
3 hari yang dramatis dan tragis untuk Deena dan ibunya. selama acara melayat yang di adakan 3 hari berturut-turut, Deena dan sang ibu tak mau melepaskan pelukan mereka di peti mati tersebut. duka yang begitu mendalam membuat guncangan hebat untuk mental mereka terutama Moana yang telah kehilangan cinta sejatinya.
selama beberapa hari, Adam dan kedua orang tuanya lah yang menggantikan Deena dan ibunya untuk menyambut tamu yang datang melayat. Karina dan Gisele bertugas mengurus pemakaman dan segala macam untuk membuat tamu yang datang tidak merasa di abaikan.
Untuk keluarga dari belah pihak orang tua Deena, mereka memang tidak memiliki keluarga lain kecuali hanya mereka bertiga saja. sangat ironis sekali, kini mereka tinggal berdua saja.
Ini hari terakhir mereka melihat jasad Yanto di dalam peti, sebentar lagi peti itu akan si bawa ke pemakaman untuk segera dikuburkan.
rupanya Moana tak rela suaminya dibawa untuk dimakamkan, dia berteriak histeris ketika orang orang mendekati peti mati tersebut.
saat itu Deena yang masih memiliki setengah tenaga mencoba menjauhkan ibunya dari peti mati, lalu di bantu oleh Adam di belakang.
"lepasin!!!. Deena lepasin ibu!!!!".. mata yang sembab dan merah memelototi wajah Deena dan Adam.
" ibu. biarkan ayah pergi dengan tenang".. ucap Deena yang juga berat mengatakan hal itu tapi mau tak mau ia harus ikhlas atas kepergian sang ayah tercinta.
"diam kamu!! dia suami ku, aku lebih terluka atas kepergian dia"... terdengar sangat egois, mengingat yang kehilangan Yanto bukan hanya dia saja tapi anaknya juga merasakan hal yang sama. Deena melepaskan tangan nya yang menarik sang ibu.
" masss.. sayang ku.. suamiku.. didunia ini kita hanya bertiga. kenapa kamu tega ninggalin kita berdua lebih dulu"... Moana meraba wajah suaminya yang sudah sangat dingin.
"sayang. kita pernah janji sehidup semati, aku pasti akan menepati janji itu".. bisiknya di telinga sang suami..
Adam dengan terpaksa mengerahkan 3 anak buahnya untuk menarik Moana menjauhi peti mati itu dan mereka berhasil. Moana berusaha memberontak hingga akhirnya ia pingsan karna kehabisan tenaga. Deena berdiri diam melihat ibunya pingsan dan peti mati ayahnya dibawa keluar. pikiran nya kosong dengan wajah datar. mungkin orang-orang yang melihat nya bertanya tanya, apa yang sedang ia pikirkan saat itu.
.
.
.
Di pemakaman, Deena tak terlihat menangis lagi seperti sebelumnya, tapi tak bisa dipungkiri jika air matanya masih mengalir di wajah nya yang tak berekspresi itu. ia memeluk erat ibunya yang menangis di pelukan nya sambil menyaksikan peti mati suaminya yang sudah mulai tertimbun oleh tanah.
__ADS_1
.
.
Orang-orang yang ada di pemakaman secara perlahan mulai berkurang hingga akhirnya yang tersisa hanya ada Deena dan Adam yang menemaninya disana, sementara sang ibu telah di bawa kerumah sakit oleh Sintia dan Jerome untuk memeriksa keadaannya yang sempat pingsan tadi.
"Ayahhh,, kini tinggal aku dan ibu saja disini. Ayah pernah bilang, kita tidak punya siapapun didunia ini kecuali hanya kita bertiga. aku menyesali banyak hal yang telah terjadi. ibu bilang, rasa kehilangan nya tidak sebesar rasa kehilangku terhadap ayah. padahal aku juga terluka dan kehilangan ayah. tapi ayah tenang saja, aku tidak akan marah hanya karna ibu berkata seperti itu. aku paham, karena ayah dan ibu telah melalui berbagai suka duka bersama. karna sekarang ibu hanya memiliki aku, aku tidak akan membiarkan ibu sendirian. aku tidak akan menangis didepan ibu, aku tidak akan menunjukan luka ku. aku hanya akan menunjukan bahwa aku kuat dan bisa di andalkan baginya. jadi,, pergi lah dengan tenang, berbahagialah disana, doa kan aku dan ibu disini bisa melewati semua ini. i love you ayah, Deena pulang ya, nanti Deena balik lagi"..
Gadis itu memeluk tanah yang masih basah tersebut. Adam yang sudah berdiri dari tadi duduk dihadapan Deena dan menggenggam segumpal tanah pemakaman tersebut.
