Eh, Pak Amar. Oh ya pak, Gaffi dan Amri sudah bibi mandiin. Sekarang lagi main di kamar."
"Oh iya, Bi. Makasih ya. Saya sampai lupa mau mandiin Gaffi dan Amri. Dan terima kasih juga sudah jagain Aliyah selama saya bekerja ya, bi."
"Ah, nggak perlu sungkan, Pak. Pelakor kayak gitu memang kudu dikasi pelajaran."
__ADS_1
"Tapi tadi bibi keren banget lho. Ayah tau nggak, tadi si nenek sihir bibik siram pake air cabe. Lucu banget deh," ujar Nana tergelak mengingat bagaimana Nafisa tadi kepanasan sekaligus kepedasan. Bahkan ia sampai menabrak pintu dan dinding karena matanya yang pedih.
"Seriusan? Wah, bibi hebat banget."
"Bibi gitu lho. Abisnya dia jahat banget. Ngata-ngatain mbak Aliyah cacat lah. Ini lah itu lah. Gimana bibi nggak marah."
"Makasih ya, bi, udah belain Aliyah segitunya."
"Nggak masalah, pak. Oh ya, sekarang udah sore, bibi pamit pulang dulu ya, pak, neng Nana."
"Bibi mau pulang sekarang? Tunggu sebentar, bi."
Amar segera berdiri dan mengambil dompet di saku belakang celananya. Lalu ia mengeluarkan dua lembar uang merah dan memberikannya pada bi Lela.
"Ini uang buat ongkos bibi."
"Eh, nggak usah, pak. Ini mah kebanyakan."
"Nggak papa, bi. Terima aja. Buat bibi beli makanan untuk anak-anak bibi, mungkin."
"Iya, bi. Terima aja. Rejeki," timpal Nana.
"Wah, makasih banget kalau begitu, pak. Kalau begitu, bibi permisi pulang dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
...***...
"Al, makan malam, yuk!" bujuk Amar. Sejak sore, Aliyah tak mau beranjak dari tempat tidur. Matanya masih terlihat begitu bengkak. Hatinya merasa sakit melihat keadaan sang istri yang pastinya sangat kecewa dengannya.
Aliyah diam tak bergeming. Perasaannya masih campur aduk. Padahal Amar sudah menjelaskan kalau ia tidak pernah menyentuh Nafisa, tapi rasa ragu itu masih menyergap. Mengingat bagaimana Amar dulu lebih memprioritaskan Nafisa dibandingkan dirinya membuatnya meragu. Apalagi Amar kerap menghabiskan waktu berdua saja dengan Nafisa, bagaimana ia tidak berpikiran buruk padanya.
"Al," panggil Amar lagi sambil menyentuh pundak Aliyah.
Tapi dengan cepat Aliyah tepis tangan itu membuat Amar merasa terluka.
"Jangan sentuh aku!" sentaknya dengan ekspresi jijik di wajahnya.
"Al, bukankah aku sudah bilang kalau aku tidak pernah menyentuhnya?" ucap Amar dengan nada meninggi.
Aliyah tersentak. Matanya kembali berkabut.
Amar tersadar dan makin merasa bersalah.
"Al, Sayang, maaf, maaf, aku nggak bermaksud ... "
__ADS_1
Melihat Aliyah makin tersedu, tanpa pikir panjang, Amar langsung menariknya ke dalam pelukannya. Aliyah berontak. Namun Amar justru makin mengeratkan pelukannya.
"Lepas!" teriak Aliyah.
"Nggak. Sampai kapanpun aku nggak mau melepaskan kamu."
"Lepaskan aku. Kamu jahat. Kamu kejam. Kamu menjijikkan. Kamu laki-laki brengsekkk. Kamu bajingaan." Aliyah terus mengeluarkan segala macam umpatan dan kata-kata kasar sambil memukul-mukul punggung Amar yang mendekapnya erat.
