
Setiap hari Deena menyempatkan waktunya sambil melihat sang ibu yang sedang dalam masa pemulihan. di hari ke 5, ibunya sudah mulai ada kemajuan. sekarang ia sudah bisa menerima jika Deena tak bisa selalu bersamanya, itu sungguh kemajuan yang sangat pesat mengingat bagaimana selama ini ia begitu bergantung dengan Deena.
disisi lain Deena juga sibuk bekerja paruh waktu sebagai pramusaji disebuah rumah makan yang tak jauh dari lokasi rumah sakit tempat ibunya di rawat.
setelah pulang bekerja, Deena berkunjung ke rumah Jerome. hari ini juga bertepatan dengan 3 hari waktu ia menjanjikan Adam atas jawaban dari tawaran nya itu.
seperti biasa Deena, Adam, Jerome, Sintia dan Nenek Andro juga hadir disana untuk mendengar keputusan Deena.
"kamu jangan terlalu gugup Dee. nenek disini hanya datang untuk berkunjung dan kebetulan saja kita bertemu" . memang benar yang di katakan oleh nenek Andro, tapi karna sudah terlanjur basah ia jadi ikut penasaran ingin mendengar jawaban Deena, apalagi kita tahu beliau begitu ngebet ingin Deena menjadi cucu menantunya karna sebuah ramalan yang ia percaya penyatuan mereka berdua akan membawa nasip baik bagi cucu tercintanya.
Deena hanya tersenyum manis sambil menutupi rasa gugupnya.
"okeh!! kita langsung aja ya Dee. tante udah ga tahan ingin denger jawaban kamu"... ucap Sintia yang memang sudah menanti hari ini datang setelah malam itu.
" om, tan. boleh kah saya bertanya sebelumnya?".. imbuh Deena dengan sopan.
"boleh".. ucap Serentak Jerome dan Sintia.
" apa alasan terbesar kalian ingin saya tinggal bersama dengan kalian?".. pertanyaan ini akan menentukan pilihan Deena yang salah atau benar melangkah sejauh ini.
"kami punya banyak alasan. terutama karna ayahmu menitipkan kamu kepada kami dahulu jika ia pergi terlebih dahulu".. ucap Jerome dengan wajah yang serius.
" kalo tante. ya karna tante sayang sama kamu. bentar lagi Riri akan sekolah di luar negeri dan tinggal bersama om tantenya, Adam kan sibuk kerja terus begitu juga om kamu. jadi dengan adanya kamu setidaknya tante ada temen ngobrol di kala kamu sedang ada dirumah. tante jadi merasa seperti mempunyai anak perempuan yang sudah dewasa".. Sintia memang tulus mengucapkan isi hatinya langsung ke Deena.
"aku tidak terlalu mempercayai ucapan Om Jerome. tapi Tante Sintia terlihat tulus mengatakan nya. apakah ia nanti akan kecewa jika tahu aku mempermainkan mereka?"...
" Dee kenapa kamu diam?!!".. Sintia menepuk bahu Deena yang sempat terdiam.
"ah maaf tante. saya benar benar terharu karna kalian sebaik ini. tapi orang seperti saya apakah pantas berada di tengah tengah kalian?"... Deena merendah untuk mengambil simpati mereka.
.
__ADS_1
" dibagian mana kamu tidak pantas Dee?. kamu itu bukan orang jahat. kamu itu anak baik dimata kami!! "... Sintia sedikit meninggikan nada suaranya melihat sikap Deena yang tak percaya diri.
"sudah lah, kamu tidak usah peduli apa kata orang. kami anggap jawaban kamu ini adalah iya bahwa kamu akan tinggal dengan kami. besok saya akan menyuruh orang untuk membantumu mengambil barang yang kamu perlukan, sisanya tinggalkan saja dirumah itu".. ucap Jerome.
Sintia memeluk Deena karna merasa senang Deena tak menolak mereka.
jangan tanya juga bagaimana perasaan Adam saat itu, sudah jelas rasanya ia ingin jingkrak jingkrak karna akan terus melihat wanita yang ia sukai disekitar nya.
"harus kah nenek juga pindah kerumah ini, karna nenek juga sedang kesepian! " sindir nenek Andro yang merasa senang.
"sekarang kan Mario tinggal dengan nenek, apa dia sudah berubah jadi patung sampai sampai nenek merasa kesepian seperti ini?".. semua orang tertawa disana dengan lelucon Adam. Mario memang tipe orang yang selalu meramaikan suasana, jika ia tak berbicara sepatah kata mungkin orang alan mengira ia sedang kesurupan.
