Peri Cintaku

Peri Cintaku
Bab 44


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


Hari ini adalah hari Jum'at yang dimana kelurahan dari pak Imam rehat dari segala pekerjaan serta kesibukan mereka di luar, tapi justru mereka malah sibuk di rumah sejak pagi, karena pasalnya pada hari ini adalah hari yang di pilih pak kyai Rahman untuk menjadi hari yang bersejarah bagi Ela.


Hari ini selepas sholat jum'at Ela akan mengucapakan dua kalimat syahadat yang itu artinya pada hari ini dirinya akan mulai menjadi umat Nabi Muhammad.


Ibu Siska juga sudah memesan ketering untuk acara pengajian nanti malam di rumahnya sebagai tanda syukur bertambahnya saudara seiman yang baru meskipun mereka selama ini sudah menganggap Ela sebagai bagian dari keluarga mereka namun rasanya begitu sangat berbeda.


''Kamu sudah siap nak?'' tanya ibu Siska yang masuk ke dalam kamar Ela. ''Ya ampun nak kamu terlihat sangat cantik.'' puji ibu Siska saat Ela membalikkan tubuh untuk menghadapnya, karena saat ibu Siska masuk...Ela sedang merapikan jilbabnya.


''Terimakasih bu'.'' ucap Ela.


''Apa kamu sudah siap?'' tanyanya yang di angguki oleh Ela. ''Kalau begitu ayo kita ke luar, yang lainnya sudah menunggu kita karena kita akan langsung berangkat.'' kata ibu Siska.


''Baik bu'.'' sahut Ela.


🌟


''Ya ampun mbak kamu cantik banget, sudah kayak bidadari surga.'' puji Rendi yang melihat Ela dan sang ibu memasuki ruang tamu.

__ADS_1


''Halah kayak kamu itu sudah tau wujud bidadari surga aja Ren.'' ejek Irvan.


''Tapi benar kata Rendi, kamu cantik sekali dengan hijabmu itu El...aura kamu benar-benar berbeda.'' timpal Rina.


''Sudah-sudah ayo sekarang kita berangkat, biar nanti gak ketinggalan sholat Jum'at.'' kata pak Imam.


Mereka berangkat ke masjid besar menggunakan dua mobil, karena jarak yang mereka tempuh lumayan jauh dan membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit.


Satu mobil di tumpangi pak Imam, bu' Siska, Ela yang di supiri oleh Rendi sedangkan satu mobil lagi di kendarai Irvan bersama keluarga kecilnya.


''Ada apa nak? kamu terlihat begitu gelisah.'' tanya bu' Siska yang duduk di kursi penumpang bagian belakang bersama Ela.


''Ibu tau ini adalah suatu keputusan yang sangat besar dalam hidupmu, tapi kalau dirimu sudah yakin maka percayalah Allah akan memudahkan segala urusanmu nak.'' kata ibu Siska yang berusaha menenangkan Ela.


Bu' Siska terus mengajak Ela berbincang untuk mengalihkan kegugupan yang di alami oleh gadis itu hingga tak terasa mereka telah sampai di tempat tujuan.


''Kami mau wudhu dan sholat Jum'at berjamaah, kalian bisa menunggu kami di taman samping masjid.'' kata pak Imam.


Para wanita langsung pergi menuju taman yang di maksud pak Imam sedangkan para pria sudah berlalu dari sana.

__ADS_1


❤️


''Ayo nak sudah saatnya.'' kata pak Imam menghampiri Ela dan yang lainnya yang juga sudah menunggu di teras masjid.


Begitu masuk ke dalam masjid perasaan Ela semakin tak menentu karena begitu banyak jamaah yang hadir di sana untuk menyaksikan dirinya menjadi seorang mualaf.


Tentu saja para jamaah tak ingin melewatkan kesempatan ini, mereka ingin menjadi saksi sekaligus ingin menyambut saudara seiman mereka yang baru.


''Bagaimana nak Ela, apa kamu sudah siap? sudah yakin dengan keputusan yang kamu ambil ini?'' tanya kyai Rahman ketika Ela sudah duduk di hadapannya dengan berbatas sebuah meja yang tak terlalu besar.


''Iya pak kyai.'' jawab Ela.


''Saya tanya sekali lagi apakah ini adalah keputusanmu sendiri, dari dalam hatimu tanpa ada paksaan dari orang lain?'' tanya kyai Rahman.


''Iya pak kyai, ini adalah murni dari keinginan saya sendiri tanpa paksaan dari siapa pun.'' jawab Ela.


''Alhamdulillah, baiklah jika begitu...kita akan segera memulainya.'' kata kyai Rahman.


Semuanya berjalan lancar hingga semua orang yang ada di sana mengucapakan kalimat hamdalah.

__ADS_1


Bahkan bu' Siska dan Rina pun langsung memeluk tubuh Ela, mereka menangis bersama...bukan tangisan sedih melainkan tangisan bahagia sekaligus haru yang mereka rasakan.


__ADS_2