"Ya, kau benar, Sayang. Aku memang jahat, aku memang kejam. Aku laki-laki brengsekkk. Aku laki-laki bajingaan. Pukul aku. Maki aku. Aku tak apa. Aku terima. Tapi harus satu yang yang kau tahu, aku sangat mencintaimu, Al. Sangat mencintaimu. Maafkan aku sudah membuatmu terluka begitu dalam. Maaf, maaf, maaf ... "
Amar ikut menangis. Aliyah bisa merasakan tubuh Amar bergetar hebat. Seumur hidup, Aliyah baru sekali Aliyah melihat Amar menangis, yaitu saat ia sadarkan diri setelah hampir meregang nyawa karena melahirkan Nana.
Dan kini, ini merupakan kali kedua Amar menangis. Sebelumnya, saat koma, Aliyah memang sering samar-samar mendengar suara tangisan seperti ini. Namun ia tak yakin kalau itu merupakan tangisan dari Amar. Tapi mendengar suara isakan itu, membuat Aliyah sadar, suara tangisan samar itu sama persis.
"Apa mungkin selama aku koma Mas Amar memang selalu menangisiku?" batin Aliyah bertanya-tanya.
"Al, percayalah padaku. Aku mohon. Satu yang harus kau tahu, sejak dulu, hanya kau pemilik baik raga ini maupun hati ini. Mungkin sebelumnya aku sempat khilaf dengan dekat dan memprioritaskan perempuan lain, tapi sumpah, aku tidak pernah mencintainya. Hanya kau. Hanya kau yang aku cintai. Hanya kau pemilik raga ini. Hanya kau yang pernah aku sentuh hingga bagian terdalam. Begitu pula hanya kau yang pernah menyentuhku. Hanya kau, hanya kau," ujarnya dengan suara seraknya. Suara Amar sedikit tercekat karena sesak di dada pun tangisan yang sekuat tenaga ditahan, namun tak bisa.
Air mata Aliyah makin deras. Kini ia semakin yakin, Amar lah yang hampir setiap hari menangisinya saat matanya terpejam. Memang saat koma, ia masih bisa mendengar suara sekitar. Namun karena ia masih berada di bawah alam sadar, ia tidak tahu suara siapa yang berbicara ataupun menangis itu.
Aliyah sering mencoba mencari asal suara, tapi ia tidak bisa menemukannya. Ia bagaikan terperangkap di sebuah labirin yang begitu luas dan sunyi. Oleh sebab itu, ia bisa mendengar suara-suara. Namun ia tidak bisa menemukan sumbernya. Ia berlari kesana kemari hingga nyaris putus asa, tapi tak kunjung menemukan sumber suara.
Hingga akhirnya, saat mendengar tangisan seseorang yang begitu memilukan. Tangisan seseorang yang terus memanggilnya ibu, barulah ia bisa menemukan jalan keluar dari labirin tersebut.
"Mas ... " lirih Aliyah.
Amar tercekat, sudah lama ia tidak mendengar panggilan lembut ini dari sang istri.
Amar lantas merenggangkan pelukannya dan menatap netra sang istri tak percaya.
Lalu ia mengusap lelehan air mata di pipi Aliyah tanpa memutus pandangannya.
"Mas Amar," ucap Aliyah dengan bibir bergetar.
"Al ... "
Air mata Amar makin tumpah ruah. Ia sudah sangat merindukan panggilan ini. Ia merasa bahagia, akhirnya ia bisa kembali mendengar panggilan merdu ini dari bibir sang istri.
"Aliyah, Sayangku, Mas merindukanmu," lirih Amar yang kembali merengkuh tubuh Aliyah ke dalam pelukannya. Bila biasanya Aliyah diam tak bergeming, maka kali ini Aliyah mau mengangkat tangannya dan membalas pelukan Amar.
Mereka saling menumpahkan tangisannya. Tangisan penuh kerinduan, kasih sayang, dan rasa cinta.
Amar berjanji, ia takkan pernah menyakiti Aliyah lagi. Ia takkan menyia-nyiakan kesempatan ini lagi. Ia akan membahagiakan Aliyah, seumur hidupnya.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...