Penyesalan Anak Dan Suami

Penyesalan Anak Dan Suami
PAS 58


__ADS_3

"Beneran temen kamu itu mau ngasi kerjaan ke Mas?" tanya Budi pada sang istri, Anne.


"Iya, Mas. Ini dia udah datang sejak beberapa menit yang lalu. Dia datang sama istrinya," ujar Anne menjawab pertanyaan sang suami.


"Kamu tahu dia kerja dimana?"


"Nggak tau sih, tapi yang aku tahu suaminya itu kerja kantoran. Dia kepala divisi gitu, nggak tau kepala divisi apaan. Tapi dari jabatannya kan kemungkinan besar dia bisa ngasi kerja ke kamu. Lumayan, daripada nganggur nggak jelas. Cuma bisa makan, tidur, ngerokok, ngopi, terus kelayapan nggak jelas kemana juntrungannya," ucap Anne mencibir suaminya yang sudah menjadi pengangguran lebih sebulan ini.


Budi melotot marah, ia lantas menepikan mobilnya hendak memberi pelajaran pada sang istri, tapi sang istri sudah lebih dulu menghentikannya.


"Nggak usah macam-macam, Mas. Kita sedang di jalan ini, kalau aku teriak, Mas bisa mati dihajar massa," ucap Anne acuh tak acuh.


Dada Budi bergemuruh. Memang benar apa yang istrinya katakan. Coba saja mereka di rumah, pasti sudah sejak tadi mulut istrinya itu ia gampar agar tidak bicara sembarangan lagi.


"Mulutmu makin lama makin tajam saja. Sepertinya kau ingin sekali merasakan tanganku mendarat di mulut tajammu itu!" desis Budi emosi.


"Lebih tajam mana Mas, mulutku atau mulutmu dan mulut ibumu itu?" balas Anne tidak mau kalah.


"Anne, kau ini apa-apaan. Makin hari makin berani. Dia itu ibumu juga, bukan sekedar ibuku."


"Sebentar lagi juga cuma jadi ibumu doang, Mas," jawab Anne acuh tak acuh.


"Apa maksudmu?" tanya Budi dengan dahi berkerut bingung.


"Belok ke situ, Mas. Itu cafenya, yang kompleks ruko cat hijau." Bukannya merespon pertanyaan Budi, Anne justru menunjukkan cafe yang mereka tuju. Mengabaikan pertanyaan sang suami.


Budi menghela nafas. Kalau ia sedang tidak membutuhkan pekerjaan, mungkin ia sudah membelokkan mobilnya pulang ke rumah. Lalu ia akan segera memberi pelajaran pada istrinya yang entah kenapa makin hari makin datar, dingin, dan ketus padanya. Anne seperti begitu membenci dirinya.

__ADS_1


Namun karena ia membutuhkan pekerjaan, Budi pun mengikuti petunjuk Anne. Ia segera membelokkan mobilnya masuk ke halaman parkir sebuah cafe yang terdapat di komplek ruko. Ruko itu cukup besar. Di kanannya ada bank swasta, sedang ruko sebelah kiri merupakan minimarket.


Setelah mobil terparkir rapi, Budi dan Anne pun segera turun. Ia segera menghampiri seseorang untuk mengantarkannya menuju lantai dua dimana orang yang ingin ditemuinya sudah menunggu di sana.


...***...


Mata Nafisa membulat dengan kepercayaan diri Nafisa yang secara terang-terangan meminta suaminya menikahinya. Sepertinya perempuan ini sudah benar-benar gila, pikir Aliyah.


Amar menyunggingkan senyum sinis, "jangan mimpi! Kau pikir aku bodoh atau sudah gila, huh, mau menikahi perempuan seperti kau. Aku akan dicap laki-laki paling bodoh kalau melakukan itu. Dan aku akan dikenang sebagai laki-laki terbodoh sedunia kalau aku sampai membuang berlian demi remahan batu kali sepertimu," ucap Amar tanpa tedeng aling-aling.


Nafisa sampai menggebrak meja karena tersinggung dengan ucapan Amar.


"Apa maksudmu, Mas? Kau menghinaku? Demi perempuan cacat ini"


Brakkk ...


Amar balas menggebrak meja dengan rahang mengeras. Lalu ia mengangkat jari telunjuknya dan mengarahkannya tepat ke wajah Nafisa.


