Penyesalan Anak Dan Suami

Penyesalan Anak Dan Suami
PAS 80


__ADS_3

Akhirnya Budi sekarang resmi ditahan setelah semua bukti kejahatannya rampung. Tentu saja hal tersebut merupakan angin segar bagi Amar sebab akhirnya hidup keluarga kecilnya akan kembali tenang dan damai.


Tok tok tok ...


"Assalamu'alaikum," ucap Aliyah dari balik pintu. Amar yang sedang berbalas pesan dengan Herman pun segera mendongakkan kepalanya. Senyumnya seketika merekah saat melihat kedatangan sang istri.


"Sayang," ucapnya dengan mata berbinar cerah. Ia pun segera meletakkan ponselnya kemudian merentangkan kedua tangan agar Aliyah segera masuk ke dalam dekapannya.


Dengan wajah memerah malu sebab ia datang ke sana bukan sendirian, melainkan bersama sang ibu mertua pun berjalan mendekati ranjang. Ia lantas segera menghamburkan tubuhnya ke pelukan Amar.


"Sayang, Mas kangen banget. Padahal baru satu malam nggak ketemu, udah kangen berat," ujar Amar.


Aliyah tersipu, kemudian memukul pelan lengan atas Amar.


"Gombal," cibirnya dengan perasaan membuncah. Mereka bak pasangan remaja yang dilanda kasmaran saja.


"Heh, sepertinya bunda dianggap racun nyamuk nih," seloroh Bunda Naima membuat Amar terkekeh. Lalu ia pun mengurai pelukannya.


"Bunda ih, ganggu anaknya lagi kangen-kangenan aja. Bilang aja bunda iri. Tuh, ada duda high quality, kenapa nggak sama dia aja, Bun. Amar setuju kok," sahut Amar merujuk pada Pak Akmal, pemilik perusahaan tempatnya bekerja.


"Ck ... kamu apa-apaan sih, Mar. Mana mungkin lah orang seperti Akmal suka sama Bunda. Kita itu beda jauh, tau. Ibarat kata, nggak selevel," sungut bunda Naima membuat Amar kian tergelak.


"Jadi kalau pak Akmal mau, bunda mau juga, gitu?" goda Amar lagi yang membuat bunda Naima seketika kesal dan melempar anaknya tersebut dengan bantal sofa.


"Ni anak ngeselin banget sih. Dah ah, bunda mau ke kafetaria sebentar. Haus," ujar Bunda Naima seraya membalikkan badannya pergi dari sana.


Setelah kepergian Bunda Naima, Amar pun tergelak kencang.


"Mas ih, seneng banget godain bunda."


Amar berdeham untuk mengontrol tawanya, "mas itu hanya kasihan dengan bunda, Sayang. Bertahun-tahun hidup seorang diri, tanpa ada seorang laki-laki yang mendampingi, rasanya egois sekali kalau Mas diam saja membiarkan bunda menghabiskan sisa waktunya dalam kesepian. Mas sangat berharap Bunda bisa menemukan kebahagiaannya yang hilang. Mas ingin sekali melihat bunda bahagia dengan seseorang berdiri di sampingnya, menjaganya, melindunginya, mencurahkan cinta dan kasihnya. Mas masih ingat bagaimana beratnya perjuangan bunda untuk membesarkan Mas dan Amara. Berjuang seorang diri, tanpa kenal lelah, tanpa satu orang pun yang mendampingi, demi anak-anaknya, banting tulang siang dan malam. Mas juga kerap melihat bunda menangis di setiap sujudnya. Menangisi pengkhianatan ayah, menangisi nasibnya yang malang, menangisi nasib kami yang harus merasakan kepahitan hidup dan kehilangan seorang ayah. Luka hati bunda itu begitu dalam karena hal itulah yang membuat Mas makin membenci ayah," papar Amar sambil menerawang, mengenang masa lalunya yang menyedihkan. "Dan ... Mas hampir saja mengikuti jejak ayah. Sampai sekarang, Mas merasa amat sangat menyesal. Mas sungguh bodoh ya, Sayang. Mas benci perbuatan ayah, tapi Mas hampir mengikuti jejaknya," imbuhnya sedih saat mengingat bagaimana ia sudah menyakiti dan mengecewakan Aliyah serta anak-anaknya.


