
"Kau ... Apa yang kau lakukan pada istri dan anak-anakku?" desis Amar saat melihat sosok tak terduga itu sudah berada di dalam kamarnya. Sementara Aliyah sedang terkapar di lantai sambil memeluk kedua anaknya yang tersedu-sedu menahan tangis.
Laki-laki yang tidak lain adalah Budi itupun terkekeh, "aku ... aku hanya ingin menuntut balas atas apa yang sudah aku alami," ujarnya dengan sorot mata penuh kebencian.
"Budi, aku benar-benar tidak habis pikir, padahal aku tidak pernah sama sekali mengusik mu, tapi kenapa kau selalu berusaha mengganggu ketentraman hidupku? Apalagi istri dan anak-anakku, apa salah mereka? Aku mohon Budi, lepaskan mereka," ujar Amar dengan suara rendah, berharap Budi dapat membuka mata dan hatinya agar tidak melakukan sesuatu yang membahayakan istri dan anak-anaknya.
"Kau memang tidak mengusikku secara langsung, tapi kehadiranmu membuat segala impianku hancur, kau tahu? Dan kenapa aku melibatkan istri dan anak-anakmu? Sebab aku ingin kau pun merasakan kehancuran seperti yang aku rasakan. Dipecat, diceraikan, dibuang anak dan istri. Aku jadi membayangkan, bagaimana kalau aku membunuh mereka seperti aku membunuh Nafisa? Aku yakin, kau sudah tahu bukan kalau Fisa mati di tanganku?" tanyanya dengan seringai iblis di bibirnya.
Nafas Amar tercekat. Pun Aliyah yang makin mengeratkan pelukannya dengan kedua anaknya.
"Ayah, takut," ujar Gaffi dengan suara tersedu-sedu.
"Ayah, adek akut," timpal Amri.
"Hai Nak, kalian takut pada paman?" ujarnya yang sudah menoleh ke arah Gaffi dan Amri dengan memasang seringai mengerikan di wajahnya.
"Ayah ... " teriak keduanya.
"Tutup mulut kalian!" tiba-tiba Budi membentak Gaffi dan Amri membuat kedua bocah itu kian meraung.
"Kau yang tutup mulutmu, Budi. Jangan pernah membentak anak-anakku!" balas Amar sambil melangkah maju untuk menolong anak-anaknya, tapi baru 2 langkah Amar melangkah, tiba-tiba Budi mengeluarkan sebilah pisau dari balik jaketnya.
"Jangan coba-coba mendekat kalau kau tidak mau pisau ini menyentuh kulit mulus istri dan anak-anakmu!"
Mata Amar terbelalak saat Budi sudah mengacungkan pisaunya ke arah Aliyah dan kedua anak laki-lakinya.
"Budi, apa yang kau lakukan? Turunkan pisau itu. Kau menakuti anak-anakku!" desis Amar. Ingin sekali rasanya ia membentak Budi, tapi Amar tak ingin membuat anak-anaknya makin ketakutan melihat ia marah.
"Kalau aku bilang tidak mau kenapa, hah? Kau mau ... "
Prang ...
Saat ada kesempatan Budi lengah, dengan segera Amar menendang pergelangan tangan Budi sehingga pisau itu terlempar ke sudut di dinding. Budi menggeram marah, ia lantas meringsek maju dan memukul Amar. Amar yang tidak terima pun balas memukul sehingga terjadilah adegan baku hantam di kamar itu.
Gaffi dan Amri kian ketakutan. Aliyah lantas menutup mata mereka dengan mendekap erat wajah mereka di dada. Tubuh Aliyah pun bergetar tak kalah hebat. Apalagi saat melihat bagaimana Budi memukul suaminya dengan kekuatan penuh. Belum lagi kekuatan mereka tak sepadan. Postur tubuh Budi boleh saja lebih kurus, tapi ia jago beladiri sehingga membuat Amar kesulitan melawannya. Namun bukan berarti Amar menyerah. Ia terus berusaha melawan tak peduli kalau sekujur tubuhnya sudah sakit akibat hantaman demi hantaman yang Budi lakukan.
Sekilas Amar bisa melihat anak dan istrinya tengah ketakutan. Andai saja Aliyah bisa berjalan, pasti ia akan meminta mereka keluar segera dari sana. Tapi apalah daya, kedua kaki Aliyah tidak bisa digerakkan sama sekali.
Bugh ...
"Aaargh ... "
__ADS_1
Lagi, Budi menendang perut Amar saat laki-laki itu sedang melirik ke arah Aliyah dan anak-anaknya. Budi tertawa girang saat melihat Amar tersungkur sambil terbatuk-batuk dengan darah yang menyembur.
"Mas Amar," pekik Aliyah khawatir saat melihat suaminya terkapar di depan pintu kamar dengan mulut yang basah oleh darah.
"Tolong hentikan! Jangan pukuli Mas Amar lagi! Aku mohon," pekik Aliyah sambil berusaha sekuat tenaga menggerak-gerakkan kakinya. Namun kedua kakinya masih saja tak bisa digerakkan.
"Lihat Amar, istrimu menangisi laki-laki brengsekkk sepertimu. Kenapa laki-laki brengsekkk sepertimu bisa mendapatkan maaf sementara aku tidak, hah? Kenapa istrimu masih main bersama laki-laki bajingaan sepertimu, tapi Anne tidak. Kenapa Anne meninggalkanku dan menceraikan ku? Semua ini gara-gara kau!" tuding Budi ke arah Amar. "Aku yakin, dia menceraikan ku karena pengaruh mu, bukan? Kepa rat!"
Bugh ...
Budi menendang Amar, tapi dengan cepat Amar berguling ke sisi lain membuat kaki yang berbalut sepatu safety itu justru menghantam lantai.
