
Ketika Nyonya Shen melihat Xin Qian hatinya di penuhi ketidaksukaan, untuk apa lagi wanita itu menginjak rumahnya. Nyonya Shen turun dari mobil dan menepuk sedikit roknya yang kusut. Tiba-tiba dia memiliki pemikiran yang unik, menenteng Tote Bag nya, dia berjalan ke arah Shen Yuwen.
"Bu, kau sudah kembali? Aku mendengar bahwa kau pergi menghadiri peluncuran perhiasan." Shen Yuwen mengatakannya dengan tenang.
Nyonya Shen menganggukkan kepalanya, dia memamerkan barang yang dia bawa. "Ya, aku baru saja kembali. Hem, kau tau aku bertemu siapa di sana? Kau pasti akan terkejut jika aku mengatakannya."
Shen Yuwen mengerutkan dahinya dia berkata. "Siapa itu?"
Nyonya Shen tidak langsung menjawab, sebaliknya dia mengeluarkan kalung yamg telah dia terima dari Jia Fei. Dia berkata. "Shen Yuwen lihat bukankah kalung ini terlihat sangat indah. Seseorang yang tidak memiliki jiwa seni tidak akan mengerti."
Ketika Nyonya Shen mengatakannya, dia melirik Xin Qian dengan sudut matanya..Xin Qian menjadi kesal apa Ibu mertuanya baru saja menyindirnya.
"Ya, Ibu itu adalah perhiasan yang bagus. Yuwen aku juga ingin kalung itu."
Nyonya Shen kesal mendengarnya, dia akhirnya berkata. "Kalung ini dibuat hanya sebanyak lima buah, bahkan jika kamu ingin kamu juga tidak akan bisa mendapatkannya. Semua kalung itu telah terjual habis, beruntung bahwa aku mendapatkannya secara cuma-cuma, seseorang memberikan ini padaku."
__ADS_1
Xin Qin mengepalkan tangannya, di dunia ini apa yang tidak bisa dia miliki. Dia bahkan berhasil merebut Shen Yuwen dari Jia Fei. Apalagi hanya untuk sebuah kalung.
"Hah, apa yang tidak bisa aku miliki. Yuwen, aku juga menginginkan kalung itu."
Shen Yuwen memijat pelipisnya, dia telah bersabar untuk Xin Qian dan mencoba menerimanya, tapi mengapa dia bersikap seperti ini.
Nyonya Shen mengabaikan Xin Qian dan dia berkata. "Yuwen, kalung ini di berikan oleh Jia Fei pada Ibu, desainnya juga sedikit berbeda dari yang lain, dia berkata bahwa selama ini dia tidak bisa memberikan Ibu hadiah, jadi dia memberikan kalung ini. Dia tidak pernah menyadari bahwa bagi Ibu dia adalah hadiah terbesar."
"Apa maksud Ibu? Jia Fei memberikannya kepada Ibu?"
Mendengar ini Xin Qian menjadi marah dan dia hendak menerjang untuk mengambil perhiasan itu.
"Bu, apa kau tidak.memiliki hati nurani, menantu mu berada di depanmu tapi kau malah mengatakan hal-hal mengenai wanita lain. Lagi pula apa bagusnya kalung itu? Aku bisa memberikan Ibu yang lebih baik dari itu."
Nyonya Shen menggelengkan kepalanya. "Jia Fei bukan orang lain, dia adalah menantu keluarga Shen kami, kamulah yang orang luar, beraninya kau menghancurkan rumah tangga orang lain."
__ADS_1
Xin Qian semakin marah mendengarnya, kebencian terhadap Jia Fei melaju secepat aliran darah dan memenuhi hatinya. Dia mencoba mengambil kalung itu dan ingin menghancurkannya, pada akhirnya dia tidak bisa meraihnya, dan malah mendorong Nyonya Shen.
Nyonya Shen terdorong dan menabrak tembok, akhirnya dengan suara "Bugh." Dia jatuh ke lantai.
Shen Yuwen sangat panik dia segera menghampiri Ibunya dan mendapati Ibunya telah pingsan. Shen Yuwen terus mengguncangkan tubuh Ibunya namun Ibunya tidak juga tersadar. Akhirnya hari itu ambulance datang dan membawa Nyonya Shen ke rumah sakit.
Sebelum pergi Shen Yuwen menatap Xin Qian, dia berkata. "Aku berusaha menerimamu tapi hari ini kau malah membuat Ibuku masuk ke rumah sakit. Terlahir kali kau juga membuatnya berakhir di rumah sakit. Xin Qian aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi padamu."
Xin Qian menjadi semakin marah Shen Yuwen menyalahkannya. "Hah, aku adalah Nyonya Muda Shen, mengapa kamu menyalahkan aku? Ibumu hanya berpura-pura, aku yakin bahwa sebenarnya dia sehat. Dia hanya ingin menjauhkan aku darimu."
Shen Yuwen merasa kepalanya berdenyut dia memandang Xin Qian dengan dingin, membalikan tubuhnya dia akhirnya pergi dan masuk ke mobilnya.
Xin Qian yang di tinggal menjadi sangat panik, dia berteriak kepada Shen Yuwen. "Yuwen, Yuwen... Beraninya kau pergi, mau kemana kau? Kau akan pergi menemui Jia Fei bukan? Kembali Shen Yuwen."
Shen Yuwen menatap Xin Qian dari kaca spion, dia merasa lelah dan dia harus pergi ke rumah sakit.
__ADS_1