Aliyah tersenyum, "semua sudah menjadi masa lalu, Mas. Tidak perlu diingat-ingat lagi. Yang penting di masa depan Mas tidak mengulangi kesalahan serupa. Anggap saja itu merupakan salah satu ujian dari perjalanan rumah tangga kita. Tidak ada rumah tangga yang berjalan mulus begitu saja. Setiap rumah tangga memiliki ujiannya masing-masing. Cukup jadikan pelajaran, ambil hikmahnya. Semoga setelah ini rumah tangga kita jadi lebih kokoh ya, Mas," ujar Aliyah bijak.


"Aamiin. Semoga ya, Sayang. Maaf, selama menjadi suami, Mas masih memiliki banyak kekurangan."


"Tidak ada manusia yang sempurna, Mas. Setidaknya kita selalu berusaha memperbaiki diri."


Amar tersenyum kemudian merengkuh tubuh Aliyah ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Oh ya, Mas, hampir lupa, kakimu ... Sudah benar-benar bisa berjalan, Sayang?" Amar melerai pelukannya kemudian menyentuh kaki Aliyah.


"Sepertinya begitu, Mas. Sebentar lagi Aliyah mau kontrol."


Amar tersenyum lebar, "Alhamdulillah ya Allah. Mas nggak nyangka banget lho hari itu tiba-tiba liat kamu berdiri. Mas sampai speechless. Ternyata ada hikmah di balik musibah yang menimpa kita," ujarnya begitu bahagia.


Sore harinya, ditemani Amar dan Bunda Naima, Aliyah pun melakukan pemeriksaan pada kedua kakinya. Amar dan Bunda Naima sampai tak henti-henti mengucapkan hamdalah sebab akhirnya Aliyah bisa kembali berjalan. Dan menurut hasil pemeriksaan, kaki Aliyah sudah benar-benar sembuh.


Begitu banyak mukjizat yang datang dalam hidup Aliyah. Padahal baru beberapa hari lalu ia memeriksa keadaan sel kanker yang sempat sebulan lalu terdeteksi belum benar-benar hilang, tapi saat diperiksa lagi, sel kanker itu sudah tidak ada lagi. Kanker yang sempat menggerogoti kepala Aliyah dinyatakan hilang sehingga Aliyah pun dinyatakan sembuh total.


Mereka hanya diminta jaga-jaga agar Aliyah tidak kelelahan berlebihan saja sebab ginjal Aliyah tinggal satu. Sedangkan untuk kesempatan hamil lagi, dokter menyatakan masih bisa. Namun harus sering-sering kontrol agar semuanya tetap aman terkendali.


Amar saat itu senang bukan main. Lalu ditambah kesembuhan kaki Aliyah, makin bertambahlah kebahagiaannya. Amar tak henti-hentinya mengucapkan syukur dalam hati atas segala mukjizat dan kesempatan yang Allah beri.


"Mas beneran mau pulang? Tapi luka Mas masih buru-buru gini lho. Aliyah aja ngeri melihatnya," ujar Aliyah saat mendengar sang suami minta dipulangkan hari itu juga.


"Iya, Mar, kamu di sini aja dulu sampai luka-luka kamu sembuh."


"Mas mau beristirahat di rumah aja, Sayang. Justru kalo di rumah, sakit Mas bisa cepat sembuh karena obat sakit Mas itu kamu dan anak-anak," ujarnya pada Aliyah. "Aku mau penyembuhan di rumah aja ya, Bun. Please!" melas Amar. Bunda Naima yang tidak tega pun mengiyakan.


"Ya udah, biar bunda urus administrasinya."


"Eh, kamu Mal, sejak kapan kamu berada di situ?" tanya bunda Naima heran sebab Pak Akmal tiba-tiba saja ikut nimbrung ke percakapan mereka.


