
Hanya melaju sekitar seratus meteran saja, Derga sudah menghentikan mobilnya. Ara masih menatap pria yang duduk di sampingnya dengan tatapan bingung.
"Kau pasti masih bingung kan kenapa aku yang yang berada di dalam mobil ini?"
"Iya, jadi ternyata kau yang merupakan klien pura-pura mami Olin?" tanya Ara memastikan.
Derga menggeleng. "Bukan. Sebenarnya aku sudah menyiapkan seseorang yang berpura-pura menjadi klien-mu. Tapi karena kau begitu ketakutan tadi. Jadi aku minta seseorang itu untuk mem-booking mu. Dan kebetulan kau di perbolehkan untuk di booking. Oleh karena itu aku memutuskan aku saja yang menjemputmu menggunakan mobil ini. Sementara orang yang berpura-pura menjadi klien-mu, sekarang bersama Evril di mobil."
Ara mengangguk paham. Jika memang demikian, ia sangat merasa lega. Jujur ia sudah ketakutan sekali jika klien nya ternyata bukan orang suruhan Derga. Tapi justru malah Derga sendiri yang datang.
"Jadi sekarang misiku sudah selesai?" tanya Ara memastikan lagi.
Derga mengangguk membenarkan. "Iya, misi mu telah selesai. Terima kasih sudah membantuku."
"Hah syukurlah kalau begitu. Iya, sama-sama," jawab Ara merasa lega.
"Tapi jangan pulang dulu, ya. Sekarang Evril sedang menghubungi pihak polisi usai mengirimkan bukti yang di dapatkan Rachel tadi. Kebetulan Rachel juga sudah memberi keterangan sebelumnya jika ia nyaris menjadi korban bisnis wanita itu."
Ara mengangguk. Ia berharap jika bisnis ini akan berhenti sebelum memakan banyak korban.
Derga dan Ara menunggu di mobil berdua. Sementara Evril di dalam mobil bertiga bersama Rachel dan juga seseorang yang tadinya akan berpura-pura menjadi klien.
Di kamar, Katty bersama Beno. Mereka masih terkunci di dalam sana berdua.
"Apa kau yakin jika rencana ini akan berjalan dengan semestinya?" tanya Beno.
"Aku sangat yakin. Tuan Evril memberi tahu jika sekarang pihak kepolisian akan segera meluncur ke sini untuk melakukan penangkapan terhadap mami Olin karena sudah membuat bisnis ilegal yang merugikan banyak pihak. Terutama wanita yang menjadi korban nya."
__ADS_1
"Berapa lama lagi? Jika polisi belum juga datang bisa-bisa kau menjadi santapan aku sungguhan karena terlalu lama di biarkan berdua di sini."
"Heh, apa maksudmu?" Katty mundur menggeser posisi duduknya sedikit menjauh dari Beno.
"Lagian, mana ada pria yang tahan berlama-lama berdua dengan wanita sekamar? Apalagi kau lumayan juga."
"Sialan, awas saja jika kau berani macam-macam. Ingat, ini hanya settingan."
Beno menyunggingkan sudut bibirnya.
"Kalau begitu naikan bajumu, belahan mu sungguh menggoda."
Katty menunduk dan ternyata ia baru sadar jika baju yang ia pakai saat ini memperlihatkan bellahhan buah kembarnya.
"Pejamkan saja matamu!" ketus Katty merasa sedikit kesal lantaran ia berada di dalam kamar berdua dengan pria jelalatan seperti Beno. Jangan sampai settingan ini berakhir menjadi kenyataan.
Beno berusaha menahan diri untuk tidak tergoda oleh Katty. Meski sejujurnya tidak bisa di pungkiri jika Katty sungguh menggoda. Namun, jika ia ceroboh, maka yang ada ia akan ikut mendekam di penjara bersamaan dengan pemilik club ini.
"Selamat malam, tuan Evril."
"Iya, pak. Selamat malam."
"Kami datang ke sini untuk melakukan penangkapan terhadap pemilik bisnis ilegal yang sudah memakan banyak korban."
"Iya, pak. Silahkan. Terima kasih atas kerja samanya."
"Itu sudah menjadi kewajiban dan tugas kami sebagai pihak kepolisian."
__ADS_1
"Baik, pak. Ah ya, orang-orang suruhan saya yang ada di video itu kebetulan masih ada di kamar, pak. Mereka masih terkunci di sana."
"Untuk masalah itu biar menjadi urusan tuan Evril saja. Karena kami akan fokus pada pemilik bisnis ini."
"Ah iya, baik pak."
"Kalau begitu, kami akan melakukan tugas sekarang."
"Silahkan, pak."
Polisi yang menjadi pemimpin di antara beberapa polisi yang lain pun kini tengah memberi komando. Sebelum kemudian mereka masuk ke dalam club tersebut.
Evril segera memberi tahu tuan nya, jika polisi kini sudah bergerak.
"Halo, tuan. Polisi sudah melakukan pergerakan. Sebentar lagi, pemilik club ini akan segera di tangkap."
"Ok, Vril. Pokoknya wanita itu jangan sampai lolos."
"Iya, tuan."
Sambungan telepon pun di matikan. Ara penasaran dengan apa yang di bicarakan oleh Evril di telepon.
"Apa katanya?" tanya Ara.
"Polisi sudah datang dan akan segera melakukan penangkapan. Semoga wanita itu tidak lolos."
"Semoga saja."
__ADS_1
Perasaan Ara semakin tidak karuan. Ia takut jika mami Olin berhasil lolos.
_Bersambung_