PESONA CALON ADIK IPAR

PESONA CALON ADIK IPAR
Keceplosan


__ADS_3

"Aku sudah mengirim pesan pada Derga atas permintaan momy tadi malam," ujar Kirana dengan mimik wajah sedikit sedih.


Jujur, melihat Kirana sedih momy Anika pun ikut sedih. Tapi mungkin ini yang terbaik untuk sementara. Ia tidak ingin keluarganya terpecah belah hanya karena Ara merasa tidak begitu di perhatikan seperti Ana. Padahal ia selalu merasa adil dan tidak pernah membeda-bedakan satu sama lain.


"Permintaan apa?" tanya tuan Brighta.


Momy Anika dan Kirana saling memandang. Sebelumnya mereka sudah sepakat untuk tidak memberi tahu pria itu dulu. Hanya saja mungkin Kirana keceplosan.


Momy Anika menggeleng seraya tersenyum.


"Bukan apa-apa, dad. Ini mengenai soal acara pernikahan Kirana dengan Derga," jawab momy Anika.


"Iya, soal apa?"


Momy Anika terlihat sedang memikirkan jawaban agar suaminya tidak curiga.


"Soal MUA yang akan merias Kirana nanti. Jadi momy punya teman yang merekomendasikan MUA yang bagus. Jadi momy minta Kirana untuk memberi tahu Derga apakah dia setuju atau tidak dengan permintaan momy agar Kirana memakai jasa MUA rekomendasi dari teman momy."


Tuan Brighta mengangguk-anggukan kepalanya usai mendengar penjelasan sang istri. "Oh .. Daddy pikir permintaan apa."

__ADS_1


Tuan Brighta melanjutkan kembali sarapannya. Momy Anika dan Kirana saling memandang. Momy Anika memberi sebuah kode agar Kirana tidak lagi membahas soal itu di depan daddy nya. Kirana mengangguk paham dan sedikit merasa bersalah akibat kecerobohannya.


"Ara belum mau sarapan?" tanya tuan Brighta kemudian.


"Tadi momy sudah coba bujuk dia untuk ikut sarapan pagi ini. Tapi Ara masih tidak mau."


Tuan Brighta menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia merasa ada yang aneh lagi dengan putrinya sejak histeris malam itu.


"Apa ada yang salah lagi dengan Ara?"


Momy Anika menggeleng. "Ara baik-baik saja, dad. Seperti yang daddy katakan, mungkin Ara ada sedikit masalah yang membuat dia butuh ruang seperti waktu itu. Nanti Ara pasti akan kembali seperti biasa lagi setelah keadaanya lebih baik."


Momy Anika terkejut mendengarnya.


"Daddy ini terlalu berlebihan. Ara baik-baik saja, dad. Karena dia masih sangat muda, kadang mood nya tidak menentu. Lebih banyak badmood nya."


Tuan Brighta menghela napas. Entah kenapa ia merasa memang ada yang salah dari putrinya yang satu ini. Jika ia melihat Ara, ia melihat jika putrinya itu tengah mengalami sesuatu yang tidak biasa. Tapi ia berharap jika apa yang di katakan istrinya itu benar. Jika itu hanya pikirannya yang berlebihan. Semoga Ara memang baik-baik saja.


"Ya sudah, kalau begitu daddy langsung berangkat ke kantor saja, ya."

__ADS_1


Tuan Brighta menaruh rotinya yang masih tersisa sepotong. Sebab ia akan ada meeting penting pagi ini dengan klien.


"Kalau begitu momy sekalian ikut, ya. Momy mau mampir ke butik teman momy."


"Nanti pulangnya naik apa?"


"Kan bisa minta teman momy buat antar. Kalau tidak momy nanti bisa naik taksi online saja."


"Aku boleh ikut, mom?" Kirana menawarkan diri ketika mereka sudah bangkit berdiri.


Momy Anika pun mengangguk. "Iya, boleh sayang. Kalau begitu kau siap-siap dulu, ya."


"Iya, mom. Tunggu sebentar, ya."


"Jangan lama-lama, nanti daddy telat!" teriak tuan Brighta begitu Kirana sudah beranjak dari sana.


"Iya, dad." jawab wanita itu.


Sementara suaminya sudah lebih dulu ke depan, momy Anika meminta pelayan di rumahnya untuk mengantarkan sarapan ke kamar Kinara.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2