
"Mas Armand?"
"Naima?"
Mendengar sang suami menyebut nama wanita lain, sontak sang istri-Gita mengarahkan pandangannya pada sesosok wanita paruh baya yang tampak masih cantik di usianya yang sudah tak lagi muda. Bahkan wajah wanita itu terlihat begitu terawat. Tubuhnya langsing dan nyaris tak ada kerutan. Meskipun memakai jilbab instan sedikit panjang, tapi tak menutupi kecantikan sang wanita yang wajahnya tampak polos tanpa make up tersebut.
Armand tertegun. Setelah sekian tahun kehilangan jejak sang mantan istri, akhirnya ia bisa bertemu lagi. Namun yang membuatnya terpesona, tentu saja bunda Naima masih tetap terlihat cantik. Bahkan nyaris seperti tak ada perubahan sama sekali. Padahal mereka sudah berpisah hampir 20 tahun yang lalu, tapi Bunda Naima masih seperti dulu. Bahkan terlihat makin cantik dengan penampilannya yang anggun dan memukau.
Bila Armand menatap kagum pada Bunda Naima, maka berbeda dengan bunda Naima yang menatap bingung ke arah Armand. Apalagi setelah sekian lama mereka tak bertemu, tentu hal tersebut menimbulkan tanda tanya di benak Bunda Naima tentang tujuan kedatangan Armand ke kediaman putranya.
Bunda Naima terkekeh sinis melihat penampilan Armand yang sangat jauh berbeda dengan Armand di masa lalunya. Penampilan Armand memang terkesan begitu kebapakan. Dengan rambut yang hampir semua memutih, sangat kontras sekali dengan penampilan sang istri yang tampak glamor bak sosialita dengan make up ketebalannya.
Nafisa yang sejak tadi diam seketika angkat bicara saat sang ayah menyebut nama bunda Naima. Seketika senyumnya merekah. Seakan akan ada kabar baik setelah ini. Nafisa kita bunda Naima adalah teman lama sang ayah. Alangkah bagusnya bila benar. Tentu hal itu akan menjadi jalan keluar atas permasalahannya. Bisa jadi kan saat bunda Naima tahu ia adalah anak Armand, teman dekatnya, dan juga kehamilannya, lantas bunda Naima mendesak Amar untuk menikahinya. Tiba-tiba perasaan Nafisa membuncah senang. Ia sampai membayangkan bagaimana resepsi pernikahannya nanti. Pasti akan sangat meriah dan berkesan sekali.
"Papa kenal bunda Naima, bundanya Mas Amar?" tanya Nafisa dengan senyum lebarnya.
Mata Bunda Naima memicing. Tentu saja ia masih ingat dengan siapa itu Nafisa. Perempuan yang menjadi sumber malapetaka dalam keluarga sang putra.
"A-apa, Sa? Ja-jadi laki-laki yang kamu maksud itu ... anaknya Naima?" tanya dengan suara sedikit tercekat. Bahkan peluh sebesar biji jagung sudah menetes membasahi dahi hingga turun ke pipi sampai ke leher.
Gita yang masih ingat dengan mantan istri suaminya pun sedikit terperangah. Bagaimana bisa anaknya mengandung anak dari putra suaminya sendiri? Meskipun tak ada larangan untuk menikah sebab mereka tidak sedarah, tetap saja masalah ini terdengar pelik di telinganya.
"Sa, jadi laki-laki yang sudah menghamili kamu itu ... putra perempuan itu?" tunjuknya pada bunda Naima.
Bunda Naima terperangah. Ia baru ingat cerita bi Lela kalau Nafisa mendatangi menantunya sambil mengaku-ngaku hamil anak putranya.
__ADS_1
"Iya, Ma, Pa, Mas Amar yang aku maksud itu putra dari bunda Naima," ujar Nafisa tanpa rasa malu sama sekali. "Sepertinya mama dan papa sudah mengenal bunda Naima dengan baik. Fisa senang sekali mendengarnya."
Mendengar penuturan Nafisa yang begitu percaya diri sontak saja membuat Bunda Naima tergelak kencang.
"Astaghfirullah ya Allah, ternyata memang benar ya, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Setelah si ibu yang menjadi pelakor dan merebut suami orang, lalu kini anaknya pun begitu bekerja keras untuk merebut seorang suami dari istrinya. Hahaha ... "
"Naima, aku tahu anakku salah, tapi Amar juga salah. Dia sudah menghamili Fisa jadi aku harap kau meminta Amar agar bertanggung jawab atas kehamilan putriku."
"TUTUP MULUT SAMPAHMU, ARMAND! KAU PIKIR AKU PERCAYA ANAKKU SUDAH MENGHAMILI PEREMPUAN SUNDAL ITU? JANGAN HARAP!" sentak bunda Naima dengan seringai sinis di sudut bibirnya. Tak peduli kalau pertengkarannya ini akan didengar tetangga sekitar sebab ia tak Sudi membawa ketiga orang tersebut masuk ke dalam rumah anak menantunya. Najis.
