
Momy Anika dan tuan Brighta sangat senang lantaran calon menantu mereka kini makan malam bersama di rumahnya. Terlebih Ara yang ikut bergabung makan malam ini, menambah kesan keluarga yang harmonis.
Momy Anika sengaja duduk di sebelah Ara. Untuk memenuhi permintaan gadis itu agar dirinya lebih memberi perhatian penuh sebagai seorang ibu yang katanya pilih kasih. Padahal selama ini ia merasa cukup adil dalam memberi kasih sayang pada kedua putrinya. Tapi jika menurut pandangan Ara ia adalah seorang ibu yang pilih kasih, maka mulai saat ini ia akan fokus pada Ara saja dengan cara menunda sebentar pernikahan putri sulungnya. Beruntung Derga mau memahami apa yang terjadi di keluarganya.
Sementara Ara duduk bersebelahan dengan momy Anika, di sebrang meja Ana duduk bersebelahan dengan Derga. Sedangkan tuan Brighta duduk di kursi utama yang berada di antara mereka.
Makan malam pun di mulai. Momy Anika berusaha mengambilkan nasi dan lauk pauk ke piring putri bungsunya.
"Ara mau makan yang mana?" tawar momy Anika.
"Biar aku saja yang ambil sendiri, mom."
"Tidak apa-apa, momy yang ambilkan, ya."
"Momy ambilkan buat daddy saja. Aku biar aku sendiri yang ambil."
"Sayang-"
"It's okay, mom. Aku baik-baik saja."
Momy Anika pun berusaha menuruti apapun yang Ara katakan. Termasuk penolakan.
"Iya, sayang."
Momy Anika mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk suaminya. Sementara Ara masih bingung mau makan apa. Lantaran menu hidangan yang tersaji di meja makan lebih banyak dari biasanya. Mungkin karena makan malam kali ini ada Derga.
__ADS_1
"Sayang, mau lauk yang mana?" Terdengar Kirana tengah menawari pria posisi duduknya berhadapan dan bersebrangan dengan Ara.
"Aku ambil sendiri saja, ya," tolak Derga halus.
"Biar aku saja. Kau cukup katakan mau makan menu yang mana. Aku yang ambilkan, ya."
"Biar aku saja, ya," tolak Derga kukuh lantaran merasa segan.
Kirana menghembuskan napas pelan. Padahal ia berusaha untuk menjadi wanita yang romantis. Itung-itung latihan menjadi istri pria itu nanti. Seperti momy Anika dan juga daddy nya.
Dari banyaknya menu makan, Ara sepertinya ingin makan pindang ikan mas. Padahal di sana ada daging ayam, ada juga daging sapi. Tapi entah kenapa ia merasa ingin makan yang itu saja.
Begitu hendak mengambil pindang ikan mas tersebut, semua pandangan mata tertuju pada tangannya yang saling menumpu dengan tangan Derga yang juga hendak mengambil pindang ikan mas tersebut.
Sepasang mata mereka bertemu saat tangan mereka tidak sengaja saling bersentuhan. Ara dengan cepat melepaskan tangannya begitu sadar jika tangan itu pernah menyentuh dirinya.
"Maaf, aku tidak sengaja," ucap Derga tidak hanya kepada Ara, tapi pada semuanya yang ada di sana.
"Iya, tidak apa-apa," sahut momy Anika dengan senyuman untuk mencairkan suasana lantaran keadaan mulai tegang.
Momy Anika mengusap bahu Ara.
"Sayang, mau momy ambilkan saja?" tawar wanita itu kemudian.
Ara menggeleng kemudian bangkit berdiri dan lekas pergi dari sana.
__ADS_1
"Araaa .. Sayang .. Kau mau kemana, nak?" panggil momy Anika setengah berteriak.
Ara tetap pergi tanpa memperdulikan panggilan mamanya. Derga sendiri kini jadi merasa segan. Ara seperti itu karena dirinya yang di ketahui oleh mereka.
Derga menoleh ke arah Kirana, wanita itu menatap dirinya dengan tatapan sulit di artikan. Kirana seperti orang yang sedang mencurigai dirinya.
Momy Anika ikut bangkit berdiri hendak menyusul putri bungsunya.
"Dad, Na, Derga, momy mau susul Ara sebentar, ya. Kalian duluan saja makan malamnya."
Derga ikut bangkit berdiri. "Biar aku saja yang menyusul Ara, mom."
Kalimat Derga barusan membuat semua pasang mata kini tertuju padanya. Terutama Kirana. Ia merasa semakin aneh dengan sikap antara adik dan calon suaminya.
"Maksudnya?" tanya Ana.
"Aku yang membuat suasana makan malam ini menjadi seperti ini. Dan sepertinya aku harus meminta maaf karena sudah membuat Kinara sampai meninggalkan meja makan. Jadi biarkan aku saja yang menyusul dia."
Momy Anika dan Kirana saling melempar pandangan. Mereka tidak tahu kenapa Derga kukuh ingin menyusul Ara.
"Ya sudah kalau begitu bantu bujuk Ara supaya dia mau kembali ke meja makan," sahut tuan Brighta membuat momy Anika dan Kirana terheran-heran.
"Dad-" Kirana hendak melayangkan protes, akan tetapi Derga sudah lebih dulu beranjak pergi dari sana.
Tergambar jelas kekesalan di wajah Kirana. Ia merasa ada sesuatu yang Derga tutupi darinya mengenai Ara semenjak Ara tampak terkejut melihat Derga di hari lamarannya. Bahkan Ara sampai histeris dan sikapnya kembali aneh.
__ADS_1
_Bersambung_