Penyesalan Anak Dan Suami

Penyesalan Anak Dan Suami
PAS 44


__ADS_3

"Kau kemana saja? Kenapa sangat sulit dihubungi sih?" sentak Budi pada Nafisa yang baru saja pulang ke kontrakannya.


"Kenapa mesti bentak-bentak sih? Nanya baik-baik kan bisa," protes Nafisa yang langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang.


"Kenapa baju kotormu ada di sini sih? Bau tau."


"Aku sudah berapa malam ini tidur di sini. Aku pikir kau di sini, tapi tak ada. Aku menunggumu, tapi baru hari ini kau datang."


Budi lantas ikut membaringkan tubuhnya di samping Nafisa dan memeluknya erat sambil mengendus-endus lehernya.


"Lepas ih! Jauh-jauh sana. Kamu bau. Kamu belum mandi, Mas?" protes Nafisa seraya mendorong dada Budi agar menjauh.


Budi terkekeh, "kau tidak ada, jadi untuk apa aku mandi. Nanti kalau aku wangi-wangian terus ada gadis yang kepincut, kamu malah ngambek lagi."


"Heh, GR. Mandi dulu gih. Sumpah, aku ... Huek ... "


Nafisa pun gegas berlari ke kamar mandi. Ia memuntahkan semua isi perutnya di kamar mandi.


"Kamu sakit?" tanya Budi cemas sambil memijat tengkuk Nafisa.


"Iya, nih, Mas. Sudah beberapa hari ini aku nggak enak badan. Masuk angin. Aku sebenarnya malas keluar, tapi di rumah mama terus-terusan ngomel karena aku nggak kunjung cari kerja sama bawa pacarku ke rumah?" tutur Nafisa setelah mengelap bibirnya yang barusan ia cuci. "Kamu gimana, Mas? Usah dapat kerja?"


Budi menggeleng, "aku udah kirim lamaran ke berbagai perusahaan, tapi sampai saat ini belum ada panggilan juga. Semua garasi brengsekkk itu. Seharusnya dia yang dipecat, bukan aku. Tapi gara-gara dia, aku kehilangan pekerjaan." Budi masih saja menyalahkan Amar atas apa yang ia alami. Tak pernah introspeksi diri, maunya menyalahkan orang lain saja.


"Daripada sibuk nyalahin orang, mending cari kerja. Aku nggak mau sama laki-laki pengangguran, ingat itu."


"Ck, tenang saja. Aku pasti nanti akan dapat pekerjaan, tapi sebelumnya, kita itu dulu yah. Mas udah kangen sama servisan kamu yang mantap."


Budi mengerling genit, Nafisa yang memang juga menyukai hal-hal seperti itu pun tentu mau-mau saja.


"Stop!" pekik Nafisa saat Budi hendak menyerangnya.


"Ada apa? Kalo kamu mau sesuatu, nanti dulu deh. Aku udah diujung nih!"


"Nggak. Mandi dulu sana. Sumpah, kamu benar-benar ... Huek ... Bau ... "


...***...

__ADS_1


Hari demi hari Amar lalui dengan penuh perjuangan. Bukan hanya Amar, Nana pun juga begitu. Berbagai cara mereka lakukan untuk membuat Aliyah tersenyum lagi, tapi ternyata semua sangat sulit. Aliyah hanya akan tersenyum saat Gaffi dan Amri mendekat.


"Ibu, ibu, Kak Nana nangis," seru Gaffi yang berlarian ke arah Aliyah yang sedang termenung di teras rumah.


"Nangis? Kenapa Kak Nana nangis?"


"Kak Nana mau buat kue buat ibu tapi adek nakal gangguin kak Nana sampai kuenya jatuh kena kaki kak Nana. Kaki Kak Nana sakit, bu. Kuenya panas," lapor Gaffi yang sudah mulai lancar berbicara meskipun masih ada beberapa kata yang pelafalannya belum jelas dan masih sedikit cadel.


Semarah-marahnya hati seorang ibu, nyatanya tak bisa menutupi rasa sayangnya. Mendengar kalau kaki Nana terkena kue yang panas, sontak saja membuat Aliyah khawatir.


"Bi Lela dimana?" tanya Aliyah sembari mendorong kursi rodanya ke dapur. Bi Lela adalah asisten rumah tangga yang dipekerjakan Amar untuk mengurus rumah selagi ia tidak bekerja. Ia juga bertugas membantu Aliyah. Kerjanya hanya sampai sore. Bila Amar pulang, tugasnya pun selesai.


"Bibi tadi akit pelut."


Aliyah mengangguk, mungkin maksud Gaffi, Bi Lela sedang di WC karena sakit perut.


