Penyesalan Anak Dan Suami

Penyesalan Anak Dan Suami
PAS 61


__ADS_3

"Assalamu'alaikum," ucap seseorang dari luar pintu. Bi Lela pun gegas berlari ke depan untuk melihat siapa tamu yang datang di tengah hari seperti ini.


"Wa'alaikumussalam," jawab Bi Lela. "Maaf, ibu siapa ya? Mau cari siapa?" tanya Bi Lela yang memang belum mengenal siapa sosok wanita paruh baya yang berdiri di hadapannya.


"Oh, saya Naima, ibu dari Amar," ucap wanita yang ternyata bunda Naima tersebut. Sudah satu bulan lebih Bunda Naima tidak berkunjung ke kediaman anak sulungnya. Hal ini dikarenakan Amara yang yang sedang hamil muda jadi ia tidak bisa meninggalkan Amara, anak keduanya itu begitu saja. Apalagi memang Amara tinggal di rumahnya. Amara sengaja memilih tinggal di rumah sang ibu karena tidak tega meninggalkan Bunda Naima seorang diri. Untung saja suami Amara setuju jadi keluarga kecil Amara pun tinggal di rumah sang ibu agar tidak kesepian seorang diri.


"Oalah, maafkan saya ya, Bu. Saya baru tahu. Padahal ada foto keluarga pak Amar di ruang tengah, tapi yo aku nggak ngeh. Soalnya Bu Naima keliatan lebih cantik daripada yang di foto," ujar Bi Lela yang memang tidak melebih-lebihkan. Bi Lela berkata jujur apa adanya. Bunda Naima memang merawat dirinya dengan baik sehingga masih terlihat cantik di usia senjanya.


"Halah, jangan berlebihan toh! Aku nggak secantik itu," kekeh Bunda Naima geli sendiri dipuji bi Lela.


"Aku nggak bohong kok, Bu. Ayo, Bu, silahkan masuk."


Bi Lela mempersilahkan Bunda Naima masuk. Bunda Naima pun masuk sambil terkekeh.


"Menantu saya ada kan emmm ... " Bunda Naima bingung mau memanggil Bi Lela dengan panggilan apa. Dari segi usia, sepertinya bi Lela lebih muda dari dirinya.


"Panggil Lela aja, Bu."


"Oh, Lela. Salam kenal ya. Jangan panggil saya ibu, kayaknya usia kita juga nggak jauh berbeda. Panggil Mbak yu aja, gimana?"


"Wah, baik kalau begitu. Oh ya, menantu Mbak yu ada kok. Masih tidur siang sama Gaffi dan Amri," ujar Bi Lela seraya menyambut barang bawaan bunda Naima.


Bunda Naima menganggukkan kepalanya, "oh ya, bagaimana hubungan anak dan menantu saya, La? Apa mereka baik-baik saja?" tanya Bunda Naima yang masih khawatir dengan hubungan keduanya.

__ADS_1


Sebulanan ini bunda Naima selalu kepikiran bagaimana kelanjutan hubungan antara anak dan menantunya. Bagaimana kalau Aliyah tidak mau memaafkan anaknya? Bagaimana kalau akhirnya mereka memilih berpisah? Bahkan Bunda Naima pernah berpikir negatif, bagaimana kalau Amar hanya berpura-pura saja berubah? Bagaimana kalau ia masih menjalin hubungan dengan pelakor itu? Sungguh bunda Naima tidak bisa tenang. Tak pernah terbayangkan kalau anak dan menantunya benar-benar berpisah. Apalagi Aliyah merupakan menantu yang amat sangat baik. Mungkin ia takkan menemukan menantu sebaik Aliyah lagi kalau sampai mereka berpisah.


"Alhamdulillah, Mbak yu, mereka sekarang jauh lebih baik. Sebelumnya aku sampai bingung lho Mbak yu, mereka kayak perang dingin gitu. Tapi Alhamdulillah, akhir-akhir ini hubungan keduanya mulai membaik. Mbak Aliyah juga udah mulai mau tersenyum. Bicara juga. Nggak dingin banget kayak pas awal-awal kerja di sini. Tapi Mbak yu, beberapa hari yang lalu sempat ada seorang perempuan yang ngaku-ngaku hamil anak pak Amar. Waktu itu mbak Aliyah sampai ngamuk-ngamuk gitu. Aku pikir hubungan mereka bakal tambah rumit, tapi nggak taunya setelah itu mbak Aliyah malah bisa senyum lagi. Entah apa yang Pak Amar lakuin, tapi aku seneng sekali Mbak Yu," ujar Bi Lela yang kemudian menceritakan dengan detil mulai kedatangan Nafisa hingga bagaimana mereka mengusirnya.


Jelas saja hal itu membuat bunda Naima tertawa terbahak-bahak.


"Kamu keren banget sih, La. Emang perempuan begitu pantasnya diguyur air cabe. Kalau perlu sampai ke anu-anunya biar nggak gatal lagi," kekeh Bunda Naima dengan tawa berderai.


