
Dengan perasaan lega sebab kebenaran telah terungkap di depan atasannya, Amar pun berjalan untuk kembali ke meja kerjanya. Namun baru saja Amar hendak mendudukkan bokongnya di atas kursi, tiba-tiba saja sebuah pukulan mendarat keras di pipinya hingga ia jatuh terjungkal.
Bugh ...
Brakkk ...
"Shittt! Si- ... kau," desis Amar saat mengetahui Budi lah yang telah melakukan pemukulan kepadanya.
Sontak saja keributan tersebut memicu perhatian semua karyawan yang ada di lantai tersebut.
Amar lantas berdiri tegak dengan tatapan mata nyalang. Begitu pula BudI yang menatapnya dengan penuh dendam dan kebencian.
"Kenapa, hah?" tantang Budi tak peduli kalau ia masih berada di kantor.
"Sebenarnya apa maumu, hah?"
"Kau masih bertanya apa mauku? Aku mau mau hancur. Hancur berkeping-keping. Seharusnya aku yang berada di posisimu, tapi kau merebutnya dariku. Lalu kini kau pun membuatku dipecat dari kantor ini, dasar bajingaan," teriak Budi yang kembali melangkah hendak memukul Amar.
Namun dengan sigap Amar menghindar dan menepis pukulan Budi. Budi tak mau menyerah, ia lantas memutar tubuhnya sambil mengangkat kakinya dan menendang tepat di perut Amar sehingga Amar reflek mundur dengan perut yang teramat sangat sakit. Amar bahkan sampai terbatuk-batuk karenanya.
"Seharusnya kau introspeksi diri, dimana letak kesalahanmu, bukannya menyalahkan orang lain seperti ini," balas Amar setelah berhasil meredakan batuknya.
"Omong kosong! Aku jadi begini karena mu. Aku akan menghancurkan mu!"
Lagi, mereka pun terlihat perkelahian. Budi yang memang mantan penyandang sabuk hitam ilmu beladiri jelas saja lebih lihai dan sulit untuk dihadapi.
Karyawan wanita menjerit histeris saat melihat aksi brutal Budi menghajar Amar. Seakan belum puas, Budi lagi-lagi mengayunkan tangannya untuk memukul Amar, namun kali ini Amar berhasil menangkap pergerakan tangan Budi lalu memutarnya kemudian menendang tepat di lutut Budi. Budi menjerit karena rasa sakit luar biasa di kakinya.
__ADS_1
Amar hendak maju kembali untuk memukul Budi, tapi tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang membuat Amar reflek mencengkeram tangan seseorang tersebut dan memelintirnya.
"Mas Amar, ini aku ... Aaaakh ... sakit, Mas, lepas!" rintih Nafisa karena tangannya dipelintir oleh Amar.
Amar yang terkejut pun reflek menghempaskan tangan Nafisa.
"Mas, tolong, hentikan! Ingat, kalian sedang berada di kantor," cicit Nafisa ketakutan saat melihat tatapan nyalang Amar.
"Kalian berdua memang sama-sama bajingaan. Setelah menipuku, mempermainkan ku, lalu kalian juga ingin menjebakku dan menghancurkan ku, begitu?" Raung Amar dengan sorot mata penuh amarah.
Nafisa menggeleng cepat, "tidak, Mas. Kau salah paham. Aku tidak bermaksud seperti itu," kilah Nafisa tak ingin Amar membencinya.
"Tidak perlu berkelit lagi, Fisa. Setelah apa yang kalian lakukan di belakangku, kalian pikir aku masih akan percaya dengan pembelaan diri kalian, hah? Tidak. Aku takkan tertipu lagi dengan kebohongan kalian itu."
"Mas, maaf, maafkan aku. Aku ... Aku terpaksa melakukannya. Aku ... "
Amar pun lekas menoleh dengan mata membulat. Namun belum sempat vas bunga itu dilemparkan, seorang sekuriti dengan sigap menahan tangan Budi, lalu satunya lagi mengambil alih bas bunga tersebut.
"Apa-apaan ini? Kenapa ribut-ribut di sini?" Raung pak Tommy setelah mendengar keributan dari dalam ruangannya.
Lalu sekuriti pun melaporkan apa yang terjadi sesuai informasi dari salah seorang karyawan yang melaporkan telah terjadi keributan di dalam sana.
"Budi, aku pikir dengan memecat mu bisa membuka pikiranmu agar dapat menerima kenyataan. Tapi ternyata aku salah. Pikiranmu begitu sempit. Tanpa mau introspeksi diri, kau justru memilih menyalahkan orang lain atas ketidak kompetenan mu. Segera pergi dari sini sebelum aku menghubungi pihak kepolisian dan melaporkan perbuatanmu ini!" ancam pak Tommy membuat Budi menggeram kesal. Dengan langkah sedikit terseok sebab sakit di bagian lututnya, Amar pun segera pergi dari sana.
