Penyesalan Anak Dan Suami

Penyesalan Anak Dan Suami
PAS 50


__ADS_3

"Mas Amar," pekik seorang perempuan membuat Amar terkesiap dengan wajah pias.


"Kau ... " desis Amar dingin. "Mau apa kau ke mari?" lanjutnya dengan sorot mata penuh kebencian.


"Mas Amar kenapa sih? Padahal kemarin kita masih baik-baik aja. Malah Mas sempat traktir aku minum di cafe, kok pagi ini tiba-tiba ketus sih," ujarnya dengan nada merajuk nan manja. Amar rasanya ingin muntah mendengar kebohongan yang dilontarkan oleh Nafisa. Makin hari Amar makin bisa melihat kebusukan Nafisa. Sungguh ia tak menyangka pernah dekat dengan perempuan ular seperti Nafisa.


"Jangan bicara sembarangan kau! Kapan aku mentraktir mu di cafe?" sentak Amar geram. Tak peduli kata-katanya dapat memancing atensi semua pengunjung di kedai lontong sayur tersebut. "Al, jangan percaya kata-katanya, Sayang. Aku tidak melakukan itu. Sungguh," ujar Amar mencoba meyakinkan Aliyah agar Aliyah tidak salah paham padanya.


"Kamu kenapa sih, Mas? Kok tiba-tiba berubah gini. Sok panggil sayang-sayang pula. Bukannya Mas sendiri yang bilang kalau Mas udah nggak cinta lagi sama dia. Mas udah bosan dan muak dengan penampilan dan sikapnya itu, tapi kok tiba-tiba sok romantis kayak gini sampai-sampai bersikap ketus sama aku. Kamu nyebelin banget sih, Mas!"


"NAFISA, TUTUP MULUT KAMU! Lebih baik kau segera pergi dari sini sebelum ... "


Byurrrr ...


"Aaargh ... Kau apa-apaan anak sialan!" bentak Nafisa saat Nana tiba-tiba datang dan mengguyurnya dengan secangkir air.


Matanya melotot tajam. Rahangnya mengeras. Kedua tangannya mengepal.


"Makanya jadi perempuan jangan murahan. Sudah tahu ayah aku sudah punya anak dan istri, eh masih aja digoda. Dasar pelakor nggak tahu malu," maki Nana sambil berkacak pinggang.


Nana dan kedua adiknya baru saja selesai makan bubur ayam. Ia lantas ingin menyusul kedua orang tuanya yang sedang makan lontong di kedai sebelah. Tak disangka, ternyata ada Nafisa di dalam sana sedang berusaha mengganggu kedua orang tuanya. Padahal ayahnya sudah menyuruhnya pergi, tapi bukannya pergi, ia justru bicara yang tidak-tidak tentang ayahnya. Nana yang kesal lantas kembali lagi ke kedai bubur ayam dan mengisi gelasnya tadi dengan air hingga penuh kemudian menyiramkannya ke atas kepala Nafisa hingga membasahi tubuh bagian atasnya.


Terang saja apa yang Nana lakukan memancing atensi banyak orang, dari yang sedang makan di kedai lontong sayur tersebut sampai orang yang lalu lalang. Mata mereka membulat saat mengetahui kalau Nafisa merupakan pelakor.


"Wah, benar-benar ya, zaman sekarang pelakor lebih galak dan berani dari istri sah," ujar salah seorang pengunjung.


"Iya. Serem uy. Cantik-cantik pelakor, apa dia udah nggak laku lagi buat nyari yang single."


"Mereka justru lebih suka suami orang, say. Mereka nggak mau mulai dari nol. Apalagi prinsip mereka, suami orang lebih menggoda."


Mendengar selentingan cibiran orang-orang terhadapnya membuat Nafisa makin berang.


"Kau ... Dasar anak kecil tak punya sopan-santun. Lihat Mas, ini anak hasil didikan istrimu yang lumpuh itu? Udah lumpuh, nggak bisa didik anak pula. Sebenarnya apa yang kamu harapkan dari dia sih, Mas? Bukankah kau sendiri yang bilang sudah bosan dengan dia, tapi kenapa kau ..."


Byurrrr ...

__ADS_1


Kesal Nafisa tak henti-hentinya menyudutkan ibunya, Nana pun kesal bukan main. Bila tadi air minum yang ia guyurkan pada Nafisa, maka kali ini air dalam ember bekas cucian piring lah yang ia siramkan.


Nafisa memekik kencang karena ulah Nana. Orang-orang bukannya mau membantunya, justru menertawakan. Bahkan beberapa dari mereka dengan terang-terangan mencibir kelakuan tak tahu malu Nafisa.


