
..............
...Keesokan harinya...
...Shen Yuwen bersiap-siap untuk pergi dinas, dia sudah mempersiapkan segala keperluannya di bantu oleh Asistennya. Perlahan dia keluar dari kamarnya. Ini juga pertama kalinya bagi Shen Yuwen pergi untuk dinas keluar negri, biasanya jika dia pergi dinas pun dia hanya akan pergi ke luar kota, hatinya merasa sedikit tidak tenang karena harus meninggalkan Xin Qian dengan Jia Fei di rumah....
...Jia Fei akhir-akhir ini pun sering membuatnya marah, Shen Yuwen menjadi khawatir jika Jia Fei membuat masalah selama dia tidak ada. Terlepas dari perasaan nya terhadap Jia Fei, Shen Yuwen hanya tidak ingin jika Jia Fei membuat dirinya juga keluarganya malu. Shen Yuwen berjalan ke lantai bawah, dia melihat Xin Qian dan juga Jia Fei yang sudah menunggunya. Shen Yuwen menghampiri Xin Qian terlebih dahulu dan memeluknya dengan erat, seolah tidak ingin berpisah. Shen Yuwen mencium sekilas kening Xin Qian. Dan tidak lupa mengucapkan kata-kata yang menyuruhnya untuk menjaga kesehatannya. Namun ketika tatapannya jatuh pada Jia Fei, Shen Yuwen hanya melihatnya sekilas kemudian membuang mukanya....
...Jia Fei tidak kuat menahan adegan mesra di hadapannya. Dia hanya bisa menundukkan kepalanya....
...Sesuai perjanjian nikah yang dia tanda tangani sedari awal, bahwa dia tidak berhak ikut campur urusan pribadi Shen Yuwen. Begitupun Shen Yuwen tidak akan ikut campur urusan pribadi Jia Fei, Jia Fei juga tidak bisa berbuat apa-apa. Shen Yuwen perlahan berjalan ke arah Jia Fei, Ketika dia tepat berada di hadapan Jia Fei, Shen Yuwen berhenti seperti ingin membuka mulutnya dan mengatakan sesuatu, namun dia urungkan niatnya. Akhirnya dia tidak mengatakan sepatah katapun. Shen Yuwen melewati Jia Fei begitu saja seolah tidak ada kehadiran Jia Fei di sana....
...Jia Fei merasakan seperti ada yang mengaduk dalam hatinya perasaan sedih dan juga sakit, entah sedih karena Shen Yuwen pergi dinas keluar negri atau karena dia pergi bahkan tidak mengucapkan sepatah katapun. Berbeda dengan Xin Qian, Shen Yuwen memeluknya dan mengucapkan kata-kata manis, sementara dirinya Shen Yuwen bahkan tidak repot-repot menatapnya. Dia tidak mengucapkan satu kalimat pun....
__ADS_1
...Shen Yuwen berjalan melewati Jia Fei, ketika dia baru beberapa langkah, Ji Fei kemudian memanggil Shen Yuwen. Shen Yuwen yang merasa namanya di panggil segera menolehkan kepalanya. Jia Fei buru-buru mendekat ke arah Shen Yuwen dan memberikan barang yang dia bawa. Shen Yuwen menatap heran barang pemberian Jia Fei....
..."Perutmu lemah, bawalah ini jika rasa sakitnya tidak tertahankan, jangan hanya menahannya segera minum, dan jangan sampai telat makan,"...
...Jia Fei mengatakannya dengan nada yang sedikit gemetar. Shen Yuwen berdiri mematung, Jia Fei tau bagaimana kondisi tubuhnya, mungkin karena melewati waktu bertahun-tahun bersama, namun dia dan Xin Qian juga melewati waktu yang jauh lebih lama dari dia dan Jia Fei, namun Xin Qian bahkan tidak mengingat hal-hal seperti ini. Shen Yuwen merasa ada sesuatu yang mengusik hatinya namun segera dia abaikan....