"Kau ini kenapa, Mas? Untuk apa kau menemui ku kalau hanya untuk menolak ku? Ah, aku tahu, pasti wanita cacat ini yang memintanya, bukan?" Tatapan Nafisa kini beralih pada Aliyah. "Heh kau wanita cacat, pasti kau kan yang memaksa Mas Amar menemui ku dan mempermalukan ku di hadapanmu, iya? Sudah cacat, masih tak tahu diri. Kau pikir kau itu hebat, hah! Memangnya kau bisa apa sekarang dengan kakimu yang lumpuh? Sudah cacat, ngurus suami nggak becus, ngerepotin, banyak tingkah pula. Seharusnya kau sadar diri, apa salahnya berbagi suami toh kau sudah tidak bisa melayani suamimu lagi," maki Nafisa dengan nada berapi-api. Tak peduli kalau Aliyah akan sakit hati dengan ucapannya, yang penting ia bisa meluapkan kekesalannya pada Aliyah.


Plakkk ...


Tiba-tiba tamparan mendarat tepat di pipinya. Pelakunya bukan Aliyah. Aliyah masih belum bisa menggerakkan kakinya. Hanya jari-jarinya saja yang perlahan sudah mulai bisa ia gerakkan. Namun untuk menggerakkan kaki, berdiri, apalagi berjalan, dia belum bisa sama sekali.


"Mas ... Kau ... "


"Kenapa? Kau tidak terima. Seharusnya kau sadar diri, istriku memang cacat, tapi setidaknya dia masih bermoral. Akhlaknya baik, tidak sepertimu yang lebih murah daripada pelacur," maki Amar menggebu.

__ADS_1


Aliyah tercengang mendengar makian dari bibir Amar. Ia diam tak bergeming. Ia masih ingin melihat bagaimana cara Amar mengatasi segala permasalahan dengan Nafisa yang seyogianya dimulai oleh dirinya sendiri.


"Hai semua, maaf ganggu!" tiba-tiba suara seseorang menginterupsi pertengkaran antara Amar dan Nafisa.


Nafisa pun menoleh. Dia seketika terbelalak, pun laki-laki yang sedang berdiri di samping perempuan yang baru saja menginterupsi perdebatan kedua orang tersebut.


"Anne, apa-apaan ini?" desis Budi yang tidak menyangka kalau Amar, Aliyah, dan Nafisa lah yang ingin mereka temui.


"Bukan apa-apa, Mas. Kami hanya ingin menyelesaikan masalah dan melerai benang yang kusut. Ah, bukan melerai. Benang yang kusut tak selamanya bisa dilerai. Rumit dan repot. Jadi lebih baik, benang yang kusut itu segera kita potong kemudian buang, dan ... segalanya beres kan!" ujar Anne membuat Budi dan Nafisa bingung.


Nafisa sudah ketar-ketir, mengapa ada Budi dan istrinya di sini? Dan apa maksud perkataan istri Budi tersebut?


"Akhirnya kau datang juga. Silahkan duduk. Kita akan segera menyelesaikan permasalahan kita, hari ini juga," tukas Amar yang senang Anne datang di waktu yang tepat.


Ya, yang mengundang Anne kesana adalah Amar. Setelah merenung beberapa hari, akhirnya Amar mengajak Anne bertemu untuk memberitahukan perihal kecurangan Budi dan Nafisa. Amar sudah mengenal Anne sejak zaman kuliah. Meskipun mereka berbeda fakultas, tapi mereka kerap bertemu di kegiatan kemahasiswaan.


Amar yang tak tega Anne dicurangi oleh Budi pun segera menghubungi Anne dan menceritakan segala perbuatan Budi di belakang mereka. Anne benar-benar tak percaya kalau Budi tega berselingkuh bahkan sampai menghamili selingkuhannya. Dan yang lebih parah, selingkuhan suaminya itu justru meminta pertanggungjawaban Amar untuk menikahinya. Benar-benar gila.


Anne pun baru mengetahui alasan suaminya dipecat karena telah melakukan kecurangan di kantor tempatnya bekerja. Sungguh mencengangkan.


Anne yang sudah lama ingin melepaskan diri dari Budi pun menjadikan hal itu sebagai senjatanya untuk bercerai. Tak ada lagi yang dapat ia pertahankan dari rumah tangga mereka. Budi yang makin hari makin kasar dan kini berselingkuh, sudah menjadi alasan kuat untuknya mengajukan gugatan perceraian.


"Jadi ... orang yang kau bilang ingin kau temui itu ... laki-laki itu?" geram Budi dengan mata melotot tajam.


Anne pun menjawab dengan acuh tak acuh sambil mendudukkan bokongnya di salah satu kursi dengan santai.


"Kalau iya, kenapa?" jawabnya sambil menyeringai.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...


__ADS_2