Penyesalan Anak Dan Suami

Penyesalan Anak Dan Suami
PAS 42


__ADS_3

Hari berganti hari, tak terasa satu Minggu telah berlalu semenjak hari dimana Aliyah akhirnya sadarkan diri. Namun sedari hari tersebut juga, Aliyah terus saja bungkam bila bertemu Amar. Bahkan setiap Amar ingin mengajaknya bicara, Aliyah justru memalingkan muka. Seolah ia begitu alergi melihat suaminya itu.


"Al, sudah waktunya makan siang. Kamu makan dulu ya. Ini aku beliin kamu sup tulang sapi. Katanya sum-sum tulang sapi bagus untuk kesehatan tulang karena mendukung fungsi sendi," ujar Amar seraya meletakkan nampan berisi nasi, sup tulang sapi, dan tahu goreng sebagai lauk. Tak lupa ia membawa air minum kemasan untuk Aliyah.


Baru saja Amar ingin menaikkan sedikit ranjang agar Aliyah bisa makan dengan mudah, tapi baru saja Amar hendak menekan tuasnya, Aliyah lebih dulu mencegah.


"Tak perlu. Panggilkan saja perawat ke sini," ujarnya dingin membuat Amar nyaris membeku. Tak ada lagi Aliyah yang lemah lembut, ramah, dan hangat. Yang ada sekarang hanyalah Aliyah yang benar-benar dingin. Bahkan mereka nyaris tak pernah saling berbicara. Kalaupun Aliyah bersuara, hanya sepatah atau beberapa kata saja. Benar-benar irit bicara. Bukan hanya pada dirinya saja, tapi juga pada Nana. Aliyah hanya akan tersenyum pada ibunya dan kedua mertuanya juga dua anak laki-lakinya.


Amar tidak bisa menyalahkan Aliyah. Tak ada asap kalau tak ada api. Semua terjadi berasal dari perbuatannya sendiri. Ini konsekuensi dari segala perbuatannya yang memang sudah sangat keterlaluan.


"Al, aku suamimu. Apa salahnya kau menerima bantuanku?" tanya Amar lirih.


Bukannya menjawab, Aliyah justru bungkam dan memilih memalingkan wajah.


Amar hanya bisa menghela nafas pasrah. Ia pun segera memanggil perawat untuk membantu istrinya makan.


Menjelang sore, Amar dan kedua orang tua Aliyah telah berkumpul di rumah sakit untuk menjemput Aliyah. Hari ini ia sudah diizinkan pulang. Namun ia masih harus melakukan terapi 2 kali seminggu. Pertama terapi untuk kesembuhan kanker otaknya untuk mencegah agar tidak kembali lagi. Sudah rahasia umum, penyakit kanker merupakan penyakit yang sukar benar-benar disembuhkan. Pasien harus melakukan perawatan rutin agar sel kanker tidak kembali tumbuh dan menyebar lebih luas ke organ yang lain. Aliyah juga mesti melakukan terapi untuk kesembuhan kakinya. Bagian pinggang masih ada rasa sakit, tapi bagian kaki Aliyah benar-benar mati rasa. Ia tidak bisa menggerakkannya sama sekali.


Sungguh, Amar amat sangat menyesali perbuatannya yang lalai memperhatikan kesehatan sang istri. Amar berjanji, akan mendampingi Aliyah sampai ia benar-benar sembuh sebagai bentuk penebusan kesalahannya. Tak peduli Aliyah mengabaikan keberadaan dirinya maupun tidak mengacuhkannya. Ia akan terus berusaha untuk mendekat dan melakukan apapun semampunya demi mengembalikan Aliyah-nya yang dulu.


Aliyah yang tak bisa berjalan terpaksa di dudukkan di kursi roda. Abah Ahmad yang mendorong kursi roda dan Emak Laila berjalan di samping Aliyah. Sementara Amar tampak membawakan barang-barang Aliyah seperti tas berisi pakaian dan perlengkapan Aliyah.


Setibanya di depan mobil, Amar pun gegas membuka bagasi dan memasukkan barang-barang. Setelahnya, ia membuka pintu depan untuk Aliyah. Amar mengulurkan tangan untuk menggendong Aliyah ke dalam mobil, tapi Aliyah menolak.