"Kau juga. Tunggu apa lagi?" Segera pergi dari sini!" sentak pak Tommy pada Nafisa membuat perempuan muda itu tersentak. Lalu ia pun bergegas mengangkat kardus berisi barang-barangnya. Sebelum benar-benar pergi, Nafisa menoleh ke arah Amar dan menatapnya sendu. Berharap Amar mau menghentikan langkahnya. Namun ternyata, Amar tak bergeming sama sekali. Ia justru menatap kepergiannya dengan acuh tak acuh membuat Nafisa kesal setengah mati
Setelah semua kekacauan berakhir, Amar pun segera melanjutkan pekerjaannya. Ia harus membereskan semua pekerjaannya sesegera mungkin sebab sore itu dokter ingin menemuinya perihal jadwal operasi Aliyah.
__ADS_1
Tepat pukul 3 menjelang sore, Amar akhirnya berhasil menyelesaikan semua pekerjaannya. Ia pun bergegas membereskan barang-barangnya. Lalu ia menemui pak Tommy untuk meminta izin pulang lebih awal.
Pak Tommy yang paham mengenai keadaan istri bawahannya tersebut pun memberikan izin. Terlebih Amar telah menyelesaikan semua pekerjaannya.
Tak butuh waktu lama, Amar kini telah tiba di rumah sakit. Ia telah ditunggu dokter Arkan selaku dokter bedah yang akan menangani operasi istrinya.
"Jadi operasi akan dilakukan 3 hari dari sekarang, dok?" tanya Amar yang langsung diangguki dokter Arkan.
Setelah memastikan jadwal operasi, Amar pun segera menuju ruangan Aliyah. Seperti biasa, ia akan duduk di samping perempuan itu sambil menggenggam tangan Aliyah dan berbicara dengannya. Tak peduli Aliyah akan mendengar segala celotehannya atau tidak, ia akan terus bercerita. Bahkan ia pun menceritakan segala kebusukan Budi dan Nafisa pada Aliyah.
"Mas memang bodoh. Padahal Mas memiliki berlian yang paling berharga, tapi Mas justru menyia-nyiakannya demi sampah seperti Nafisa. Mas mohon, Sayang, maafkan Mas. Bangunlah. Sudahi tidur panjangmu ini. Mas dan anak-anak sangat merindukanmu. Sungguh," lirih Ajar yang tak henti-hentinya mengurai air mata setiap kali ia berbicara dengan Aliyah.
Menjelang sore, Amar lebih dulu pulang ke rumah. Ia tak bisa lepas tanggung jawab begitu saja dengan anak-anaknya. Aliyah sedang tidak bisa mengurus anak, jadi sebagai seorang ayah, sudah seharusnya ia menggantikan peran Aliyah. Meskipun ada ibunya di rumah, tapi sesempat mungkin Amar meluangkan waktunya untuk anak-anaknya. Bahkan setiap malam Amar akan menyuapi Gaffi dan Amri makan malam. Sementara Nana, ia meluangkan waktu untuk menemaninya jikalau ada PR.
Setelah jarum jam menunjukkan pukul 9 malam, Amar akan kembali ke rumah sakit. Meskipun ayah mertuanya ada dan bersedia menjaga Aliyah selama mereka di sana, tapi Amar tidak setega itu untuk membiarkan ayah mertuanya menjaga Aliyah malam-malam. Bagaimanapun ayah mertuanya itu sudah tak muda lagi. Ia tak mau, karena sibuk menjaga Aliyah, justru kesehatan mereka tidak terjaga.
Saat sedang menyisir rambutnya, mata Amar menangkap ponsel Aliyah yang tergeletak di atas meja. Ia hampir saja lupa dengan ponsel sang istri yang tampaknya telah lama terbengkalai. Bahkan kini ponsel itu dalam keadaan mati karena lowbat.
Amar lantas mengantongi ponsel tersebut untuk ia isi daya di rumah sakit.
Tepat di tengah malam, Amar yang tertidur di kursi sambil menggenggam tangan Aliyah tiba-tiba tersentak saat mendengar suara ponsel. Dengan setengah kesadaran, Amar pun mencari sumber suara ponsel tersebut.
Sambil menguap, ia lantas mengambil ponsel Aliyah. Ternyata ponsel Aliyah lah yang berdering sejak tadi. Amar lantas memeriksa ponsel tersebut. Ia penasaran, siapa yang menghubungi istrinya malam-malam seperti ini. Namun matanya seketika terbelalak dengan kaca-kaca bening menghiasinya saat ia melihat apa yang terpampang di layar ponsel istrinya tersebut.
...***...
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...
__ADS_1