PESONA CALON ADIK IPAR

PESONA CALON ADIK IPAR
Butuh Bantuan


__ADS_3

Derga mencari keberadaan Ara. Saat pertama kali ia bertemu lagi dengan gadis itu di malam ia melamar Kirana, dia duduk di bangku taman samping rumah lantaran dirinya merasa kacau. Akhirnya Derga putuskan untuk mencari gadis itu di sana. Dan ternyata benar, Ara ada di sana.


Derga duduk di bangku yang hanya muat untuk dua orang saja itu. Merasakan ada seseorang yang datang, Ara yang semula menunduk dengan kedua telapak tangan yang menutupi wajah kini mendongak untuk memastikan siapa yang datang.


"Kenapa kau ke sini? Ini acara makan malammu dengan Kirana dan keluargaku. Seharusnya kau tetap berada di sana," ujar Ara dengan nada bicara terdengar parau.


Pria itu menatap dirinya sampai ia di buat kembali menunduk untuk menghindari tatapan itu.


"Maaf sudah membuat trauma mendalam di hidupmu," ucap Derga membuat Ara kembali menoleh dan menatap pria itu cukup dalam.


"Aku benar-benar tidak tahu jika kau sehancur itu, Kinara. Kau benar, aku telah merenggut duniamu," imbuh Derga.


Ara menitikan air matanya begitu mendengar kalimat Derga. Memang tidak mudah baginya melewati hari-hari selama enam bulan usai kejadian malam itu. Terlebih alasan dirinya bekerja di tempat itu karena ia merasa tidak begitu di anggap oleh keluarganya.


"Sudahlah, ini semua sudah terjadi. Lagipula kau yang memintaku untuk melupakan kejadian di malam itu bukan? Jadi kau tidak perlu mengingatkan aku lagi pada kejadian di malam itu."


Ara menyeka air matanya dan mengalihkan pandangan ke arah lain. Itu semakin membuat Derga merasa sangat bersalah.


Sentuhan dan genggaman tangan Derga tiba-tiba membuat Ara terkejut dan membulatkan matanya sempurna. Pria itu menatap dirinya dengan jarak yang cukup dekat hingga Ara harus menahan napas.


"Ara, katakan padaku sekarang. Apa yang harus aku lakukan untuk mengembalikan duniamu yang telah ku renggut."

__ADS_1


Ara mengerjap sekali sebelum kemudian melepaskan tangannya dari genggaman tangan Derga. Ia kembali mengalihkan pandangan ke arah lain dengan perasaan gugup dan sedikit takut.


"Tidak, tidak ada yang perlu kau lakukan."


Derga menghembuskan napas mendengar jawaban gadis itu. Sepertinya ia memang harus melakukan sesuatu yang setidaknya bisa mengikis rasa sakit di hati gadis itu.


Derga tampak sedang berpikir sesuatu.


"Kinara .." panggilnya lirih.


Ara pun menoleh, menatap pria itu sekilas sebelum kemudian memandang lurus ke depan.


"Kinara, lihat aku!" pinta pria itu.


"Ara, ayolah. Lihat aku sebentar saja. Ada yang ingin aku bicarakan serius denganmu."


Ara terdiam sejenak. Ia penasaran dengan apa yang ingin di katakan oleh pria itu, tapi ia tidak mau jika harus bertatapan mata.


"Katakan saja. Kenapa aku harus sambil melihatmu?" jawab Ara sedikit ketus.


"Sebab itulah cara seseorang menghargai orang yang sedang bicara."

__ADS_1


Jawaban Derga membuat Ara akhirnya mengalah dan mau menatap pria itu meski sebenarnya ia gugup dan masih ada perasaan takut karena dejavu dengan malam itu.


"Kau mau bicara apa?" tanya Ara kemudian.


Derga tatapan kedua manik Ara dalam jarak yang cukup dekat. Sebelum kemudian ia mengatakan apa yang ingin di bicarakannya.


"Aku butuh bantuanmu. Bisakah kau membantuku?"


Pertanyaan Derga barusan membuat Ara kebingungan.


"Apa maksudmu?"


"Aku memiliki sebuah rencana dengan Evril-asisten pribadiku untuk menghancurkan dunia bisnis club itu sebagai balasan karena dia telah menghancurkan duniamu dan juga harga diriku. Jadi, apa kau bersedia membantuku?"


Ara terdiam untuk beberapa saat. Meski mami Olin ini orang paling jahat, tapi hanya mami Olin lah yang selama ini paling mengerti dirinya. Tapi sepertinya cara berpikirnya ini salah. Meski mami Olin ini orang yang berusaha mengerti dirinya, tapi di balik itu ada rencana busuk yang mengerikan untuk dirinya.


Tanpa berpikir lama lagi, Ara pun mengangguk setuju.


"Apa yang harus aku bantu?"


Derga mengulas senyum mendengar Ara bersedia membantu misinya menghancurkan dunia bisnis gelap itu. Derga pun mengatakan apa saja yang harus Ara lakukan. Awalnya Ara menolak lantaran itu sesuatu yang berat baginya. Tapi setelah Derga menjelaskan lebih lanjut, Ara bersedia dan tidak keberatan untuk itu.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2