
Keesokan harinya
"Eyang, adek mau es kim," ujar Amri yang sudah menarik-narik ujung gamis Bunda Naima.
"Abang mau juga, Eyang. Mau lasa stobeli," pekik Amri sambil berlari mendekat saat mendengar kalau sang adik ingin makan es krim.
Bunda Naima terkekeh, "ya sudah, kita pergi ke minimarket di depan yuk sama, Eyang. Tapi pamit sama ibu dulu ya!" ujar Bunda Naima sambil tersenyum lembut.
"Oke," pekik keduanya kegirangan. Mereka pun segera melangkahkan kaki kecil mereka menuju kamar sang bunda.
"Bu, Abang mau beli es klim sama Eyang dulu ya."
"Bu, adek mau es kim. Beli sama Eyang," ujar Amri.
Aliyah lantas mengusap puncak kepala kedua anaknya dengan tangan kanan dan kirinya.
"Ya udah, tapi jangan minta macam-macam ya. Terus jangan nakal. Jangan jauh-jauh dari eyang juga, oke?"
"Oke," jawab keduanya sigap. Kemudian mereka pun kembali berlarian menuju sang nenek yang sudah mengenakan jilbab instannya yang cukup panjang.
"Eyang ayo beli es kim," seru keduanya sambil menggandeng tangan sang nenek dengan senyum ceria di bibir keduanya. Mereka melangkahkan kaki menuju minimarket yang tidak jauh dari rumah dengan mulut berceloteh ruang. Meskipun kalimat yang terucap dari dua bibir mungil itu tidak begitu jelas, tapi bunda Naima masih bisa memahaminya. Tak sedikit bunda Naima terkekeh geli karena bahasa yang mereka gunakan harus membuat Bunda Naima berpikir ekstra. Meskipun usia Gaffi sudah hampir 6 tahun, tapi cara bicaranya masih belum begitu jelas. Alhasil, bunda Naima harus pintar-pintar memahami apa yang dikatakan anak itu. Andai ada kamus penerjemah, mungkin bunda Naima tidak perlu berpikir keras seperti ini.
Sementara itu, di rumah, Aliyah sedang membaca novel online di ponselnya. Ia membaca sebuah novel berjudul Saat Suamiku Berubah karangan D'wie. Aliyah tampak geregetan saat membaca bagaimana tokoh pria dalam cerita itu mengabaikan sang istri. Aliyah seketika merasa de javu dengan apa yang dialami sang tokoh perempuan. Dan hatinya makin sakit setelah tahu kalau tokoh prianya berubah karena sudah memiliki wanita lain.
Aliyah menghela nafas panjang. Setidaknya apa yang ia alami masih lebih baik. Sebab sang suami tidak pernah benar-benar mengkhianatinya. Tidak seperti tokoh pria dalam cerita yang bukan hanya memiliki wanita lain, tapi wanita itupun dalam kondisi hamil.
"Syukurlah Mas Amar tidak pernah benar-benar mengkhianatiku. Perempuan itu memang sedang hamil, tapi untungnya hamil anak orang lain. Kalau sampai seperti dalam cerita ini, aku pun akan melakukan hal yang sama seperti yang Zicka lakukan. Bercerai. Tak ada toleransi bagi seorang pengkhianat. Apalagi perempuan itu sampai hamil," gumam Aliyah yang tatap matanya masih terfokus ke layar ponsel.
Saat Aliyah sedang melangkah ke bab selanjutnya, tiba-tiba ponselnya berdering. Nama suaminya terpampang di sana. Yang membuat senyum Aliyah merekah adalah foto profil yang terpampang di sana. Itu adalah foto ia dan ketiga anaknya. Foto itu diambil beberapa hari yang lalu. Amar ternyata menjadikan foto tersebut sebagai foto profil di akun WhatsApp-nya. Jarang ada pasangan yang mau memampangkan foto anak dan istrinya sebagai foto profil. Biasanya mereka akan memajang foto diri mereka sendiri. Tapi Amar justru menggunakan foto ia dan anak-anaknya, membuat Aliyah tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya.
"Halo, assalamu'alaikum, Mas," ucap Aliyah setelah menggeser ikon gagang telepon ke atas.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam bidadari surganya, Mas," ucap Amar membuat Aliyah kembali tersenyum dengan semburat merah di pipi. Aliyah sampai menelan ludahnya karena tersanjung.
"Ada apa, Mas?"
"Lho, kok ada apa?"
"Ya ada apa sampai siang-siang telepon kayak gini? Mas ada butuh sesuatu? Atau terjadi sesuatu? Atau Mas sakit?"