Bi Lela sampai membayangkan bagaimana kalau Nafisa ia guyur air cabe sampai ke anu-anunya, bisa-bisa panas meradang.


"Wah, ide bagus itu Mbak Yu. Gatalnya pasti sembuh total itu," ujar Bi Lela yang ikut tertawa.


Tak lama kemudian, Nana pulang sekolah. Melihat keberadaan sang eyang, Nana pun girang bukan main.


"Bunda? Kapan bunda datang? Kok nggak bilang-bilang lagi mau datang? Kan Aliyah bisa ... " Seketika Aliyah berhenti berbicara. Ia tadi ingin mengatakan kalau ia bisa menyambut dan membuatkan makanan spesial untuk sang ibu mertua yang baiknya bagai ibu kandung sendiri. Tapi setelah sadar, bahkan untuk turun dari ranjang saja ia tak mampu, bagaimana bisa ia menyambut kedatangan sang ibu mertua apalagi memasakkannya makanan yang spesial?


Bunda Naima bisa merasakan kepedihan Aliyah akibat kelumpuhan yang ia alami. Ia pun segera duduk di samping Aliyah dan berkata, "kau tidak perlu merasa rendah diri seperti ini, Al. Bunda nggak papa kok. Lagian, anggap ini waktunya kamu untuk beristirahat sejenak. Bukankah selama ini kau sudah begitu bekerja keras untuk mengurus suami dan anak-anakmu? Dan kini giliran kamu untuk beristirahat sejenak. Bunda yakin, kakimu akan segera sembuh. Jadi tidak perlu menyesali keadaanmu saat ini," tukas Bunda Naima sambil menggenggam tangan Aliyah.


Aliyah tersenyum lebar. Kata-kata bunda Naima seakan menjadi angin segar bagi Aliyah.


"Aamiin, Bun. Terima kasih ya, Bun. Semoga saja Aliyah bisa segera jalan lagi. Aliyah juga pingin masakin Mas Amar dan anak-anak seperti biasa. Aliyah merasa seperti seorang istri dan ibu yang nggak berguna karena nggak bisa berbuat apa-apa."


...***...

__ADS_1


Bunda Naima akan tinggal di kediaman putra sulungnya selama satu Minggu. Dan hari ini adalah hari kedua bunda Naima di sana. Aliyah dan Amar sedang tidak ada di rumah karena sedang pergi ke rumah sakit untuk melakukan kontrol sekaligus terapi kakinya.


Saat sedang memasak makan siang untuk anak, menantu, dan cucu-cucunya, tiba-tiba Bunda Naima mendengar keributan dari luar. Bunda Naima pun segera mematikan kompor dan mencuci tangannya. Ia juga mengelap tangannya hingga kering, kemudian ia pun segera beranjak ke depan untuk melihat siapa yang sudah membuat kegaduhan di rumah anak dan menantunya itu.


"Katakan dimana majikan kamu yang tidak bertanggung jawab itu? Dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya yang sudah menghamili anak saya," sentak seorang wanita membuat Bunda Naima pun bergegas ke depan.


"Benar, katakan saja. Tidak perlu berbohong. Atau pertemukan kami dengan istri majikan kamu. Katakan saja kalau kami ingin meminta pertanggungjawaban suaminya yang sudah membuat putri saya hamil," tukas seorang laki-laki.


"Heh, emang bapak sama ibu yakin anak yang putri bapak dan ibu kandung ini beneran anak majikan saya? Kok saya ragu ya? Secara nih ya, saya itu tahu kalau majikan saya itu cinta banget sama istrinya. Dan asal bapak dan ibu tahu, majikan saya pun dah bilang kalau itu bukan anaknya. Bilang ke anak bapak dan ibu ini, jangan mengada-ada. Kalian bisa dilaporkan dengan pasal pencemaran nama baik lho, gimana? Apa kalian nggak takut?" ujar Bi Lela dengan tatapan sengit.


"Heh, jangan sembarangan bicara kau ya! Nafisa bukan perempuan seperti itu. Aku yakin, Nafisa tidak bohong kalau anak benar-benar anak majikan kamu. Kau pikir anak kami perempuan murahan, hah? Cuma pembantu aja songong. Jangan banyak banget bicara lagi, katakan saja, dimana tuanmu?"


"Ada apa ini ribut-ribut?" tiba-tiba bunda Naima keluar dari dalam rumah. Ayah Nafisa yang mendengar suara bunda Naima seketika jantungnya berdetak hebat.


Hingga kepala ayah Nafisa pun terangkat untuk melihat sosok yang sudah berdiri di depan pintu. Matanya terbelalak, begitu pula mata bunda Naima yang tak pernah menyangka kalau ia akan dipertemukan lagi dengan seseorang dari masa lalunya.


"Mas Armand?"


"Naima?"


...***...


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2