Penyesalan Anak Dan Suami

Penyesalan Anak Dan Suami
PAS 40


__ADS_3

"Aliyah ... "


Amar tersentak. Matanya mengerjap saat kepalanya berlarian ke kanan dan ke kiri. Berusaha mencerna keberadaan dirinya saat ini.


Nafasnya masih memburu. Secepat mungkin Amar mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Setelah beberapa detik kemudian, Amar pun beristighfar. Lalu meraup wajahnya kasar. Betapa mimpi tadi seakan nyata.


Namun rasa ketakutan masih menggelayuti. Amar pun bergegas bangkit dari atas sajadah tempat ia tertidur tadi.


Tadi Aliyah mengalami kejang-kejang. Sang ibu pun segera menghampiri ia dan sang ayah untuk mengabarkan apa yang terjadi pada Aliyah. Amar pun bergegas menuju ruangan Aliyah. Menanti kabar dengan jantung berdegup. Rasa takut benar-benar menguasai hati dan pikiran.


Karena rasa takut luar biasa, Amar sampai berlari serampangan. Ia bahkan sampai terjatuh dan terguling di undakan anak tangga karena rasa takut yang mencengkeram erat jantungnya.


Doa-doa tak lepas Amar lafalkan di setiap langkahnya, berharap Allah masih menyayangi dirinya dan mau memberikannya kesempatan untuk menebus segala dosa dan salahnya.


"Al, Aliyah," pekik Amar sesampainya di depan ruangan Aliyah. Bersamaan itu, dokter keluar dari dalam ruangan. Amar pun gegas mendekat dan bertanya padanya tentang keadaan sang istri.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Amar.


Dokter tersebut tersentak, "kondisi istri Anda sudah stabil. Meskipun masih belum bangun dari komanya, tapi semoga saja ke depannya akan ada kemajuan," tukasnya membuat Amar akhirnya dapat bernafas lega.


Setelah menemani Aliyah berjam-jam lamanya, ternyata sudah masuk waktu Isya. Amar pun kembali ke mushola untuk menunaikan kewajibannya. Mungkin karena terlalu lelah, Amar pun menguap dan membaringkannya tubuhnya di sana. Ia bermaksud untuk memejamkan mata sejenak, mengusir rasa kantuk sebelum kembali ke ruangan Aliyah. Namun ternyata dalam tidurnya, ia bermimpi buruk yang membuatnya nyaris tak bisa bernafas.


Dalam mimpinya Aliyah pergi meninggalkannya. Pergi untuk selamanya. Pergi tanpa memberikan kesempatan untuknya meminta maaf maupun menebus segala salah dan khilafnya.


Dengan nafas yang masih memburu, Amar pun berlarian menuju ruangan Aliyah. Melihat istrinya masih bernafas meskipun dengan alat bantu di hidungnya, membuat Amar menarik nafas lega. Bahkan ia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas lantai marmer yang dingin, melakukan sujud syukur karena Aliyah masih ada. Ia belum pergi. Semua hanya mimpi buruk.


Ternyata mimpi mimpi tersebut bukan hanya menghampiri Amar, tetapi juga sang putri, yaitu Nana.


Nana menangis histeris di rumahnya agar segera diantarkan ke rumah sakit. Kedua orang tua Aliyah lantas menyarankan untuk menelpon Amar untuk mengetahui keadaan Aliyah.

__ADS_1


"Ayah," pekik Nana saat sambungan telepon terhubung.


Amar pun segera sedikit menjauh untuk berbicara dengan sang putri.


"Ada apa, Na? Kenapa kamu sampai berteriak kayak gitu?"


"Ayah, ibu mana? Nana mau liat ibu? Ibu nggak papa kan? Ibu ... Ibu nggak pergi ninggalin kita kan?" tanya Nana sambil terisak-isak.


Amar terhenyak. Apakah Nana pun bermimpi sama seperti yang ia mimpikan.


"Kenapa Nana tanya begitu? Ibu nggak papa kok. Kamu mau liat ibu?"


Nana dengan sigap mengangguk, tak peduli Amar dapat melihatnya atau tidak.


"Iya ayah. Nana mau liat ibu. Nana ... Nana tadi mimpi ibu pergi ninggalin kita. Nana nggak mau, Ayah. Nana takut. Nana mau ikut ibu saja kalau ibu sampai pergi. Nana nggak mau kehilangan ibu," ucapnya sambil sesenggukan.


