PESONA CALON ADIK IPAR

PESONA CALON ADIK IPAR
Makian


__ADS_3

Pandangan mata Ana beralih pada Ara. Wanita itu menatap adiknya tajam dengan penuh kekecewaan.


Plaakk ..


Sebuah tamparan Ana mendarat dengan mulus di pipi Ara hingga mengeluarkan setetes darah segar di sudut bibir gadis itu.


Derga hingga di buat terkejut oleh perlakuan Ana terhadap Ara.


"Aku sudah membaca semua tulisanmu, Kinara. Aku ikut terluka membacanya. Namun, perasaan simpati itu sekarang sudah berubah menjadi perasaan benci setelah aku tahu JIKA PRIA YANG SUDAH MERENGGUT KEHORMATANMU, PRIA YANG MENYENTUHMU, PRIA YANG MENGAMBIL DUNIAMU ADALAH CALON SUAMIKU." seru Ana.


"Aku bahkan tidak sanggup membayangkan bagaimana kalian bisa saling bersentuhan di atas tempat tidur dan bantal yang sama. Sesuatu yang seharusnya di takdirkan untukku, milikku, ternyata di ambil alih oleh orang lain dan mirisnya orang itu adalah kau adikku sendiri." Ana menunjuk ke arah Ara dengan tatapan penuh kebencian.


"Kak Ana-" Ara selangkah maju untuk memberi penjelasan jika semua ini tidak seperti yang dia pikirkan.


"Stop! Jangan dekat-dekat denganku. Aku merasa jijjikk denganmu karena aku rasa sekarang kau tidak lebih dari wanita jallang."


"KAK!" Ara berusaha membela diri karena tidak terima mendapat makian tersebut.

__ADS_1


"Sebutan apa lagi yang pantas untuk wanita yang bekerja di club malam selain jallang?"


"CUKUP!!" Derga berusaha melerai kakak beradik tersebut ketika ia merasa jika Ana sudah sangat keterlaluan.


"Aku tidak pernah menyangka jika kau setega itu, Kirana!" ucap Derga.


"Apa kau bilang? Aku tega? Siapa yang tega di sini? Aku? Atau kalian?"


"Berhenti bicara karena kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan bukankah kau sendiri yang memutuskan untuk membatalkan pernikahan di antara kita?"


"Aku?" Ana menunjuk dirinya. "Aku hanya berusaha agar kau mau jujur denganku apa urusanmu dengan Kinara. Dan sekarang aku sudah tahu sendiri jika kalian memang memiliki hubungan bahkan sejak enam bulan lalu. Hubungan baddan!"


"Memang itulah kenyataannya, bukan?"


"AKU BILANG JAGA UCAPANMU!!"


Sentakan Derga membuat tubuh Kirana bergetar terlonjak kaget lantaran baru kali ini ia mendengar Derga bicara dengan nada tinggi. Wanita itu tiba-tiba merasa sesak dan jatuh tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Ara seketika panik melihat Ana jatuh pingsan. Ia takut apa yang selama ini ia takutkan menjadi kejadian. Ia takut bukan hanya Ana saja yang membencinya setelah semua ini terbongkar, momy dan daddy nya juga.


"Derga, bagaimana ini? Kirana jatuh pingsan. Dia memiliki riwayat penyakit serius. Cepat angkat dia dan bawa masuk ke dalam."


Ara merasa panik sepanik-paniknya. Ia pasti yang akan di salahkan atas semua ini. Ia tidak bisa membayangkan semarang apa momy dan daddy nya nanti padanya.


"Ayo cepat, Derga. Angkat Kirana dan bawa masuk ke dalam. Aku tidak ingin sesuatu buruk terjadi padanya." pinta Ara dengan suara yang terdengar gemetar.


Derga mengangguk. Ia pun mengangkat tubuh Kirana dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Mereka berpapasan dengan momy Anika. Wanita paruh baya itu terkejut dan ikut di buat khawatir dan panik melihat putri sulungnya di bawa oleh Derga calon menantunya.


"Ada apa ini? Apa yang terjadi?" seru momy Anika dengan perasaan yang sudah campur aduk, apalagi setelah melihat darah di sudut bibir putri bungsunya, kekhawatirannya kian menjadi.


"Ara, sayang. Apa yang terjadi, nak?"


"Momy, nanti Ara jelaskan, ya. Sekarang kita bawa kak Ana dulu ke kamar."

__ADS_1


Momy Anika mengangguk setuju. Momy meminta Derga untuk segera membawa Ana ke kamar di lantai atas.


_Bersambung_


__ADS_2