...Xin Qian menatap kesal ke arah Jia Fei, wajahnya di penuhi amarah, Jia Fei pasti sengaja agar Shen Yuwen memperhatikan dirinya. Namun Xin Qian tidak akan pernah membiarkan itu terjadi....
...Shen Yuwen seakan tersadar, "Ah, tentu saja," Shen Yuwen tau apa yang di inginkan Xin Qian. Itu karena ketika kemarin dia bersama Xin Qian di kamarnya dia membujuk Xin Qian agar dia tidak sedih karena Shen Yuwen harus pergi ke luar negri. Shen Yuwen terus menerus membujuknya, dan pada akhirnya Xin Qian membiarkan Shen Yuwen pergi dengan catatan bahwa dia harus membawa oleh-oleh yang dia inginkan yaitu sebuah tas mewah yang baru saja di rilis. Dan hanya ada beberapa di dunia....
...Shen Yuwen juga melihat sekilas tatapan Jia Fei sebelum dia memasuki kamar Xin Qian. Tatapan Jia Fei di penuhi raut sedih dan kecewa. Mungkin dia kecewa karena Shen Yuwen bahkan tidak pernah memasuki kamarnya. Namun ketika kamar itu di tempati Xin Qian, Shen Yuwen bertingkah seolah sudah terbiasa masuk keluar kamar itu. Pada dasarnya dia juga tidak melakukan hal di luar batasnya dengan Xin Qian. Tetap saja Jia Fei mungkin merasa sedih, namun sedari awal dia sudah mengatakan bahwa dia tidak pernah mencintai Jia Fei dan hanya mencintai Xin Qian. Jadi Jia Fei juga tidak berkah merasa marah dan juga sedih karenanya....
...Shen Yuwen mengerti dengan keinginan Xin Qian. Dia kemudian menatap Jia Fei seolah bertanya, "Kau mau oleh-oleh apa,"...
__ADS_1
...Jia Fei membalas tatapan Shen Yuwen, seolah mengerti maksud tatapan Shen Yuwen, Jia Fei segera berkata, "Aku tidak menginginkan apapun, hanya pulanglah dengan selamat,"...
...Shen Yuwen termenung dengan ucapan Jia Fei, ini seperti Jia Fei mengucapkan salam perpisahan. Namun Shen Yuwen juga tidak bisa menahan perasaan yang tiba-tiba masuk ke dalam hatinya. Rasa khawatir yang terpancar dalam tatapan mata Jia Fei, Shen Yuwen juga bisa melihatnya. Tunggu, Jia Fei mengkhawatirkan dirinya. Apakah Jia Fei mencintai dirinya. kenapa dia harus merasa khawatir,"Pikirnya....
...Apakah dia takut ketika dia tidak pulang kemudian menjadi janda, ataukah sebaliknya dia senang jika dirinya tidak pulang, jadi Jia Fei bisa bersama pria asing itu. Shen Yuwen memikirkan berbagai macam kemungkinan. Namun kemungkinan yang dia pikirkan membuatnya tidak senang....
...Shen Yuwen menjadi kesal kemudian segera bergegas pergi. Jia Fei tidak tau kenapa Shen Yuwen melihatnya dan merasa sangat kesal. Apa karena dia memberikannya berbagai macam obat dan berpikir bahwa mungkin saja obat itu salah satu obat berbahaya. Atau kah Shen Yuwen kesal karena melihatnya ketika Shen Yuwen tidak ingin melihatnya lagi....
...Jia Fei menatap kosong ke arah punggung Shen Yuwen yang semakin menjauh....
...Dia kemudian berjalan masuk kembali ke kamarnya. Tidak lama suara deru mobil terdengar....
...Sedangkan Xin Qian menatap ke arah Jia Fei dia menyeringai seakan sesuatu yang buruk akan terjadi....
__ADS_1