Nafisa makin kalap. Ia lantas membalikkan badan hendak menampar Nana, tapi secepat Amar menangkap tangan Nafisa dan menghempaskannya.


"Jangan coba-coba menyentuhkan tangan kotormu pada anak-anakku kalau kau tak mau tanganmu itu aku patahkan!" desis Amar dengan sorot mata begitu tajam.


"Maaf ... Hiks ... Hiks ... Hiks ... kenapa ... kenapa kau begini? Padahal aku sudah memberikan semuanya padamu, tapi kenapa ... kenapa kau justru memperlakukanku seperti ini? Kau tega. Kau jahat. Kau kejam," lirih Nafisa terisak-isak. Lalu ia pun segera berlalu dari sana sambil menutup wajahnya yang telah basah.


'Sialan. Anak itu benar-benar. Awas kamu. Aku pasti akan menbalas mu anak sialan.'


"Nana, kamu nggak papa?" tanya Aliyah lembut.


Merasa diperhatikan, Nana tersenyum lebar, "Nana nggak papa kok, Bu. Ibu nggak papa? Nenek sihir itu nggak ngapa-ngapain ibu kan?" cecar Nana khawatir.


"Nenek sihir?" gumam Aliyah dengan dahi berkerut.


Nana mengangguk antusias, "iya, nenek sihir. Perempuan itu tadi nenek sihir. Ibu nggak usah percaya kata-katanya. Ayah nggak mungkin kayak gitu. Ayah kan sayang banget sama ibu, iya kan Yah?" Nana menoleh ke arah Amar yang sedang memperhatikan mereka berdua.


Aliyah mendengkus. Entah mengapa melihat ayah dan anak itu kompak membujuk dan meyakinkannya, membuat Aliyah diam-diam mengulum senyum. Tak pernah ia melihat ayah dan anak itu segitu kompaknya selama ini. Keduanya sibuk sendiri-sendiri. Bahkan kedekatan mereka hanya saat saling memerlukan saja.


Aliyah diam tak berekspresi.


"Ayo, kita pulang!" ajaknya yang sudah kehilangan selera melanjutkan kegiatan sarapan paginya.


"Tapi makan kamu belum selesai, Al. Ingat, kamu punya penyakit asam lambung. Aku tidak mau asam lambungnya kambuh."


"Aku sudah tidak lapar lagi," jawab Aliyah seadanya.


"Tapi Al ... "


Tapi Nana langsung menghentikan ayahnya.


"Jangan paksa ibu, Yah."

__ADS_1


Amar menghela nafas panjang, "ya udah. Aku bayar dulu ini baru kita pulang, oke!"


Aliyah mengangguk. Kemudian Nana segera berdiri di belakang kursi roda sang ibu.


"Bu, ikut!" ujar Amri sambil mengulurkan tangan. Aliyah tersenyum dan mengangkat tubuh mungil Amri ke pangkuannya.


"Dek, dedek ayah gendong aja ya! Kasian ibu. Entar kaki ibu sakit," ujar Amar.


"Kaki ibu akit?" tanya Amri.


"Kaki ibu sakit?" tanya Gaffi ikut khawatir.


Aliyah tersenyum melihat perhatian anak-anaknya, "nggak kok. Kaki ibu nggak sakit. Ayo kita pulang," ucap Aliyah yang segera meminta Nana mendorong kursi rodanya.


...***...


[Heh, perempuan lumpuh! Kau tahu, Mas Amar tadi hanya berpura-pura marah padaku. Sebaliknya, kami saling mencintai. Dia bertahan padamu hanya karena kasihan. Sadar diri lah, kamu tak pantas untuk laki-laki sempurna seperti Mas Amar.]


Sebuah pesan masuk ke ponsel Aliyah. Dari kata-katanya, Aliyah bisa menebak kalau pengirim hanya adalah Nafisa.


Nafisa juga menyertakan screenshot pesan masuk dari kontak yang diberi nama My Love. Isinya merupakan permintaan maaf dari si pengirim pada Nafisa.


[Maaf, honey, aku tadi terpaksa mengatakan itu. Bagaimanapun Aliyah istriku. Di sana juga ada anak-anakku.]


Degh ...


Dada Aliyah terasa nyeri. Baru saja ia merasa senang dengan sikap suami dan anaknya, tapi pesan yang baru saja Nafisa kirimkan sontak saja membuatnya kembali merasakan nyeri di dadanya.


...***...


...Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia ke 78 semua. Semoga Indonesia makin jaya dan rakyatnya makin sejahtera ke depannya. Aamiin. ...


...🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩...


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2