"Bah, Aliyah mau duduk di belakang aja. Bisa Abah tolong ... gendong Aliyah ke dalam mobil," pinta Aliyah yang sebenarnya malu menyusahkan orang tuanya. Namun apa daya, kakinya tidak bisa digerakkan sama sekali membuatnya terpaksa merepotkan orang tua yang seharusnya rehat di masa tuanya.


"Nak, kamu di depan saja ya sama Amar. Biar bapak sama ibu di belakang. Lagipula tangan bapak udah nggak kuat angkat-angkat berat. Maaf ya, Nak. Bukannya tidak mau," ujar Abah Ahmad yang sebenarnya hendak memberikan kesempatan bagi Amar agar bisa kembali dekat dengan sang putri.


"Tapi Bah ... "


"Al, Abah benar. Ya udah, Amar, tolong gendong Aliyah yah! Kamu sanggup kan? Atau kamu sudah kehilangan tenaga kamu buat gendong anak Emak?" seloroh Emak Laila mencoba memecah kecanggungan. Melihat perubahan Amar, sebagai orang tua, mereka pun tak kuasa untuk terus-menerus menghakimi. Sebagai orang tua, mereka hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anak menantunya tersebut.


"Amar masih sanggup kok, Mak. Malah kalau emak mau Amar gendong sampai ke rumah pun, Amar sanggup," balas Amar sambil terkekeh.


"Iya, sanggup. Tapi sampe rumah kaki kamu pada bertelur kalo nggak ya copot," timpal Abah Ahmad.


"Nggak masalah. Demi anak emak dan Abah yang paling aku cintai, aku rela," ucap Amar tanpa malu-malu di hadapan kedua mertuanya.

__ADS_1


Amar melirik wajah Aliyah, tak ada ekspresi apapun di sana. Hanya ada wajah datar dan dingin.


'Apakah seperti ini rasanya diabaikan? Ternyata benar-benar menyedihkan. Maafkan aku Aliyah, pasti saat itu kau merasa amat sangat tersiksa karena sikapku.'


Abah Ahmad menepuk pundak Amar untuk menguatkan menantunya itu. Ia memang kecewa pada Amar, tapi melihat bagaimana penyesalan dan perjuangan Amar demi kesembuhan sang putri, membuat perlahan amarah dan kekecewaan tersebut surut dengan sendirinya. Meskipun perjuangannya belum sebanding dengan apa yang Aliyah rasakan selama ini, tapi setidaknya Amar terus berusaha memperbaiki diri.


Abah Ahmad dan emak Laila lantas masuk ke dalam mobil bagian belakang, sementara itu dengan hati-hati Amar mengangkat Aliyah dan mendudukkannya di kursi depan samping kemudi. Saat disentuh, tubuh Aliyah sontak menegang. Bahkan kedua tangannya masih berada di atas pangkuannya. Ia bersikap seolah enggan bersentuhan dengan Amar. Bahkan wajahnya pun ia palingkan ke arah lain agar tidak bersitatap dengan suaminya tersebut.


...***...


Mobil telah melaju membelah jalanan di sore hari. Tampak semburat senja menghiasi langit yang mulai membentuk spektrum jingga.


Aliyah memalingkan wajahnya ke samping. Sudah lama ia tidak menikmati keindahan langit senja seperti ini. Sudah lama pula ia tidak menikmati keindahan jalan seperti ini.


Aliyah menurunkan jendela kaca. Angin berhembus menerpa wajah Aliyah. Sekelebat ingatan bagaimana Amar mengabaikannya lagi-lagi membuat hatinya terasa perih. Sebenarnya ada rasa enggan bagi Aliyah untuk menginjakkan lagi kakinya di rumahnya itu. Rasa sakit yang Amar torehkan nyatanya membuatnya nyaris mati rasa.


Rasanya ia ingin pergi jauh atau kembali ke kampung halamannya, tapi melihat keadaannya yang cacat membuat Aliyah merasa frustasi. Kembali ke kampung sama saja kembali merepotkan kedua orang tuanya. Mana mungkin ia melakukan itu. Kedua orang tuanya sudah lanjut usia. Sudah tak layak untuk kembali direpotkan. Mana mungkin ia tega menyusahkan orang tuanya.


Setitik air mata menetes dari kedua sudut matanya. Ia menyesal, kenapa di masa tuanya, bukannya ia memberikan kebahagiaan bagi kedua orang tuanya, tapi justru sebaliknya. Ia justru kembali membuat mereka susah dan gelisah.


