
"Sialan, brengsekkk? Aaargh ... " raung Budi kesal sambil melemparkan barang apa saja yang tergeletak di atas meja. Kamarnya yang tertata rapi pada awalnya kini sudah berubah bagai kapal pecah. Benar-benar berantakan.
"Mas, apa yang kau lakukan, hah? Kenapa kau membanting semua barang seperti ini?" tukas sang istri yang benar-benar terbelalak dengan keadaan kamarnya yang porak-poranda.
"Diam, kau. Tak usah ikut campur urusanku," sentak Budi kesal.
"Kau ini, aku hanya bertanya? Kau lihat, semuanya berantakan. Barang-barang pecah. Bagaimana kalau pecahan beling ini terinjak anak-anak? Tidakkah kau berpikir ke sana," segah sang istri sambil memungut barang yang masih bisa diselamatkan.
"Kataku diam, ya diam. Terserah aku mau melakukan apa. Ini rumah ku jadi suka-sukaku mau ngapain."
Sang istri tersenyum miris, setiap bertengkar selalu saja mengatakan hal itu. Padahal mereka membeli rumah ini bukan serta merta uang Budi saja, tapi ada uang hasil tabungannya juga. Bahkan bisa dibilang , hampir 3/4 uang untuk pembelian rumah itu berasal dari tabungan dan uang penjualan perhiasannya. Bodohnya ia saat itu menerima saja saat Budi membuat sertifikat kepemilikan rumah itu atas namanya. Dulu ia pikir tak masalah toh akan mereka huni bersama juga. Tapi lihatlah kini, dengan sesuka hati Budi mengatakan kalau rumah ini miliknya. Seolah-olah sang istri tidak memiliki hak sama sekali atas rumah itu.
"Mas, jangan lupa, rumah ini pun rumahku. Ada uangku dalam pembelian rumah ini."
"Kamu itu yo jadi istri sadar diri, emang ini rumah putraku toh. Emang dari mana kamu duit sebanyak itu? Kamu aja pengangguran. Orang tua pun cuma petani. Sok-sokan bilang ada duitmu di rumah ini. Sasar benalu," ejek sang ibu mertua yang entah sejak kapan sudah berada di depan pintu kamarnya.
"Tapi memang kenyataannya begitu, Bu. Kalau nggak percaya, tanya aja sama Mas Budi. Maaf Bu, bukan mau merendahkan, tapi emangnya berapa sih gaji Mas Budi sampai bisa beli rumah besar seperti ini? Dan jangan sebut aku pengangguran. Memang siapa yang dulu minta aku resign kerja supaya bisa fokus promil? Ibu kan? Kenapa sekarang saat Anne nggak kerja, ibu malah bilang seperti itu ke Anne? Lagipula, apa salahnya petani? Apa karena ibu dan bapak Anne cuma seorang petani jadi ibu bisa menyepelekan mereka begitu saja? Kalau ibu nggak tahu apa-apa, lebih baik diam," ucap Anne pelan tapi penuh penekanan. Ia tidak terima selalu dipojokkan dan diremehkan. Terutama orang tuanya. Mereka tak tahu saja, orang tua Anne memang petani. Tapi bukan petani biasa melainkan pemilik puluhan hektar sawah di desanya. Anne memang tidak pernah banyak bercerita tentang orang tuanya. Penampilan sederhana orang tua Anne membuat orang tua Budi menganggap mereka petani biasa yang miskin.
"Kamu ... dasar menantu durhaka. Berani kamu ya jawab kata-kata saya!" kesal Bu Romlah pada menantu yang diremehkannya.
"Memangnya kenapa? Anne hanya mengatakan yang sebenarnya," balas Anne kesal. Sudah cukup ia diinjak-injak keluarga ini. Dulu mertuanya menerimanya dengan tangan terbuka, entah mengapa beberapa tahun ini sikap mereka berubah menjadi ketus dan suka meremehkan.
"SUDAH DIAM!" bentak Budi sambil menggebrak meja. "Dan kamu Anne, kamu jangan jadi menantu durhaka. Jaga ucapanmu. Bagaimanapun beliau adalah ibuku, ibu mertuamu. Kamu tak pantas berbicara seperti itu dengan ibuku," lanjut Budi dengan wajah gelap.
"Lantas aku harus selalu diam saat ibumu selalu merendahkan aku? Begitu Mas? Aku kan hanya mengatakan yang sebenarnya, ada uangku dalam pembelian rumah ini. Bahkan lebih banyak uangku dari uangmu."
"Dasar istri kurang ajar. Rasakan ini."
Plakkkk ...
"Aaaargh ..."
"Ibu ... " pekik anak-anak Anne dan Budi.
__ADS_1
"Jaga bicaramu kalau kau tak ingin merasakan akibatnya!" desis Budi dengan jari telunjuk mengarah kepada Anne.
Setelah mengatakan itu, ia pun bergegas pergi dari sana. Bu Romlah bukannya iba justru tertawa mengejek. Bahkan ia tak peduli kalau cucu-cucunya melihat apa yang anaknya lakukan pada ibu mereka.
Budi yang kesal, kemudian melajukan mobilnya menuju salah satu kontrakan yang memang kerap ia datangi. Kontrakan itu bebas didatangi siapa saja jadi ia bisa melenggang begitu saja ke dalam sana. Tak ada aturan ataupun pengawasan ketat. Hanya harga sewa bulanannya saja yang cukup tinggi. Bagi mereka yang suka kebebasan tentu saja tak masalah.
Budi lantas mengetuk pintu. Tak butuh waktu lama, pintu pun terbuka. Budi lantas segera masuk dan menutup pintu. Setelah pintu terkunci, Budi pun langsung menarik sang pemilik kontrakan ke dalam pelukannya. Lalu tanpa ba bi bu, ia pun langsung menyergap bibir sang perempuan. Lalu terjadilah apa yang sering mereka lakukan di sana. Sebuah hubungan terlarang berbalut kenikmatan.