"Sejak beberapa menit yang lalu."


"Kenapa baru masuk?"


Pak Akmal tersenyum salah tingkah, "ya sudah, aku urus administrasinya dulu."


"Kenapa kamu yang urus?" tanya Bunda Naima heran. Memangnya Amar itu siapanya dia? Hanya karyawan saja, kenapa sang atasan mesti repot-repot turun tangan sendiri?


"Terima kasih, Pak. Maaf sudah merepotkan," sela Amar yang sebenarnya paham maksud gerak-gerik sang bos besar.


"Ya sudah, kita urus berdua saja," putus bunda Naima akhirnya.


Setelah pak Akmal dan bunda Naima keluar, Amar pun terkekeh kecil.


"Sepertinya kita akan segera memiliki calon ayah mertua, Yang."

__ADS_1


"Hah! Kok bisa?" tanya Aliyah bingung.


Amar gemas dengan sikap tidak peka Aliyah terhadap hal-hal demikian pun mencubit pipinya pelan.


"Kamu tuh ya kok makin gemesin. Mas jadi pingin cepet pulang terus kekepin kamu seharian," banyol Amar.


Sementara itu, di sebuah rumah yang cukup besar, ada seorang wanita paruh baya dengan penampilan acak-acakan tampak berteriak histeris.


"Fisa, Fisa, kamu dimana, Sayang? Ini Mama, Nak. Fisa ... " pekiknya sambil mengacak-acak rambutnya.


Lalu ia melihat sebuah boneka yang dipajang di atas ranjang Nafisa. Wanita itupun tersenyum kemudian meraihnya ke dalam gendongan.


"Sayang, cup, cup, cup, jangan nangis ya! Ini mama. Mama ... Ciluk Baa, ciluk Baa ..."


"Fisa kok masih nangis? Kamu haus ya, Sayang. Ya udah, Fisa tunggu ya, mama buat susu dulu."


Lalu wanita paruh baya itu meletakkan boneka itu di atas kasur. Kemudian ia berlarian menuju dapur. Dahinya mengernyit saat melihat tatanan dapurnya sendiri. Ia bingung harus melakukan apa.


"Ah, aku harus masak air dulu ya. Kompornya mana ya. Ah, ini."


Wanita itupun mencari sesuatu untuk wadah air. Dilihatnya ada ceret untuk memasak air. Diisinya ceret tersebut dengan air. Setelah itu diletakkannya ceret tersebut di atas kompor.


"Ini nyalainnya gimana ya?"


Wanita itu lagi-lagi bingung. Kemudian ia mengotak-atik kompor tersebut hingga apinya pun menyala.


Wanita itupun bertepuk tangan saat kompor berhasil menyala.


Seketika ia ingat dengan boneka yang dianggapnya Nafisa yang masih bayi. Ia pun segera kembali ke dalam kamar dan menggendong bonekanya.


"Cup, cup, cup, Fisa jangan nangis. Ada mama di sini. Papa nggak akan bisa jahatin kita lagi. Nanti kita pergi yang jauh ya. Nanti mama akan cari papa baru yang baik, tidak seperti papa Fisa yang jahat. Cup, cup, cup ... Oh, Fisa ngantuk. Bobok yuk!"


Wanita yang tidak lain adalah Gita itupun berbaring sambil memeluk boneka yang dikiranya adalah Nafisa yang masih bayi. Semenjak kematian Nafisa, pikirannya memang terguncang. Pikirannya seolah kembali ke masa lalu, yaitu masa saat Nafisa masih bayi.


Akhirnya Gita pun tertidur sambil memeluk boneka. Ia tidak ingat kalau sedang menyalakan kompor. Kompor terus menyala, air yang dimasak Gita tadi perlahan mengering. Tanpa Gita ketahui, api sudah membesar dan menyambar barang-barang lain di dapur. Api pun kian membesar. Asap hitam sudah memenuhi sebagian rumah itu. Namun Gita masih asik tergolek tidur.


...***...


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2