"Kau yang tutup mulutmu, sialan! Jangan sembarangan bicara. Kau pikir anakku itu seorang jalaang yang suka mengobral tubuhnya dengan laki-laki lain?" sengit Gita dengan sorot mata penuh benci.
Bukan tanpa alasan sebab ia tahu suaminya diam-diam masih merindukan mantan istri dan anak-anaknya. Diam-diam ia memergoki Armand memandangi foto Naima dan anak-anaknya. Anak-anak yang ia tinggalkan begitu saja demi untuk bersamanya. Bahkan ia tahu, Armand diam-diam membeli rumah masa lalu keluarga kecilnya yang sudah dijual Naima kepada orang lain. Semua itu ia lakukan untuk melepas kerinduannya pada sang mantan istri dan anak-anaknya yang tidak tahu dimana berada.
Rasa iri itu kini makin bertambah saat melihat mantan istri suaminya itu masih tampak begitu cantik padahal usianya lebih tua beberapa tahun darinya. Padahal Gita sudah sering melakukan berbagai macam perawatan, tapi entah kenapa Gita merasa kalau telak oleh Naima.
"Naima, bisa kita bicarakan ini baik-baik di dalam rumah? Tidak enak didengar orang lain," ujar Armand lembut. Ia harap sang mantan istri bisa diajak bekerja sama untuk mempertanggung jawabkan perbuatan anak sulungnya yang sudah menghamili anak tirinya.
"Tidak," jawab bunda Naima lugas plus lantang. "Kalian itu hanyalah para manusia yang menjijikan. Najis bagi kalian untuk masuk ke dalam rumah anak dan menantuku," imbuhnya dengan memasang ekspresi jijik di wajahnya.
Gita mengepalkan tangannya emosi, sementara Armand tak mampu banyak bicara. Mulutnya seakan dikunci sehingga kesulitan untuk menyanggah kata-kata bunda Naima.
"Heh, nenek sihir, sepertinya kau belum jera disiram air cabe seperti tempo hari, huh?" cemooh bi Lela yang ikut angkat bicara atas kedatangan Nafisa dan orang tuanya.
"Tutup mulutmu pembangunan kurang ajar. Udah miskin, belagu lagi."
__ADS_1
"Kau yang tutup mulut! Setidaknya pembantu masih memiliki harga diri, tidak sepertimu yang sama seperti ibumu, sama-sama tak tahu malu. Dasar pelakor," balas bunda Naima tak kalah sengit.
"Kau ... "
"Gita, Fisa, bisa kalian diam!" sergah Armand agar keduanya diam.
"Tapi Pa ... " Nafisa ingin menjawab, tapi Armand menggestur tangannya ke atas agar Nafisa diam. "Naima, aku tahu kau membenci kami. Dan aku tahu anakku salah, tapi Amar tetap harus tanggung jawab. Bagaimanapun Nafisa sudah mengandung anak Amar. Sebagai seorang ibu seharusnya kau mendidik Amar menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. Bukannya menolak mentah-mentah seperti ini."
"Atas dasar apa kau meminta putraku bertanggung jawab? Memangnya kau yakin dia hamil anak putraku?"
"Naima, aku tahu Nafisa. Meskipun dia bukan anak kandungku, tapi aku tahu dia. Dia anak yang jujur. Dia tidak mungkin berbohong padaku mengenai kehamilannya."
"Tapi kenyataannya dia sudah membohongi Anda," sela seseorang yang entah sudah sejak kapan berada di belakang Armand, Gita, dan Nafisa.
"Amar ... " cicit Armand dengan mata berkaca-kaca saat bisa melihat sosok sang anak sulung. Armand memang hanya memiliki dua orang anak dan kedua anaknya itu ikut dengan Naima. Ia tidak memiliki anak dari Gita. Sebelumnya Gita sempat hamil, tapi karena kecelakaan, Gita keguguran dan rahimnya terpaksa diangkat. Alhasil, Armand tidak memiliki anak sama sekali dari Gita. Sementara Nafisa merupakan anak bawaan dari Gita yang dulu memang seorang janda sebelum ia nikahi.
Amar yang baru saja pulang dari rumah sakit mendorong Aliyah melewati ketiga orang tersebut.
"Mas Amar," cicit Nafisa melihat kedatangan Amar.
"Kata orang darah lebih kental daripada air, sehingga membuat kebanyakan orang tua lebih mempercayai anak-anaknya dibandingkan orang lain, tapi sepertinya hal ini tidak berlaku pada Anda, Pak Armand. Tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu, Anda lantas langsung menuduh saya begitu saja sudah menghamili putri kesayangan Anda ini?" Amar menyunggingkan senyum sinis.
"Mas ... "
"Kenapa? Sepertinya orang tuamu ingin menonton video panasmu dengan Budi," cibir Amar yang sudah menyeringai membuat Nafisa seketika merasa panas dingin.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...