"om. tolong maafkan papa jika sebelumnya ia membuat masalah denganmu. aku janji akan menyelidiki alasan kematianmu ini. aku juga berjanji akan menjaga anakmu setulus hatiku, aku belum mengatakan ini kepada siapapun termaksud dia bahwa aku menyukainya. jika berkenan kau sudi menitipkan ia padaku, doa kan semoga perjalanan kami lancar hingga kejenjang yang lebih serius. itu saja, nanti aku akan datang ke sini jika aku sudah menemukan kemajuan dari kasus ini".... begitulah imbuh Adam dalam hatinya.
ia kemudian bangun dan memapah Deena untuk berdiri.
sambil berjalan memegang kedua lengan Deena dari samping, ia sekilas menatap wajah sedih dari gadis yang mulai ia sukai tersebut.
"jika papa ada di balik ini semua. bagaimana cara aku menghadapi mu . bagaimana cara aku mengatasi perasaan ku. bagaimana cara aku bisa terus bersama denganmu tanpa merasa bersalah?!"...
.
.
Di depan rumah sakit Deena di cegat masuk oleh polisi yang menyelidiki kasus tabrak lari yang membuat Yanto meninggal.
dalam keterangan pak polisi, sang tersangka sudah berhasil ditangkap dan kecelakaan tersebut murni karna kecelakaan atas kelalaian sang supir truk. tapi sebelum itu Leo telah menyerahkan lebih dahulu hasil penyelidikan nya, disana ia mendapati bahwa blackbox dalam mobil itu tidak ada, tak jauh dari lokasi juga CCTV yang ada disana rusak dan mati. kecelakaan ini seperti sudah direncanakan akan terjadi, ditambah polisi juga menyembunyikan fakta-fakta yang hanya diketahui oleh Adam dan anak buahnya.
"siapa dalang di balik kecelakaan ini? dan apa tujuan mereka yang sebenarnya?".. pikir Adam.
Deena membaca berkas dengan seksama, perasaannya yang hancur tapi ia tak bisa melakukan apa apa selain menerima kenyataan itu. ia juga telah iba dengan sang sopir yang ternyata adalah seorang tulang punggung keluarga, di rumahnya sudah ada 5 anak yang menunggu kepulangan nya.
"jika anda setuju untuk menutup kasus ini dan membawanya ke pengadilan segera, silahkan anda tanda tangan di bawah ini"... ucap pak polisi.
__ADS_1
"sudah"... Deena menyerahkan berkas tersebut ke mereka.
" sebenarnya kami disini juga ingin menyampaikan suatu hal tentang korban"...
wajah Deena menegang begitu mendengar ucapan pak polisi itu.
"apa itu?"..
" ini adalah kasus yang berbeda. korban semasa hidupnya telah melakukan kejahatan yang sangat fatal dan kemungkinan akan ada pengadilan untuk membuktikan kejahatan yang telah beliau perbuat semasa hidupnya "..
Bayangkan bagaimana rasanya ada di posisi Deena saat itu. ayahnya meninggal dan disaat yang bersamaan sang ayah dituduh telah melakukan kejahatan semasa hidupnya. Dia tentu saja membeku disana.
" apa maksud anda? bagaimana bisa orang meninggal dijadikan tersangka dan di adili di pengadilan?!??".. tegas Adam ke para polisi.
"untuk lebih lanjutnya kami akan menjelaskan nya di kantor polisi. silahkan anda mengikuti kami untuk ke kantor"....
..
..
..
Di kantor polisi Deena dan Adam dijelaskan bahwa polisi sudah lama menyelidiki Yanto diam diam selama ini. beberapa jam sebelum kematian nya, polisi telah menemukan bukti bahwa Yanto telah melakukan bisnis ilegal yang berdalih sebagai penjual perhiasan.
polisi juga telah menemukan identitas Yanto semasa ia masih muda tepatnya sebelum kenal dengan Moana. dia adalah tangan kanan dari seorang mafia misterius yang sampai kini polisi belum mengetahui wajah asli mafia tersebut. Yanto dulu terlibat sebagai penjual berbagai nar ko tika ke 5 negara Asean dan 7 negara Eropa. dalam aksinya itu Yanto juga melakukan per daga ngan manusia terutama targetnya adalah gadis-gadis remaja.
Ia berhenti melakukan bisnis ilegal itu ketika menikah dengan Moana, namun baru baru ini polisi telah menemukan bahwa ia beralih menjadi pengusaha perhiasan. tapi setelah diselidiki lagi ternyata beliau masih gemar menyelundupkan obat ter larang itu lewat perhiasan perhiasan yang ia jual tersebut.
Deena tak percaya mendengarkan penjelasan komandan kepolisian itu. meskipun di selodorkan berkas tebal di depan matanya, ia tetap tak bisa menelan bulat bulat semua fakta itu.
Mengerikan, ketika ia mengetahui sebuah kebenaran di waktu yang salah. ayah yang selama ini ia kira ayah yang baik dan family man itu tak mungkin melakukan tindakan sekeji itu.
__ADS_1