PESONA CALON ADIK IPAR

PESONA CALON ADIK IPAR
Pemakaman


__ADS_3

Pasca pemakaman selesai, Daddy Brighta, Momy Anika, Ara, Derga dan momy daddy nya masih berada di makam Kirana. Sementara yang lain sudah membubarkan diri. Momy Anika masih terisak seraya memeluk nisan putri sulungnya.


"Dia sudah meninggal, jadi sekarang saatnya kau menuruti permintaan momy. Menikahlah dengan Jolly, Derga!" bisik momy Xavier.


"Aku tidak akan menikahi siapapun kecuali Kinara, mom," sahut Derga dan terdengar jelas oleh siapapun yang ada di sana.


Daddy Brighta pun menoleh. "Dan saya tidak akan pernah menikahkan putri saya kepadamu."


Ucapan daddy Brighta cukup menarik perhatian Kinara. Gadis itu bangkit berdiri dan menatap orang-orang tersebut.


"Berhenti berdebat! Daddy, Derga, aku mohon jangan membahas pernikahan di makam Kirana. Kita semua masih dalam keadaan berduka. Tidak sepantasnya kita membahas hal itu di sini." Ara berusaha melerai mereka.


"Tapi Ara-"


"Jangan berkata apapun lagi!" pungkas gadis itu.


Momy Xavier memberikan sorot mata tidak suka terhadap Kinara. Lantaran gadis itu ternyata berani sekali di banding dengan Kirana yang lebih banyak diam. Keinginannya untuk menikahkan Derga dengan Jolly seketika membesar melihat bagaimana sikap gadis bernama Kinara.


"Ayo, Derga. Sebaiknya kita pergi saja dari sini!" ajak momy Xavier.


Derga menepis tangan momy nya. "Aku tidak akan pulang sekarang. Aku masih harus berasa di sini."

__ADS_1


"Untuk apa? Calon istrimu sudah mati!"


"Jaga bicaramu, nyonya Xavier!" seru momy Anika ikut angkat bicara begitu momy Xavier bicara demikian.


Momy Anika bangkit berdiri dan memberi sorot mata yang membuat momy Xavier seketika merasa takut.


"Jika anda ingin pergi, maka pergilah. Lagipula anda tidak di minta untuk datang. Sebelum putriku benar-benar tiada, sudah tidak ada lagi hubungan antara Derga dengan putriku. Jadi, di antara kita pun sudah tidak ada hubungan apapun."


Momy Xavier menatap putranya yang tidak pernah memberi tahu hal itu. Kemudian momy Xavier kembali menatap momy Anika lalu berdecih.


"Aku benar-benar menyesal sudah datang ke acara pemakaman orang yang bahkan tidak ada kaitannya denganku."


Momy Xavier lantas pergi dari sana. Tuan Xavier benar-benar merasa tidak enak dengan sikap istrinya barusan. Beliau menelungkupkan tangannya di dada.


Daddy Brighta berjalan mendekat ke arah istrinya dan berusaha menenangkannya.


"Kenapa kau tidak ikut pergi bersama mereka?" tanya Ara kemudian dan tidak di sangka-sangka oleh Derga.


"Aku tidak akan pergi. Aku hanya ingin tetap di sini menemanimu."


"Pergilah! Aku tidak membutuhkanmu."

__ADS_1


"Kau membutuhkan seseorang. Kau membutuhkan aku."


"Tidak!"


"Kau butuh."


"Aku bilang tidak."


"Aku tahu kau membutuhkanku."


"CUKUP!" seru momy Anika dan membuat keduanya terdiam seketika.


"Ara, sayang. Bukankah kau yang meminta untuk tidak berdebat di sini?"


"Maaf, mom."


"Jadi momy mohon kalian berdua untuk diam agar Kirana bisa tenang."


"Baik, mom."


Ara melirik ke arah Derga. Pria itu yang membuat dirinya harus melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak ia inginkan.

__ADS_1


Derga pun terdiam. Sambil memikirkan cara bagaimana setelah ini. Pokoknya ia harus bisa meyakinkan tuan Brighta jika ia pantas menjadi bagian mereka. Menikahi Kinara, bukan hanya sekedar untuk menebus kesalahannya di masalalu, namun karena ia sudah terlanjur memberikan segenap perasaannya untuk gadis itu.


_Bersambung_


__ADS_2