PESONA CALON ADIK IPAR

PESONA CALON ADIK IPAR
Meminjam Ponsel


__ADS_3

Ara belum kunjung keluar dari kamar mandi yang terdapat di kamarnya. Sebab ia mendadak sakit perut dan terus menerus buang air besar. Bahkan ia sampai tidak memperdulikan panggilan Kirana yang sedari tadi menggedor pintu kamarnya.


"Untuk apa Kirana berteriak-teriak memanggil namaku. Ah ya ampun, apakah dia tidak tahu jika aku sedang sakit perut?"


Ara memegangi perutnya. Peluh sudah membasahi pelipis dan rambutnya sudah tampak basah oleh keringat. Tubunya terasa sangat lemas akibat terlalu lama di kamar mandi untuk buang air besar.


Iris mata gadis itu melebar ketika mengingat ekspresi wajah Kirana tadi saat mereka berpapasan di ujung tangga. Kirana terlihat melayangkan kemarahan padanya.


"Apa Kirana melihatku bersama calon suaminya?" pikir gadis itu kemudian.


"Jika dia melihatku bersama Derga tadi, maka aku dalam bahaya besar."


Ara meneguk salivanya dengan susah payah. Seketika ia kembali di hantui oleh perasaan cemas dan takut. Bagaimana jika Kirana sampai mengadu pada momy dan daddy nya. Ia benar-benar takut jika kekhawatiran nya selama ini terjadi.


"Tidak, aku tidak ingin di benci oleh mereka. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Tidak. Aku tidak mau."


Rasa sakit di bagian perutnya mendadak hilang karena perasaan cemas yang terlalu berlebihan. Ia takut jika kedua orang tuanya akan menyalahkan dirinya.


Saking takutnya, ia bahkan tidak berani keluar dari kamar mandi dan memutuskan untuk tidur dekat wastafel usai buang air besar.


***


Keesokan harinya.


Ara terbangun dengan badan yang menggigil karena sudu kamar mandi yang lembab dan dingin. Ia keluar dari kamar mandi tersebut setelah merasa aman.

__ADS_1


"Aku harap momy maupun Kirana tidak datang ke sini untuk mempertanyakan banyak hal padaku."


Ara duduk di tepi ranjang. Semalam Derga bilang jika malam ini mereka akan pergi ke tempat mami Olin untuk menghancurkan dunia bisnis gelap itu. Bagaimana ia bisa keluar kamar dalam keadaan takut bertemu dengan orang-orang di rumah.


"Aku takut jika Derga datang ke sini lagi, Ana akan semakin salah paham dan semakin memperkeruh keadaan. Apa aku harus menepati janjiku untuk membantu misinya?"


Tok tok tok ..


Suara ketukan pintu membuat tubuh Ara terperanjat kaget karena takut jika pelaku pengetuk pintu ternyata Kirana.


"Nona Kinara .." panggil seseorang.


Ara menghela napas lega karena yang datang bukanlah Kirana maupun momy nya. Ternyata itu hanya seorang pelayan.


Ara beranjak untuk membukakan pintu. Seorang pelayang yang bertugas mengantar sarapan ke kamarnya muncul dari balik pintu.


"Taruh saja di meja, bi."


"Baik, non."


Ara mempersilahkan pelayan tersebut masuk ke kamarnya. Pelayan tersebut hendak pergi, namun Ara tahan.


"Bi."


"Iya, non?"

__ADS_1


"Mm .. Bibi punya ponsel?" tanya Ara kemudian.


Pelayan tersebut mengangguk. "Iya, punya."


"Aku boleh pinjam sebentar?"


Pelayan tersebut diam sejenak. Sebelum kemudian memberikan ponsel yang ia keluarkan dari saku khas pelayan.


"Aku pinjam sebentar ya, bi. Tapi bibi bisa tunggu di luar saja?"


"Baik, non."


"Tunggu, bi." Ara mencegah pelayan itu lagi. "Kalau misalkan ada momy atau Kirana bertanya kenapa bibi berdiri di depan pintu kamar aku, bibi bilang saja nunggu aku selesai sarapan. Jangan beri tahu jika aku pinjam ponsel bibi."


Pelayan tersebut mengangguk patuh. "Iya, non."


"Terima kasih, bi."


Pelayan tersebut keluar dari kamar Ara. Gadis itu menutup rapat-rapat bahkan mengunci pintu kamarnya. Setelah itu ia mulai menekan tombol power di ponsel untuk membuka kunci layar yang hanya sebatas mengusap layarnya ke atas.


Ara mencoba mengingat nomer Kirana. Ia berharap jika Kirana belum mengganti nomer setelah enam bulan ia tidak memegang ponsel.


Setelah ingat, ia mulai mendial nomer Ana. Ia menghembuskan napas lega lantaran nomernya masih aktif dan panggilan terhubung.


"Halo .."

__ADS_1


Terdengar suara dari sebrang sana. Ara pun berusaha mengganti suaranya agar tidak sampai di kenali oleh Ana.


_Bersambung_


__ADS_2