"jangan mengejek sepupu mu begitu. ia masih mending mau menemani nenek disana, ketimbang kamu. udah ga mau, ga asik di ajak ngobrol pula!! ".. singgung Nenek Andro. tapi Adam sudah terbiasa di sindir seperti ini oleh neneknya jadi ia tak terlalu memasukan ucapan nya ke dalam hati. ia lebih tau cinta neneknya tak akan ada berat sebelah seperti sebuah timbangan yang seimbang.
setelah obrolan yang begitu panjang, Deena di tuntun menuju ke kamar nya yang baru, kamarnya terletak di samping kamar Adam. Riri yang mengetahui itu semakin membenci Deena, ia merasa posisinya sedang terancam dirumah ini sebagai anak bungsu.
"woy!!".. teriak Riri yang tiba tiba membuka pintu kamar Deena.
" kamu ga sopan banget sih!!! buka pintu kamar orang lain tanpa ngetuk lebih dahulu"... Tegur Deena yang saat itu merasa kesal.
" lah!! kamu pikir aku yang ngerequest punya kamar disini?!!.".. tanya Deena dengan wajah yang mengejek.
begitu kesal nya Riri dengan Deena selama ini, ia pun melampiaskan amarahnya sekarang. ia mendekati Deena kemudian berjinjit meraih rambut Deena dan menjambaknya disana.
"dasar anak kriminal. anak orang gila!!!!"... teriak Riri lagi.
Deena yang mendengar itu langsung kalang kabut, ia membalas menjambak Riri sekeras tenaganya. lalu terjadilah pergelutan panas antara anak umur 12 tahun dan seorang perempuan dewasa berumur 24 tahun.
orang-orang rumah yang mendengar suara teriakan, jeritan dan rintihan dari kamar atas bergegas untuk mendatangi mereka.
Adam yang lebih dahulu datang kemudian menarik tubuh Deena dan mencoba melepaskan tangan Deena di kepala Riri.
__ADS_1
Sementara itu datang pula Sintia dan Jerome menarik Riri dan melepaskan tangan Riri di rambut Deena.
"kalian berhenti!!!!!"... teriak Jerome disana. mereka pun berhenti dan melepaskan jambakan satu sama lain.
" apa yang kalian lakukan?!!! Riri Deena katakan sekarang!!".. mata Jerome memerah karna begitu marah. Deena menepis tangan Adam yang melingkar di pinggang dan tangan nya.
"Riri yang duluan om. dia yang duluan menjabak saya dan menghina orang tua saya!!".. Deena membela dirinya sendiri, ia berpikir disana jika ia diam maka ia lah yang akan disalahkan sebagai orang luar.
" Riri apa benar itu?!!! katakan!!!!"... Riri terkejut sambil menunduk.
"dia mengambil semua milik Riri disini!! kamar ini, Kakak, dan sekarang mama papa".. dengan polosnya Riri tak mengelak.
" apa maksudmu Ri?".. tanya Sintia yang heran dengan anaknya.
"Riri!! papa mama tidak pernah mau menggantikan kamu dengan apapun di dunia ini. kenapa kamu berbicara seperti itu? kak Deena disini tak mungkin mengambil posisi kamu!".. Ucap Sintia dengan lembutnya.
" lalu mengapa mama papa memberikan kamar Riri ke dia?"... tanya Riri yang hampir menangis.
"kan Riri sendiri yang bilang sudah bosen dikamar ini, Riri mau pindah ke kamar lain. ya jadi kamar ini buat kam Deena dong"... jawab Sintia lagi
" lalu bagaimana dengan kakak? kenapa kakak lebih memilih memeluk dia dari pada aku?"..
Adam tersentak dengan pertanyaan adiknya itu.
"bukan begitu, kakak hanya berusaha melepaskan tangan dia dikepalamu. kita juga tidak berpelukan!!".. ucap Adam yang kemudian mendekati adiknya.
"terus, mengapa kamu melawan anak kecil yang setengah dari umur kamu Deena??!".. tegas Jerome
" saya terbawa suasana karna tersinggung Riri menghina orang tua saya.. saya minta maaf om tante jika telah membuat keributan!!".. Deena menundukan kepalanya meminta maaf meskipun perasaan nya masih terluka...
"Riri, jika sekali lagi kamu menghina orang tua Deena, maka papa tidak akan mengizinkan kamu untuk sekolah diluar negeri"... ancam Jerome saat itu..
__ADS_1
" tapi pa!!".. Riri memelas karna ia tak terima dengan ancaman papanya.
"sudah sudah. Riri kamu balik ke kamar kamu sekarang!... Dee tante minta maaf juga ya karna Riri berbicara seperti itu... ayo pa, kita tenangkan dulu hati papa"... Sintia mendorong suaminya dan Riri keluar dari kamar Deena, sementara ia memberikan kode ke Adam untuk menemani Deena dan menghiburnya.