PESONA CALON ADIK IPAR

PESONA CALON ADIK IPAR
Mengundurkan Pernikahan


__ADS_3

"Setiap kali momy mengajakmu bicara, kau pasti mengabaikan momy. Setiap kali momy ingin lebih dekat dengan putri momy yang satu ini, kau selalu saja menghindar. Bagaimana momy bisa tahu jika putri momy ini tidak baik-baik saja?"


"Seharusnya momy bisa tahu, momy bisa merasakan kenapa sikapku seperti itu, mom. Kenapa aku senang menyendiri? Kenapa aku selalu butuh ruang untuk sendiri? Seharusnya itu sudah cukup memberi jawaban jika putri momy ini sedang tidak baik-baik saja."


Momy Anika terdiam. Ia berusaha mengerti apa yang tengah di rasakan putrinya. Ia melepas tangannya di pipi Ara namun tidak melepaskan tatapannya dari wajah itu. Lalu terdengar helaan napas pelan.


"Baiklah, kalau begitu sekarang ceritakan pada momy apa yang membuatmu akhir-akhir seperti ini? Sebab momy merasa jika kau bukan Ara yang momy kenal."


"Momy memang tidak pernah mengenal aku. Momy hanya mengenal Kirana, bukan Kinara. So, sampai kapanpun momy tidak akan pernah bisa mengenali putrinya yang satu ini seperti apa."


"Ara-"


"Aku capek, mom. Aku butuh istirahat. Ini sudah malam, sebaiknya momy juga istirahat. Kasihan daddy sudah menunggu."


"Ara-"


"Good night, mom."

__ADS_1


Ara membaringkan tubuhnya lalu mematikan lampu yang kontaknya terdapat di samping sandaran tempat tidur. Momy Anika hanya bisa menghela napas. Rupanya mulai hari ini ia harus benar-benar fokus pada Kinara dulu. Kalau perlu, ia akan meminta Kirana untuk mengundur waktu pernikahannya.


***


Cahaya mentari pagi ini memancar hingga masuk ke celah jendela kamar seorang pria yang masih tertidur pulas. Pria itu mengerjapkan matanya beberapa kali saat cahaya tersebut terasa masuk ke kornea matanya.


"Mmmhhh .." Ia menggeliat kan tubuhnya dan tangannya sibuk meraba benda pipih di atas nakas samping tempat tidur.


Sebelah matanya melihat angka jam di layar hp. Tiba-tiba ia tampak terkejut. Bukan karena hari sudah siang, melainkan sebuah notif dari Kirana.


My Ki:


Kedua mata Derga terbuka sempurna. Ia sontak bangun dan duduk. Memastikan jika ia tidak salah baca.


"What? Mengundur pernikahan?" pekik pria itu tak percaya.


Derga segera mendial nomer Kirana untuk memastikan alasan apa yang membuat wanita itu sampai harus mengundurkan pernikahan. Namun, nomer Kirana tidak aktif. Ia mencobanya berulang kali, tapi hasilnya tetap sama.

__ADS_1


"Ini tidak bisa, ini tidak bisa di biarkan. Aku ingin secepatnya menikah dengannya. Agar momy tidak lagi memaksaku untuk menikah dengan Jolly."


Derga bergegas bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi.


"Berita ini tidak boleh sampai ke telinga momy. Bisa-bisa momy akan meminta untuk membatalkan saja di banding di undur. Ini tidak boleh terjadi. Aku harus menemui Kirana sekarang juga. Aku harus menemuinya ke rumahnya langsung."


Derga menutup pintu kamar mandinya rapat-rapat. Jadwal hari ini ia tidak akan pergi ke kantor. Melainkan ke rumah Kirana.


Sementara di tempat kediaman Brighta. Tiga orang tengah sarapan di meja makan. Yakni Brighta sendiri, momy Anika dan juga Kirana.


"Aku sudah mengirim pesan pada Derga atas permintaan momy tadi malam," ujar Kirana dengan mimik wajah sedikit sedih.


Jujur, melihat Kirana sedih momy Anika pun ikut sedih. Tapi mungkin ini yang terbaik untuk sementara. Ia tidak ingin keluarganya terpecah belah hanya karena Ara merasa tidak begitu di perhatikan seperti Ana. Padahal ia selalu merasa adil dan tidak pernah membeda-bedakan satu sama lain.


"Permintaan apa?" tanya tuan Brighta.


Momy Anika dan Kirana saling memandang. Sebelumnya mereka sudah sepakat untuk tidak memberi tahu pria itu dulu. Hanya saja mungkin Kirana keceplosan.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2