Peri Cintaku

Peri Cintaku
Bab 51


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


Hari sudah menunjukkan sekitar pukul tiga sore, Elang dan Ela baru saja memasuki pintu gerbang kediaman keluarga Nugraha.


''Ayo El.'' ajak Elang sambil membuka sabuk pengamannya.


Merasa tak mendengar sahutan dari wanita yang baru beberapa menit lalu menerima lamarannya, membuat Elang pun langsung menolehkan kepalanya.


''Ada apa?'' tanya Elang yang melihat Ela hanya diam dengan mata yang terus menatap ke arah bangunan mewah di depannya.


''Aku...takut Lang.'' jawab Ela dengan jujur.


Rasa bersalah telah menyelimuti hatinya satu ini karena telah pergi begitu saja tanpa pamit sehingga membuat keluarga ini begitu sibuk mencari keberadaannya.


''Takut apa? percayalah mama dan yang lainnya ingin sekali bertemu denganmu karena rasa rindu mereka juga teramat besar untukmu sayang...'' kata Elang dengan menggenggam kedua tangan Ela. ''Ayo, pasti mereka sudah menunggu kita dari tadi.'' ajak Elang.


Elang keluar lebih dulu dan berjalan mengitari mobil guna membukakan pintu untuk Ela.


Tak lupa pula Elang mengambil satu buket bunga lili putih yang memang sengaja dirinya beli. Beli tiga namun yang dia elang berikan di makam kedua orangtua Ela, sedang yang satu ini untuk sang mama.


Mereka berdua juga tadi menyempatkan diri untuk membeli kue sebagai buah tangan.


Elang dan Ela berjalan tak beriringan, melainkan Ela lebih memilih untuk berjalan di belakang laki-laki yang tak lama lagi akan menjadi imamnya itu.

__ADS_1


Cklek


''Orang rumah dimana bik?'' tanya Elang pada salah satu art yang membukakan pintu utama untuknya.


''Ada di dalam tuan muda, kebetulan juga ada nyonya Senja.'' jawab sang art.


''Terimakasih ya bik.'' ucap Elang. ''Yuk, El.'' ajaknya pada Ela.


Kedua anak manusia itu semakin dalam memasuki rumah.


''Pa, ma.'' panggil Elang setengah berteriak.


''Putra mama sudah pulang.'' kata mama Mentari dan langsung berdiri dari duduknya untuk menyambut sang putra.


''Ah terimakasih sayang...sweet banget sih.'' ucap mama Mentari yang langsung memeluk tubuh sang putra.


''Khem...khem.'' dehem papa Reyhan, entah kenapa pria paruh baya itu selalu saja tak rela jika ada pria lain yang menyentuh istrinya meskipun itu a


putranya sendiri.


''Ck, sakit tenggorokan pa.'' ledek Elang yang sebenarnya tau jika sang papa kesal...sengaja. ''Ma, aku masih punya oleh-oleh yang spesial untuk mama.'' kata Elang.


''Apa kak? eum mama jadi penasaran.'' kata mama Mentari.

__ADS_1


Bukan hanya mama Mentari tapi semua yang ada di sana juga penasaran dengan apa yang di bawa Elang untuk oleh-oleh yang katanya spesial.


Elang berjalan menghampiri Ela yang memang di mintanya untuk bersembunyi terlebih dahulu di balik tembok.


Tak berapa lama Elang sudah kembali lagi dengan di ikuti seseorang di belakangnya.


Karena terhalang tubuh Elang yang kekar, tinggi serta tegap...maka tubuh mungil Ela tak begitu terlihat dari depan.


''Tara...'' kata Elang yang menggeser tubuhnya sehingga terlihatlah Ela.


Mama dan yang lainnya sampai terbengong...speechless dengan apa yang baru saja mereka lihat, rasanya seperti tak nyata.


''Kak Ela!'' seru Bunga yang tersadar lebih dahulu dan langsung berhambur memeluk tubuh Ela.


Karena ulah Bunga itu hampir saja tubuh Ela terjungkal di belakang kalau keseimbangannya tak bagus.


''Bunga!'' seru Elang yang ngeri sendiri melihat kelakuan adiknya itu.


Mama dan Senja yang sadar dari keterkejutannya pun langsung berjalan mendekati Ela, satu per satu dari mereka bergantian memeluk tubuh calon menantu wanita satu-satunya keluarga Nugraha.


''Ela, ini beneran kamu nak? mama sampai tak mengenalimu...kamu sungguh cantik...cantik sekali.'' kata mama Mentari dengan mata yang berkaca-kaca.


''Ma, Elanya ajak duduk ma...'' kata papa Reyhan.

__ADS_1


__ADS_2