Lalu Amar dengan cepat mengubah mode panggilan menjadi panggilan video. Amar juga mendekatkan kameranya ke hadapan Aliyah.


Saat melihat wajah pucat sang ibu, Nana makin menangis. Ia terus menyerukan nama sang ibu dengan air mata berderai.


"Bu, ibu bangun dong, Bu. Ini Nana. Nana kangen ibu. Nana kangen masakan ibu. Nana kangen suara ibu. Bangun dong, Bu. Nana janji bakal jadi anak penurut. Nana akan bantu ibu jaga adik-adik. Nana juga mau bantu ibu masak, nyapu, cuci piring, apa saja, asalkan ibu bangun. Ibu, Nana takut. Jangan tinggalin Nana, Bu. Nana mohon, Bu. Bangunlah. Bu, Abang Gaffi dan adek Amri juga kangen ibu. Mereka nangis terus cariin ibu. Nana mohon, Bu, bangun. Jangan pergi. Jangan tinggalin kami. Huhuhu ... "


Amar dan orang tua Aliyah serta bunda Naima ikut meneteskan air mata saat mendengar permohonan Nana. Mereka pun bisa merasakan betapa kesedihan dan ketakutan yang Nana rasakan.


Tiba-tiba saja, Aliyah kembali kejang-kejang. Amar panik. Begitu pula Nana yang melihat secara langsung meskipun hanya melalui panggilan video. Semua orang panik. Rasa ketakutan kian menyergap benak semua orang terlebih itu adalah Amar dan Nana.


Amar pun segera menutup panggilan sepihak, kemudian ia bergegas memanggil dokter. Tak butuh waktu lama, dokter dan perawat pun berlarian ke ruangan Aliyah.


"Saya mohon, Dok, izinkan saya ikut masuk ke dalam," mohon Amar yang ketakutan. Takut kalau ini merupakan pertanda kalau ia tidak memiliki kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahannya.

__ADS_1


"Maaf, pak, sebaiknya Anda tunggu di sini. Percayalah pada kami, kami pasti akan mengupayakan yang terbaik untuk kesembuhan ibu Aliyah."


Amar akhirnya hanya bisa pasrah. Tubuhnya melorot ke lantai. Ia menangis tersedu-sedu.


"Ya Allah, hamba mohon, sembuhkanlah Aliyah. Jangan ambil dia dari kami. Kalau perlu, cabutlah nyawa hamba asalkan Aliyah bisa bangun lagi. Asalkan Aliyah bisa kembali sehat. Hamba mohon yang Allah, tunjukkan lah kebesaran-Mu. Hamba mohon Ya Allah, sembuhkanlah. Sembuhkanlah. Sembuhkanlah istri hamba. Hamba mohon."


Tak berselang lama kemudian, pintu terbuka. Dari dalamnya seorang pria berpakaian snelli keluar dengan senyum merekah di wajah lelahnya.


Amar pun gegas berdiri menghampiri sang dokter.


"Pak Amar, selamat, istri Anda sudah sadarkan diri. Tapi untuk sementara waktu, Anda belum bisa melihat keadaannya sebab kondisinya masih lemah dan masih harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut."


Mendengar penuturan sang dokter, Amar bahagia bukan main. Ia bahkan langsung melakukan sujud syukur.


Keesokan harinya, Amar dan seluruh keluarga telah berdiri di depan pintu ruangan Aliyah. Dengan tak sabaran, Amar pun bergegas masuk saat sudah dipersilahkan.


"Sayang, alhamdulillah, akhirnya kau sadarkan diri. Aku benar-benar senang sekali," ucapnya yang langsung berhambur menggenggam tangan Aliyah. Aliyah melirik, tapi tak sepatah katapun keluar dari bibirnya. Sorot matanya kosong. Berbeda dengan tatapan Aliyah selama ini. Ia seperti seseorang yang berbeda.


"Al, kau mendengar ku? Kenapa kau hanya diam?" tanya Amar yang jantungnya sudah berdegup dengan sangat kencang sekali.


"Pergi!" desisnya.


Amar terhenyak, "Al, ini aku, Sayang. Amar, suamimu, kenapa kau malah menyuruh ku pergi. Aku ... "


"Pergi!" desisnya lagi. Pelan, tapi penuh penekanan.


...***...


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2