
Ketika Shen Yuwen mendengar bahwa adiknya telah siuman, dia langsung bangkit berdiri. Dia telah menungggu untuk waktu yang lama seolah menunggu hingga seribu tahun untuk adiknya bangun dari koma, ini seperti suatu keajaiban.
Nyonya Shen bahkan lebih terkejut, dia hampir menangis ketika dia berkata "Yuwen, benarkah itu? Apakah Tianzhi benar-benar siuman?"
Shen Yuwen menganggukkan kepalanya kali ini bahkan tanpa keraguan. Diantara kedua orang itu, ada satu orang yang berdiri mematung dan memasang raut wajah tidak senang. Bahkan wajahnya kini berubah menjadi pucat. Sekarang dia bahkan tidak peduli lagi untuk berdebat dengan Nyonya Shen, yang terpenting sekarang adalah Tianzhi, benar wanita itu.
Selama ini dia telah memastikan bahwa wanita itu tidak akan lagi bangun, dia bahkan menyewa seorang dokter gadungan untuk terus memeriksa keadaannya, karena itu selama ini dia selalu tenang. Tapi apa ini? Mengapa tiba-tiba dia siuman.
Nyonya Shen melepas jarum infus yang menancap di punggung tangannya, dia merasa telah sehat sepenuhnya dan energinya tiba-tiba telah pulih. Shen Yuwen terkejut dan dia menegur Ibunya.
"Ibu, apa yang Ibu lakukan?"
Nyonya Shen menggelengkan kepalanya. "Ibu harus melihat Tianzhi, sangat kebetulan bahwa kita berada di rumah sakit yang sama. Ayo cepat pergi."
"Tidak, Ibu tunggu saja disini. Biar aku yang pergi Ibu masih harus di rawat." Shen Yuwen tidak setuju, tekanan darah Ibunya naik dia bahkan belum memastikan keadaan Tianzhi. Jika adiknya itu tidak berada dalam kondisi yang bagus, dia takut itu akan berpengaruh pada kesehatan Ibunya.
"Apa yang kau bicarakan, Ibu sudah sehat selama Xin Qian tidak menampakkan wajahnya di hadapan Ibu, Ibu akan baik-baik saja."
__ADS_1
Xin Qian yang mendengarnya menjadi kesal, emosinya mulai naik namun ini bukan saatnya dia untuk bertengkar dengan Nyonya Shen, dia harus segera pergi dan menemukan dokter gadungan itu.
Diam-diam Xin Qian mundur kebelakang dan pergi dari ruangan. Kedua orang itu tidak sadar saat Xin Qian pergi.
Adapun Shen Yuwen dia tidak membalas perkataan Ibunya, dan membantu Ibunya untuk berdiri, ketika dia menolehkan kepalanya dia melihat Xin Qian tidak berada di sana. Shen Yuwen mengerutkan dahi namun dia tidak memikirkannya lagi, yang terpenting sekarang adalah adiknya.
Adapun Xin Qian dia pergi ke belakang dan melakukan panggilan di sana. Namun berapa kali pun dia mencoba panggilan itu tidak di angkat. Menghentakkan kakinya ke lantai dia mulai kesal.
"Sialan, mengapa dia tidak mengangkatnya."
Xin Qian terus mondar-mandir dan dia mulai merasa tidak tenang, Bagaimana jika Tianzhi mengingat hari dimana dia mendorongnya dari tangga? Jika dia mengatakannya pada Shen Yuwen, dia harus bagaimana?.
Sementara itu sebelum Shen Yuwen pergi ke ruangan Tianzhi dia menghubungi Ayahnya terlebih dahulu dan mengatakan bahwa Tianzhi siuman. Tuan Shen di seberang sana langsung menutup panggilan dan segera bergegas ke rumah sakit.
Saat Shen Yuwen tiba di depan ruangan dia bertemu dengan dokter, sebelum dia masuk keruangan, mereka berdua berbicara beberapa hal mengenai Tianzhi.
"Tuan Muda Yuwen, ini adalah suatu keajaiban, Adik anda sekarang dalam kondisi stabil, namun mengingat dia telah mengalami pendarahan di otak, dia mungkin akan melupakan beberapa hal. Jadi jangan terlalu membebaninya karena itu akan berpengaruh pada kesehatannya."
__ADS_1
"Maksud dokter, dia tidak akan mengingat bagaimana dia terluka?"
"Mengenai itu saya tidak bisa mengatakannya, jika dia tidak mengingat sebaiknya jangan memaksanya."
Shen Yuwen menganggukkan kepalanya. Dia kemudian mengatakan beberapa hal kepada Ibunya agar Ibunya mengerti. Setelahnya dia dan Ibunya masuk ke ruangan. Melihat anak perempuannya sudah membuka mata Nyonya Shen tidak bisa menahan kebahagiaannya.
Dia menangis dan segera menghampiri Tianzhi. "Tianzhi sayang, syukurlah kau sudah sadar."
Tianzhi yang mendengar suara Ibunya dia menolehkan kepalanya, menatap Ibunya dengan berkaca-kaca dia berkata. "Ibu...,"
"Ya, ini Ibu... Ibu disini. Semua baik-baik saja sekarang."
Shen Yuwen juga menangis namun dia buru-buru mengusap air matanya, berjalan mendekati Tianzhi dia berkata. "Tianzhi kau masih ingat pada kakak?"
Tianzhi mengerjapkan matanya, dia menganggukkan kepalanya. "Tentu saja mengapa aku tidak mengingat Kakak."
Tianzhi kemudian melihat sekeliling dia kembali melanjutkan. "Dimana Ayah?"
__ADS_1
"Ayahmu berada di perjalanan kemari," Nyonya Shen terus menatap anaknya air matanya masih terus mengalir.
Tiba-tiba Tianzhi berkata. "Dimana Kakak ipar Jia?"