PESONA CALON ADIK IPAR

PESONA CALON ADIK IPAR
Bertemu Kembali


__ADS_3

Ara menggandeng tangan sang kakak menuruni anak tangga. Senyum terpancar di wajah keduanya terutama Ana. Meski hubungannya dengan keluarga sang kekasih sudah sangat dekat, tetap saja ia masih gugup dan deg-degan di acara malam ini.


Ketika langkah keduanya sampai di ujung anak tangga, langkah Ara seketika terhenti saat kedua matanya tertuju pada pria yang duduk di sofa ruang tamu. Ia tercengang dan iris matanya melebar sempurna melihat sosok pria yang duduk di antara yang lainnya.


"Sudahlah, kita lupakan saja apa yang sudah terjadi semalam. Anggap saja ini hanya sebuah ketidaksengajaan. Dan jika suatu hari kau bertemu lagi denganku, bersikaplah layaknya dua orang yang tidak saling mengenal."


"Ra, ayo. Kenapa berhenti?" Kalimat kakaknya menarik paksa Ara dari segala pemikirannya saat ini.


Semua orang yang sudah ada di ruang tamu pun ikut menoleh begitu orang yang mereka tunggu sudah menampakan diri di ujung tangga. Pria itu tidak kalah terkejutnya melihat keberadaan gadis yang ia temui enam bulan lalu.


"Ayo, Ra." ajak Ana agar Ara melanjutkan langkahnya.


"I-iya, kak."


Ara melanjutkan langkah dengan masih menggandeng tangan sang kakak. Tatapannya tidak terlepas dari pria yang saat ini berusaha menghindari tatapannya.

__ADS_1


"Ayo duduk, sayang." Momy Anika menepuk sofa di sebelahnya agar putri sulungnya duduk di sana. Sementara Ara duduk di sebelah kiri momy nya.


Ibu dari pria itu tampak kurang suka dengan kakaknya. Ekspresi nya yang kurang antusias begitu sang kakak datang di sana. Ara jadi teringat akan sesuatu lagi.


"Baiklah jika kau begitu menginginkan hal itu dariku, maka aku akan memberikannya. Tapi kau harus berjanji, setelah ini jangan pernah mengusik kehidupanku lagi. Sebab aku hanya akan menikah dengan Kirana."


Iris mata Ara seketika melebar kembali mengingat nama Kirana yang pernah pria itu sebutkan ternyata nama kakaknya.


Bayang-bayang malam itu seketika berputar dengan jelas di kepala Ara. Terlebih saat ini pria itu ada di depan mata.


"Aaaaaa ..." Tiba-tiba saja Ara menjerit histeris dan membuat semua orang yang ada di sana panik.


"Sayang, kau kenapa?" tanya momy Anika khawatir.


"Ra, kau kenapa?"

__ADS_1


"Sayang, ada apa?" tanya sang daddy.


Ara mendongak dan melihat satu persatu orang yang ada di sana. Mereka semua tampak mengkhawatirkan dirinya. Namun berbeda dengan pria itu yang tampak biasa saja seolah tidak merasa bersalah dengan apa yang telah terjadi di antara mereka enam bulan lalu.


"Jangan perdulikan aku, kalian lanjutkan saja lamarannya." Ara beranjak pergi dari sana menuju luar rumah.


Semuanya di buat bingung oleh sikap Ara barusan.


"Semuanya, aku permisi ke mobil dulu. Ada sesuatu yang harus aku ambil," pamit pria itu tiba-tiba.


Ana melihat kepergian kekasihnya. Ia merasa ada yang aneh di sini. Dari mulai Ara yang tiba-tiba histeris tanpa sebab.


"Dad, momy susul Ara dulu, ya. Momy khawatir terjadi sesuatu pada Ara," pamit momy Anika pada suaminya.


"Biarkan dulu saja, my. Mungkin Ara butuh ruang atas masalah yang terjadi pada dirinya. Beberapa bulan terkahir ini dia kan tampak beda, seringkali murung dan meminta waktu untuk sendiri," cegah tuan Brighta, suami momy Anika.

__ADS_1


Momy Anika sejujurnya khawatir dengan putri bungsunya. Akan tetapi situasinya saat ini memaksa dirinya untuk fokus pada acara lamaran putri sulungnya dulu. Mereka dengan sabar menunggu pria itu kembali, terutama Ana yang kini perasaannya sudah tidak enak.


_Bersambung_


__ADS_2