
Ara pergi ke dapur untuk meminta pelayan membuatkan minuman. Namun, ia tidak menemukan satu orang pun dari ketiga pelayan di rumahnya.
"Ck .. Kenapa semua orang di sini pergi?" decak gadis itu.
"Daddy, momy, Kirana, bahkan tiga pelayan pun pergi. Sebenarnya mereka kemana?"
Ara memastikan lagi pelayan di rumahnya. Namun mereka semua benar-benar kompak pergi hari ini. Perasaan jatah libur mereka berganti. Tapi kenapa mereka bisa pergi berbarengan seperti sekarang.
"Ya sudah lah, aku saja yang buatkan minuman."
Tidak ada pilihan lagi, gadis itu nekad membuatkan minuman sendiri untuk Derga. Meski sebelumnya ia tidak pernah menyentuh barang dan alat dapur. Bermodalkan nekad, ia membuatkan minuman untuk Derga.
"Aku buatkan minuman apa ya?" Ara tampak berpikir sejenak.
"Mm .. Mungkin kopi saja. Siapa tahu dia memang suka kopi."
Kebetulan di sana ada bubuk kopi dan gula di wadah secara terpisah. Ara mengambil cangkir dan sendok. Mengambil beberapa sendok kopi dan gula tersebut ke dalam satu cangkir. Kemudian menuangkan air panas dari dispenser. Mengaduk nya dan selesai.
"Akhirnya aku bisa membuat kopi. Tidak sia-sia aku bekerja menjadi pelayan."
__ADS_1
Di tempat club, kebanyakan orang memang memesan alkohol. Tapi ada beberapa juga yang memesan kopi. Meski Ara pelayan di tempat tersebut, tapi ia hanya bertugas untuk mengantar minuman saja tanpa membuat. Selain itu, ia juga melayani pengunjung yang membutuhkan bantuan dari nya. Termasuk meminta tambahan minuman, maka ia akan mengambilkan nya.
Mengantar pria yang tengah mabuk ke kamar pun sebenarnya Ara sudah beberapa kali. Hanya saja hari apes nya saat pengunjung tersebut merupakan calon kakak iparnya sendiri.
Ara meletakan cangkir kopi beralaskan pisin kecil ke atas meja hadapan Derga.
"Terima kasih," ucap Derga kemudian.
"Iya, sama-sama. Itu aku yang buat, maklum jika ada kekurangan. Soalnya pelayan di sini sedang tidak ada, entah kemana."
Derga menyeruput kopi tersebut meski uap nya masih mengepul. Ia tidak menyangka jika rasa kopinya tidak kalah dengan aromanya yang sangat harum.
Derga meletakan kembali cangkir kopi nya ke atas pisin di meja. Untuk beberapa detik mereka saling diam. Usia permintaan maaf pria itu tadi, Ara merasa lebih baik. Mungkin karena itu yang selama ini ia tunggu-tunggu. Ia bisa meminimalisir perasaan marahnya terhadap pria itu dan ia mampu mengontrol dirinya dengan cukup baik.
Ara mengangguk. "Iya. Sejak saat itu, aku memutuskan untuk berhenti bekerja di sana."
"Keputusan yang tepat," sahut Derga. "Dari banyaknya pekerjaan di muka bumi ini, kenapa kau lebih tertarik dan memilih bekerja di tempat itu? Padahal kan kau keturunan dari keluarga Brighta. Kau bisa saja bekerja di perusahaan atau merintis bisnis seperti kakakkmu."
Ara diam. Bukan ia tidak memiliki jawaban. Hanya saja ia bingung harus menjawab nya seperti apa. Dan ia rasa ini terlalu privasi. Cukup ia saja yang tahu dan merasakan bagaimana ada di posisi seorang Kinara.
__ADS_1
Melihat Ara tidak merespon pertanyaan nya, Derga paham jika gadis itu sepertinya sedikit terganggu dengan pertanyaan itu. Ia tidak memaksa juga agar dia menjawabnya.
"Ah iya, saat kau hampir ku tabrak kemarin malam, kau berada di dekat tempat itu. Apa kau baru saja dari ke tempat itu dan ada rencana untuk kembali bekerja di sana?"
Ara mengangguk. "Iya, aku dari sana. Tapi aku sama sekali tidak ada rencana untuk kembali bekerja. Apalagi setelah aku dengar jika mami Olin lah yang menjebak aku pada malam itu. Meski aku belum memastikan sendiri jika mami Olin seperti yang di katakan oleh Rachel. Tapi aku percaya dengan apa yang di katakan oleh Rachel."
"Apa yang membuatmu langsung percaya begitu saja dengan Rachel?"
"Dia sudah lebih dulu bekerja di tempat itu. Tapi selama dia bekerja di sana, dia paling tidak mau mengantar pria mabuk ke kamar. Dia selalu menolak perintah mami untuk hal itu. Dan memang tidak jarang pelayan di sana yang tiba-tiba memutuskan untuk berhenti bekerja," jelas Ara.
Derga mengangguk-anggukan kepalanya.
"Lalu jika kau tidak ada rencana untuk kembali bekerja di sana, untuk apa kau ke sana?"
Ara diam untuk beberapa saat. Sebelum kemudian ia menjawab pertanyaan Derga.
"Aku merasa tidak punya seseorang yang bisa aku ajak untuk bicara. Aku merasa pada saat itu hanya mami Olin lah yang bisa mendengarkan apa aku alami. Dan ternyata, aku berbagi cerita dengan pendengar yang buruk. Aku baru sadar, jika solusi yang di berikan mami Olin bukannya menenangkan. Tapi membuat keadaanku semakin memburuk. Oleh karena itu aku jalan tidak hati-hati dan hampir tertabrak olehmu."
Derga memandang Ara untuk seperkian detik. Ara segera mengalihkan pandangannya begitu sepasang mata dan tatapan ia bertemu dengan mata Derga.
__ADS_1
Derga merasa jika Ara memiliki masalah yang cukup berat. Dan malangnya gadis itu menjadi korban atas luapan permasalahan yang terjadi pada dirinya. Ia semakin merasa bersalah atas hidup Ara.
_Bersambung_