
Ara menatap kedua manik mata Derga yang menatapnya penuh akan rasa penyesalan.
"Aku sangat mencintai Kirana, kakakmu. Dan begitu momy terus memojokan aku dengan cara menjodohkan aku dengan wanita pilihannya, aku pergi ke club itu. Aku berpikir dengan cara meminum banyak alkohol aku bisa keluar dari permasalahan yang sedang aku alami. Tapi nyatanya, aku baru tahu jika aku membuat permasalahan lain dalam permasalahan tersebut."
Derga berusaha memberi penjelasan pada Ara. Tangannya masih terulur meski belum mau Ara jabat.
"Aku pikir aku hanya mabuk dan dalam keadaan tidak sadar aku melakukan itu. Oleh karena itu aku menganggap jika semua ini hanyalah sebuah ketidak sengajaan. Maka dengan mudahnya aku memintamu untuk melupakan apa yang terjadi di malam itu tanpa aku tahu seperti apa hari-harimu setelah. Dan setelah aku dengar cerita dari temanmu yang bernama Rachel, itu semakin menguatkan pikiranku jika apa yang terjadi di antara aku denganmu adalah sebuah jebakan. Tapi setelah aku dengar cerita barusan darimu jika aku menggunakan dirimu sebagai luapan emosi atas permasalahan yang terjadi pada diriku, pada keluargaku, membuat aku sadar seketika. Jika kau bukan hanya korban dari pemilik club itu, tapi kau juga korban atas luapan permasalahan diriku."
Air mata Ara kian menderas. Ia tidak menyangka jika pria yang sebelumnya semengerikan itu berubah menjadi pria setulus ini.
"Aku berhubungan dengan Kirana sudah hampir dua tahun. Tapi jika kau merasa permintaan maafku sebagai bentuk rasa penyesalanku terhadap dirimu ini di anggap kurang, maka aku bersedia bertanggung jawab sesuai dengan yang kau inginkan. Aku akan mengorbankan hubunganku demi rasa tanggung jawabku. Sebab kau pun menjadi korban atas hubungan antara aku, keluargaku, dan wanita itu."
Mendengar kalimat Derga barusan Ara pun menggeleng keras. Ia tidak mau di benci oleh keluarganya sendiri jika mereka semua mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya dan pria itu di enam bulan lalu. Tidak apa ia yang hancur, asalkan jangan Kirana. Sebab perhatian momy dan daddy pasti akan semakin tertuju pada Kirana dan yang ia dapat hanya ujaran penuh kebencian.
Perhatian Ara kembali pada tangan Derga yang masih terulur. Tanpa pikir panjang lagi ia menjabat tangan pria itu meski dengan tangan yang gemetar.
__ADS_1
"Aku memaafkanmu dan ini sudah cukup bagiku. Kau tidak perlu melakukan hal lain yang lebih daripada ini. Kau harus tetap bersama Kirana."
Setelah mengucapkan hal itu Ara segera melepaskan tangannya yang bertaut dengan tangan Derga. Entah kenapa Derga melihat ada ketakutan besar di balik perkataan Ara.
"Baiklah jika itu yang kau mau."
"Iya."
Ara menghapus air matanya dan ia rasa ini semua telah berakhir. Ia harus bisa memulihkan dirinya setelah ini.
Ara menghentikan usapan tangan di pipinya. Kemudian beralih menatap pria itu.
"Apa?"
"Orang tuamu tahu apa yang terjadi pada dirimu?"
__ADS_1
Ara menggeleng. "Aku memendamnya seorang diri selama enam bulan ini."
Jawaban Ara semakin membuat Derga menjadi pria yang merasa sangat bersalah.
"Aku pikir Kirana memundurkan waktu pernikahan denganku hanya karena dia sudah tahu jika aku adalah pria yang pernah satu ranjang denganmu."
Ara yang semula menunduk guna melanjutkan menghapus air matanya seketika mendongak dan menatap Derga dengan tatapan syok.
"Kirana mengundurkan waktu pernikahan?"
Derga mengangguk membenarkan. "Iya. Oleh sebab itu aku datang kemari untuk menanyakan alasannya. Memangnya kau sendiri tidak tahu?"
Ara bergeming. Ia benar-benar tidak tahu masalah ini. Dan ia pun kini di buat penasaran kenapa Kirana bisa membuat keputusan untuk mengundur waktu pernikahannya.
_Bersambung_
__ADS_1