"Hiks ... Hiks ... Hiks ... "


Terdengar suara tangisan Nana dari dapur. Aliyah pun segera melihat keadaan Nana. Dan benar saja, kakinya melepauh, tapi ia menghiraukannya. Ia justru lebih dahulu membersihkan noda kue di lantai.


Aliyah pun menghampiri Nana, "apa yang terjadi?"


"Bu, maaf, kuenya tumpah. Nanti Nana bersihkan. Ibu ke depan lagi aja ya sama Gaffi. Bang, ajak ibu ke depan saja ya. Kakak mau bersihkan ini dulu."


"Kamu mau buat kue?" tanya Aliyah.


Nana mengangguk.


Setelahnya, Aliyah pun langsung memutar kursi rodanya membuat Nana benar-benar kecewa. Tangis Nana pun makin pecah.


"Pasti ibu benci banget sama Nana. Ibu udah nggak sayang Nana lagi," lirih Nana berurai air mata.


Nana berjalan terkencot-kencot karena kakinya yang sakit terkena panasnya loyang kue yang baru diangkat. Padahal ia ingin memberi kejutan untuk sang ibu kalau ia sudah bisa membuat kue seperti kue buatan ibunya, tapi kuenya justru jatuh dan hancur berantakan. Sia-sia saja kerja kerasnya hampir dua jam ini.


"Nana harus kayak gimana lagi biar ibu nggak marah lagi? Nana kangen ibu. Nana pingin peluk ibu. Ibu, maafin Nana. Nana sayang ibu. Nana mau ibu. Nana ... hiks ... hiks ... hiks ... "


Nana berjongkok di depan tempat sampah. Ia menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tangisannya terdengar begitu memilukan.

__ADS_1


Tiba-tiba Nana merasakan sebuah sentuhan lembut di pundaknya. Nana menoleh dan terkesiap saat melihat sang ibu sudah berada di belakangnya. Ia pun segera menyeka kasar air matanya.


"I-ibu, ibu mau apa? Mau minum teh? Atau mau sesuatu? Nanti Nana ambilin," tawar Nana yang mengira ibunya menginginkan sesuatu.


Nana menggeleng dengan mata memerah.


"Ayo, ikut ibu sebentar," ajaknya sambil memutar kursi rodanya. Nana pun mengikuti Aliyah dengan patuh.


Lalu Aliyah meminta Nana duduk di sofa berhadapan dengannya. Setelah Nana duduk, Aliyah pun meraih kaki Nana dan menariknya ke atas pangkuannya.


"Bu, ibu mau ngapain?"


Aliyah diam. Ia justru mengambil kapas yang telah ia basahi dan membersihkan luka Nana. Setelah itu, ia membuka salep luka bakar dan mengoleskannya.


Mata Nana berkaca-kaca. Sudah lama ia tidak merasakan lembutnya sentuhan sang ibu.


"Kenapa nangis lagi? Sakit?" tanya Aliyah lembut.


Nana menggeleng, "Nana ... Nana kangen ibu," ujarnya dengan air mata berlinang.


Aliyah yang tak kuasa melihat air mata di mata sang putri pun ikut meneteskan air matanya.


"Ibu, ibu juga kangen Nana."


Nana terkesiap, khawatir ia salah mendengar. Namun tiba-tiba Aliyah merentangkan kedua tangannya, "tidak mau peluk ibu?" ucap Aliyah membuat Nana segera berhambur ke pelukan sang ibu.


"Ibu ... Ibu ... Ibu maafin, Nana. Nana menyesal sudah buat ibu sedih. Nana nggak mau kehilangan ibu. Nana cuma mau ibu yang jadi ibu Nana, bukan perempuan lain. Maafin Nana ya, bu. Tolong, jangan diemin Nana lagi. Jangan sakit lagi. Nana benar-benar takut kehilangan ibu," ujarnya tersedu-sedu.


Aliyah memeluk tubuh Nana dengan erat. Ia pun melabuhkan ciuman di puncak kepala Nana berkali-kali sambil mengangguk.


"Iya, ibu maafin. Maafin ibu juga ya udah diemin Nana. Ibu sayang Nana."


Nana menggeleng, "nggak. Ibu nggak salah. Nana aja anak yang bandel. Nana anak yang nggak tau bersyukur. Ibu adalah ibu terbaik di dunia. Nana juga sayang banget sama ibu. Sayang sekali."


Kedua ibu dan anak itupun saling berpelukan dan menumpahkan tangis kerinduannya.


Begitulah seorang ibu, sesalah-salahnya seorang anak, pasti akan tetap mendapat maaf dari sang ibu. Seperti kata pepatah, kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang masa. Kasih ibu itu tiada terkira. Dan takkan pernah terkikis oleh sang waktu.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...


__ADS_2