"Memangnya nggak boleh telepon istri siang-siang begini?"
"Ya, boleh sih. Cuma kan ini masih jam kerja. Jam makan siang juga udah lewat."
Amar terkekeh di seberang sana, "kalau Mas bilang kangen, percaya?"
Mata Aliyah terbelalak. Bukankah mereka baru berpisah beberapa jam yang lalu, bagaimana mungkin suaminya sudah merindukannya?
"Ck, gombal."
"Yah, kok dinggap gombal sih? Aku serius lho, Sayang."
"Mas juga bingung. Tiba-tiba Mas kangen banget sama kamu. Kangen berat malah. Ternyata benar kata Dilan, rindu itu berat. Kalau nggak kerja aja, Mas rasanya pingin cepat-cepat pulang ketemu kamu," ujarnya membuat Aliyah mesem-mesem sendiri. Bagaimana tidak Aliyah macam diterbangkan ke langit kalau kalimat yang Amar ucapkan benar-benar manis. Amar justru tidak pernah semanis ini sebelumnya. Bahkan saat mereka baru menikah, Amar tidak semanis ini. Meskipun Amar dulu sedikit perhatian, tapi sekarang justru jauh lebih perhatian dan amat sangat manis serta hangat juga.
"Halah, nggak percaya. Emang Mas lagi dimana?"
"Ya udah kalau nggak percaya, tapi Mas serius, Sayang. Ini masih di kantor kok, tapi Mas lagi di toilet."
"Kerja lagi sana. Entar kerjaannya lama selesai lho kalo Mas malah sibuk telepon di jam kerja," usir Aliyah secara halus. Bisa-bisa ia diabetes kalau terus mendengar kata-kata manis dari suaminya itu. Aliyah geli sendiri, laki-laki yang beberapa tahun ini bersikap dingin dan ketus bisa berubah menjadi semanis ini.
"Ya udah, iya. Tapi sebentar lagi, ada yang mau Mas sampein."
"Apa?"
__ADS_1
"Em, besok malam kan kita akan menghadiri pesta ulang tahun perusahaan di hotel. Rencananya Mas ingin kita sekeluarga menginap di hotel malam itu, bagaimana? Kamu setuju kan?"
"Apa? Menginap di hotel? Memangnya kenapa? Entar pemborosan lho. Bayar hotel kan pasti mahal, Mas."
"Kan cuma sesekali. Mas kan udah lama banget nggak ajak kamu pergi-pergi. Mas juga belum pernah ajak kamu bulan madu pun menginap di hotel. Jadi ... Mas ingin sekali menghabiskan malam sama kamu di hotel. Mau ya, Sayang? Lagipula pestanya pasti selesainya malam banget, kasihan anak-anak kalau harus pulang ke rumah larut. Kena angin malam juga kan nggak bagus. Mau ya, mau ya, please!" bujuk Amar dengan suara memelas.
Aliyah terdiam. Mendengar nada memelas dari sang suami membuatnya tak enak hati untuk menolak. Aliyah juga membenarkan perkataan Amar mengenai anak-anaknya yang kasihan bila pulang larut. Terkena angin malam, tak bagus untuk kesehatan anak-anaknya.
"Baiklah, Mas. Terserah kamu aja," ujar Aliyah yang akhirnya mengiyakan membuat Amar berteriak girang.
Aliyah sampai melotot mendengar teriakan sang suami. Bagaimana bila ada yang mendengar, coba?
"Terima kasih, Sayang. Ah, rasanya udah nggak sabar nunggu besok nih. Ya, udah, Mas tutup dulu ya! Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Saat panggilan telah ditutup, tiba-tiba Aliyah teringat kalimat yang Amar ucapkan tadi.
Mas ingin sekali menghabiskan malam sama kamu di hotel. Mau ya, Sayang?
Aliyah terperangah. Memang sudah berbulan-bulan lamanya ia tidak menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Aliyah tertegun. Bagaimana ia bisa melayani sang suami bila kakinya saja seperti ini?
...***...
Bunda Naima dan anak-anak baru saja pulang dengan sebuah kantong putih berisi es krim di tangan kiri Gaffi. Sedangkan tangan kanannya digandeng bunda Naima dan Amri menggandeng tangan kanan sang nenek. Saat baru saja hendak membuka pagar, tiba-tiba ada seseorang yang mengucapkan salam membuat Bunda Naima pun menoleh.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam," jawab Bunda Naima seraya menoleh. "Kau?" desis Bunda Naima tak menduga akan kedatangan tamu yang tak diundang tersebut. "Untuk apa kau datang kemari?" imbuhnya ketus.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...
...***...