"Ibu ... Abang takut," cicit Gaffi.
"Tenang ya, Nak," hanya kalimat itu yang mampu melihat ucapkan sebab fokusnya saat ini setelahnya pada Amar yang tengah kesakitan.
"Ayah ... " cicit Amri.
"Tolong!" teriak Aliyah, namun Budi langsung membentaknya.
"Diam kau brengsekkk! Atau kau ku bunuh sekarang juga!"
"Berani kau menyentuh istri dan anakku, ku bunuh kau!" balas Amar tak kalah lantang membuat Budi tergelak seperti orang gila.
"Tapi sepertinya menyenangkan bila aku bisa membunuh mereka tepat di depan matamu," ujarnya sambil menyeringai.
"Berhenti, Budi! Apa kau sudah gila ingin membunuh orang yang tidak bersalah!"
"Ya, aku memang sudah gila. Kau tahu kenapa? Karena hidupku sekarang hancur. Bahkan kini aku pun sudah menjadi buronan dan semua itu karena kau!" raungnya.
Dengan mata merah menyala, ia berjalan ke arah Aliyah. Sekuat tenaga Amar mencoba kembali bangkit. Ia pun segera menarik lengan Budi dan menghantamkan tinjunya tepat di rahang Budi hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah.
Budi yang tidak terima lantas memukul Amar balik. Mereka pun kembali terlibat baku hantam. Di sisi lain Aliyah terus berusaha menggerakkan kakinya.
"Ya Allah, tolong aku, tolong suamiku dan anak-anakku. Ya Allah, aku mohon, turunkan mukjizat-Mu. Aku mohon ya Allah."
Budi yang sudah kehilangan kesabaran lantas melompat ke sudut kamar di mana pisaunya tadi tergeletak. Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, ia pun bergegas kembali mendekati Amar. Saat jarak mereka sudah begitu dekat, ia pun mengayunkan pisaunya ke arah Amar.
Prang ...
Namun belum sempat pisau menusuk Amar, tiba-tiba Budi merasakan sebuah hantaman benda keras di kepalanya. Amar pun ikut syok saat melihat kepingan dan serpihan pecahan vas bunga berceceran di lantai. Mata Amar kian membulat saat melihat sosok sang istri sudah berdiri di belakang Budi yang tengah meraung kesakitan dengan darah bercucuran dari kepalanya.
__ADS_1
"Aliyah," seru Amar sambil tertatih mendekati Aliyah yang tubuhnya sudah bergetar hebat karena terkejut dengan apa yang barusan ia lakukan. "Kau bisa berdiri, Sayang?" ucap Amar dengan mata berkaca-kaca.
"Mas," Aliyah tidak menghiraukan pertanyaan Amar, ia justru menghamburkan dirinya ke pelukan Amar dengan tubuh yang berguncang hebat.
Sementara di luar rumah, petugas yang Herman tugaskan mengawasi rumah Amar pun terkejut mendengar bunyi pecahan vas bunga. Ia yang baru saja selesai makan siang di warung makan Padang tak jauh dari rumah Amar pun terkejut mendengar suara itu. Ia yang masih berada di atas sepeda motornya pun segera melompat, tak peduli motornya yang belum distandar.
Ia pun gegas berlari masuk ke dalam rumah Amar. Matanya membulat saat melihat apa yang sudah terjadi.
"Pak Amar, Anda tidak apa-apa?" tanya petugas tersebut khawatir.
"Tolong tangkap dia! Dia mencoba membunuh kami," ujar Amar sambil meringis.
Melihat Budi yang sedang terkapar kesakitan, ia pun segera mengeluarkan zip tie dari saku jaketnya dan segera mengikat tangan Budi sebelum menghubungi rekannya. Ia juga meminta rekannya menghubungi ambulans untuk menolong Amar yang tampak tidak baik-baik saja.
"Ibu ... Ayah ..."
"Sini Sayang, sama Om dulu ya!" ujar petugas tersebut seraya mendekati Gaffi dan Amri, namun kedua bocah itu justru ketakutan. "Kalian tenang saja, Om nggak jahat kok. Ayo, kita sama ibu!"
Mendengar itu, perlahan Gaffi dan Amri pun mendekat. Lalu ia membawanya kepada Amar dan Aliyah yang masih berpelukan. Merasakan kakinya dipeluk kedua anaknya, Aliyah dan Amar pun mengurai pelukannya. Amar dan Aliyah lantas berjongkok dan memeluk kedua anaknya.
Tak lama kemudian, Herman dan rekannya pun datang untuk meringkus Budi. Laki-laki itu ternyata masih sadarkan diri, namun tubuhnya terasa lemas karena darah yang terus mengalir.
Melihat Budi di bawa, Aliyah menyembunyikan wajahnya di dada Amar.
"Mas, apa Aliyah akan ditangkap karena sudah memukulnya?" cicit Aliyah yang ketakutan ditangkap polisi karena sudah berbuat kekerasan dengan memukul kepala Budi hingga berdarah-darah.
"Tidak, Sayang. Kau hanya melakukan pembelaan diri. Mas yakin, kau tidak akan dipersalahkan."
"Benarkah?"
"Benar," cicit Amar dengan suaranya yang kian melemah.
"Amar, sebaiknya kau segera ikut kemari ke rumah sakit. Bagaimanapun keadaanmu sedang tidak baik-baik saja," ujar Herman.
"Aku ikut!"
"Tidak, Sayang. Kau di sini saja, jaga anak-anak," ujar Amar sebelum kesadarannya akhirnya menghilang.
"Mas," pekik Aliyah terkejut saat tubuh Amar yang tiba-tiba limbung.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...