'Ya Tuhan, kenapa kau tidak mencabut nyawaku saja kalau daripada hidup tapi menyusahkan orang lain.'


Tak sampai 30 menit kemudian, mobil Amar pun masuk ke pekarangan rumahnya. Sorak sorai Nana dan kedua adiknya terdengar menyambut kepulangan Aliyah.


"Ibu ... "


"Abang Gaffi, Amri ... "


Setelah di dudukkan di kursi roda, Aliyah pun menyambut Gaffi dan Amri dengan senyum merekah. Namun saat Nana mendekat, senyum itu seketika surut. Kekecewaan Aliyah pada sang putri membuatnya kehilangan senyumnya. Mata Nana memanas. Ia pun langsung bersujud di kaki Aliyah sambil menangis tersedu.


"Ibu, maafin Nana. Maafin kesalahan Nana. Nana menyesal, Bu. Maafin kesalahan, Nana. Nana mohon. Nana mohon, Bu."


Aliyah diam tak bergeming. Mulutnya tertutup rapat bagai terkunci.


"Na, bangun, Nak. Ibu masih harus istirahat. Nanti Nana bisa bicara sama ibu lagi ya," bujuk Bunda Naima pada sang cucu.


"Tapi eyang ... "

__ADS_1


"Apa kata Eyang kamu benar, Na. Nanti Nini bantu Nana bicara sama ibu. Tapi untuk sekarang jangan dulu, ya. Ibu harus banyak istirahat supaya cepat pulih," bujuk Emak Laila.


"Ya udah, Nana, Abang Gaffi, sama adek Amri main sama Aki dulu ya," ajak Abah Ahmad.


Dengan air mata berderai, Nana pun mengikuti Abah Ahmad yang sudah berjalan lebih dulu sambil menggandeng Gaffi dan mengendong Amri.


Sementara itu, Amar mendorong kursi roda Aliyah menuju kamar mereka. Tapi baru saja kursi roda tersebut berada di depan pintu kamar mereka, Aliyah sudah lebih dulu menginterupsi.


"Aku tidak mau tidur di sini."


"Apa? Ah, maksudku kenapa? Ini kamar kita, Al. Kenapa kau justru tidak mau tidur di sini?"


"Aku ingin tidur di kamar Gaffi," putus Aliyah yang langsung mendorong kursi rodanya menuju kamar Gaffi dan Amri.


Amar hanya bisa menatap nanar Aliyah yang sangat kentara hendak menjauhi dirinya.


Namun Amar yang sudah bertekad untuk memperjuangkan Aliyah lagi, takkan pernah putus asa. Terserah Aliyah ingin menolak maupun menjauhinya, ia takkan pernah menyerah.


Amar lantas segera menahan kursi roda dan membelokkannya kembali ke kamar.


"Al, jangan lupa, kau tidak bisa berjalan saat ini. Kalau kita pisah kamar, siapa yang mau bantuin kamu ke WC kalo kamu tiba-tiba mau pipis atau mau pup? Atau kamu mau pake diaper seperti Amri, begitu?" goda Amar sambil menaik-turunkan alisnya.


Mata Aliyah sontak mendelik, mana mau ia pakai diaper seperti Amri. Memangnya ia bayi apa?


Dengan wajah cemberut, akhirnya Aliyah hanya bisa pasrah saat Amar mendorong kursi rodanya ke kamar mereka dengan senyum penuh kemenangan.


Dari kejauhan, Emak Laila dan Bunda Naima menatap kedua pasangan suami istri itu dengan senyum merekah.


"Semoga Amar benar-benar berubah dan berusaha memperbaiki kesalahannya ya, Naima."


"Iya, La. Aku pun berharap seperti itu. Semoga saja perjuangan Amar berbuah manis."


"Tapi bagaimana kalau Amar kembali mengulang kesalahannya?" Emak Laila sebenarnya masih khawatir kalau Amar kembali mengulang kesalahannya.


"Kamu tenang saja, aku jamin Amar takkan mengulangi kesalahannya lagi. Kalaupun sampai itu terjadi, aku janji, aku akan menghukumnya dengan tanganku sendiri. Kalau perlu, aku takkan menganggapnya anak lagi," ucap Bunda tegas.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...


__ADS_2