"Sayang, gimana ini? Kita udah dipecat. Kamu ada kepikiran mau kerja dimana nggak? Ajak-ajak aku ya?" ucap perempuan yang tak lain adalah Nafisa. Saat ini ia sedang berbaring mesra di dada Budi.
"Aku juga belum tau. Ini gara-gara Amar brengsekkk itu. Awas saja dia, aku pasti akan membalasnya," desis Budi dengan tangan terkepal.
"Emang apa rencana kamu setelah ini? Mau balas dendam pun pakai cara apa? Emang kamu udah punya ide?" tanya Nafisa sambil mendudukkan tubuhnya. Tak peduli kalau tubuhnya belum berbalut apapun alias masih polos, tanpa rasa malu, ia beranjak dari sana.
Budi terdiam. Ia pun belum terpikir cara membalaskan dendamnya.
Sementara itu, di rumah sakit tampak Amar panik saat tahu Aliyah mengalami kejang-kejang. Bahkan Nana di rumah pun sampai memaksa ingin ke rumah sakit saat mengetahui keadaan ibunya yang tidak baik-baik saja.
"Na, tenang, kita tunggu kabar ibu di sini saja ya?" bujuk bunda Naima pada sang cucu.
Melihat sang kakak menyebut nama sang ibu sambil menangis membuat Gaffi dan Amri ikut menangis. Mereka pun memanggil-manggil nama ibunya. Bunda Naima yang tak tega lantas mengabulkan permintaan sang cucu.
"Ayah, ibu mana? Nana mau liat ibu, Yah?" pinta Nana setibanya di rumah sakit. Ia langsung berlari mendekati sang ayah dan mengguncang-goncang lengannya agar diizinkan bertemu sang ibu.
Amar yang sedang menangis kemudian memeluk sang putri. Sementara Gaffi dan Amri ada di taman rumah sakit bersama sang Eyang.
Amar menggeleng, "ibu masih di dalam. Dokter masih berusaha menolong ibu. Nana tenang ya, Sayang. Doakan ibu ... " ucap Amar sesenggukan. Ia bahkan kesulitan untuk bicara karena nafasnya yang tercekat.
"Ibu, ibu, bangun ibu. Jangan tinggalin Nana, Gaffi, sama Amri, Bu. Ibu ... " pekik Nana dari luar pintu IGD.
"Nana, tenang, Nak. Tenanglah!" Emak Laila mencoba menenangkan Nana, tapi gadis itu justru makin berteriak kencang. Entah mengapa ia benar-benar cemas saat ini.
"Al, aku mohon bertahanlah! Aku mohon Al. Aku mohon," lirih Amar sambil terus melafalkan doa dalam hatinya. Entah mengapa, jantungnya berdegup dengan begitu kencang. Rasa khawatirnya kali ini benar-benar berbeda. Seperti akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkannya.
__ADS_1
Tak lama kemudian pintu ruang IGD pun terbuka. Seorang dokter pun keluar dari dalam sana dengan wajah muramnya.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya? Dia tidak apa-apa kan?"
"Iya dok, bagaimana keadaan ibu Nana? Ibu nggak papa kan, dok? Ibu pasti sembuh kan? Ayo dok, bicara! Jangan diam saja!" pekik Nana sambil mengguncang-goncang lengan sang dokter. Terserah ia dibilang tak sopan. Ia hanya sedang khawatir. Benar-benar khawatir.
Dokter itupun menghela nafasnya panjang kemudian menggeleng, "maaf!"
Hanya satu kata itu yang terucap dari bibir sang dokter. Jelas saja hal tersebut membuat Amar, Nana, dan kedua orang tua Aliyah bagai disambar petir.
"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi Allah berkehendak lain," lanjutnya membuat Nana histeris.
"Nggak. Nggak. Itu nggak mungkin. Dokter pasti bohong kan. Ibu Nana nggak mungkin pergi ninggalin Nana. Dokter pasti salah. Ibu Nana masih hidup," tolak Nana sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tidak percaya dengan apa yang dokter itu katakan, Nana pun menerobos masuk ke dalam ruangan di mana Aliyah berada. Tampak perawat sedang melepaskan satu persatu alat penopang hidup sang ibu. Nana menjerit histeris. Ia pun bergegas mencegah perawat tersebut melepaskan berbagai alat medis yang menempel di tubuh ibunya tersebut.
"Jangan! Jangan dilepas. Ibu Nana masih hidup. Kalian nggak boleh melepaskan ini. Jangan! ibu ... Ibu bangun, Bu. Mereka bilang ibu udah nggak ada. Mereka salah kan, Bu. Ibu masih hidup kan. Ayo Bu, buka mata ibu! Bangun, Bu. Bangun!" pekik Nana sambil mengguncang-goncang lengan sang ibu. Namun Aliyah tak bergeming. Amar pun melakukan hal yang sama.
"Al, bangun, Al. Jangan tinggalkan aku. Jangan tinggalkan anak-anak. Aku mohon bangun, Al. Aku mohon ... "
Namun apapun yang Amar dan Nana lakukan ternyata sia-sia. Aliyah tetap tak bergeming.
Pesan yang Aliyah kirimkan pada Amar tempo hari seketika kembali muncul diingatan Amar.
"Aku menyerah, Mas."
Amar meraung. Ia tersungkur ke lantai sambil memukul-mukul lantai marmer yang dingin.
Mengapa penyesalan selalu saja datang terlambat?
"Aliyah ... "
"Ibu ... "
__ADS_1
...***...
...^^^HAPPY READING ❤️❤️❤️^^^...