PESONA CALON ADIK IPAR

PESONA CALON ADIK IPAR
Kondisi Kirana


__ADS_3

Satu minggu berikutnya. Kondisi Kirana semakin mengkhawatirkan. Tidak hanya fisiknya saja yang sakit, psikisnya juga kini ikut terganggu. Wanita itu tidak hanya di dampingi oleh Dokter rumah sakit, dia juga di dampingi oleh psikolog. Lantaran jika wanita itu sadar, maka dia akan histeris.


Ara berdiri di balik kaca jendela rumah sakit ruangan Kirana dengan uraian air mata. Ada Derga yang kini selalu berada di samping gadis itu. Ia berusaha untuk menguatkan Ara meski sejujurnya ia pun ikut sedih dengan kondisi Kirana sekarang.


"Aku pantas di benci. Aku yang menyebabkan Kirana jadi seperti ini," ucap Ara di antara isak tangisnya.


Derga merengkuh bahu Ara dan membawa gadis itu ke dalam pelukan. Membiarkan Ara menumpahkan tangis di dadanya.


"Jangan seperti ini. Di sini kau juga korban. Jika ada yang harus di salahkan, maka itu adalah aku," ucap Derga.


Tangis Ara kian menderas. Ia melepaskan diri dari pelukan Derga dan kembali menatap ke dalam ruangan. Ada momy dan daddy di sana yang menjaga Kirana. Ara tidak lagi merasa iri, karena memang sudah sepantasnya mereka menjaga putri mereka dalam keadaan seperti ini. Akan terasa lebih menyakitkan ketika semua ini hanya di rasakan seorang diri seperti dirinya tanpa ada satupun orang yang mengerti.


Derga memandang wajah Ara dan mengikuti arah pandang gadis itu. Derga mengerti apa yang saat ini gadis itu rasakan dan pikirkan. Di saat Kirana sedang seperti ini, kedua orang tuanya ada. Namun ketika dia sedang hancur, tidak ada satupun orang yang ada di sisinya. Termasuk dirinya yang meminta agar Ara melupakan kejadian itu. Ia sungguh menyesal karena pernah menghancurkan dunia gadis itu.


Ara menoleh ke arah pria yang berdiri di sampingnya.


"Kenapa kau tidak ikut menjaga Kirana juga bersama mereka?"

__ADS_1


Derga mengulas senyum kecil. "Kirana ada yang menjaga. Sedangkan kau tidak. Aku tahu jika hatimu pun tengah hancur dan terluka. Aku yang menyebabkan ini semua. Oleh karena itu, aku hanya akan berada bersamamu."


"Aku bukan siapa-siapamu. Tapi Kirana merupakan wanita yang penting dalam hidupmu."


"Hubungan kami sudah berakhir semenjak Kirana yang memutuskan untuk membatalkan pernikahan malam itu. Sementara kau adalah calon istriku yang sesungguhnya. Apapun yang terjadi, aku hanya akan menikahimu."


Derga kembali membawa Ara ke dalam pelukannya. Memeluknya lebih erat.


Ara terdiam. Entahlah, ia bingung harus bicara apa lagi. Dan jujur, ia merasa lebih aman dan tenang ketika bersama pria itu.


Dari dalam ruangan, perlahan kelopak mata Kirana bergerak dan matanya terbuka. Dan pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah dua orang yang tengah berpelukan di luar kaca. Perasaan bencinya kian bertambah dan emosinya kian memuncak.


Momy Anika dan Daddy Brighta di buat panik oleh reaksi yang di tunjukan oleh putri mereka.


"Kirana, kau baik-baik saja, sayang?" tanya momy dengan suara bergetar menahan tangis.


Sementara Daddy segera menekan bel guna memanggil Dokter agar cepat datang.

__ADS_1


"Sayang. Jangan buat momy cemas, nak. Kirana, jangan seperti ini, sayang. Momy mohon, jangan seperti ini."


Kirana seperti orang yang sedang menahan sakit luar biasa. Dan tidak lama kemudian ia kembali histeris.


"AAAARRGGHHH ..."


Momy Anika tak kuasa menahan tangis, apalagi saat Kirana berusaha mencopot alat medis yang terpasang di tubuhnya.


"Kirana, Kirana, jangan seperti ini. Momy mohon, jangan seperti ini."


Momy Anika menoleh ke arah suaminya.


"Dad, cepat panggil Dokter sekarang."


"Iya, mom."


Lantaran berulang kali menekan bel Dokter tidak datang juga. Terpaksa Daddy Brighta harus memanggil secara langsung.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2