
"Kinara buka pintunya!"
Berulang kali Ana menggedor pintu kamar serta berteriak memanggil nama adiknya. Namun, tidak ada sahutan dari dalam. Justru malah momy dan daddy yang keluar dari kamar dan menghampirinya untuk memastikan keadaan.
"Ana, kenapa teriak-teriak di kamar, Ara?"
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Ana langsung menghambur ke dalam pelukan momy Anika. Wanita itu langsung khawatir telah terjadi sesuatu di antara kedua putrinya. Sebelumnya Ana tidak pernah seperti ini. Berteriak-teriak memanggil adiknya seraya menggedor-gedor pintu.
Tuan Brighta sendiri ikut khawatir sebetulnya. Hanya saja seorang pria tidak pandai mengekspresikan perasaannya seperti seorang wanita. Ia terlihat cukup tenang dan diam.
Setelah puas memeluk momy nya, Ana pun melepaskan pelukan tersebut. Kekhawatiran momy Anika kian bertambah setelah melihat air mata yang mengalir di pipi Ana.
"Sayang, kau kenapa? Ada apa, nak? Kenapa sampai teriak-teriak di depan pintu kamar Ara? Ceritakan sama momy, apa yang sebenarnya terjadi?"
__ADS_1
"Momy .. Hiks .. Hiks .." Kirana terisak, momy Anika berusaha memberi ketenangan.
Momy Anika menoleh ke arah suaminya. Tuan Brighta paham jika kehadirannya mungkin yang membuat putrinya enggan untuk bercerita. Oleh karena itu ia memilih untuk pergi dari sana. Dan momy Anika membawa putri sulungnya ke kamar Ana sendiri.
"Katakan pada momy, apa yang membuatmu menangis seperti ini, sayang?"
"Derga, mom .." ucap wanita itu seraya terisak.
"Derga tadi datang ke sini, mom."
"Iya, terus? Kenapa? Kapan Derga datang ke sini? Kenapa momy tidak melihatnya? Apa yang Derga lakukan padamu, sayang?"
Kirana mencoba mengatur deru napasnya yang sedikit tersengal akibat menangis sampai terisak. Sebelum kemudian ia mengatakan apa yang terjadi pada momy Anika.
__ADS_1
"Aku mendapat info dari bibi jika Derga datang ke sini tadi pagi. Tapi dia bukan mencariku, Derga mencari Kinara, mom."
Momy Anika mengerutkan dahinya. Mencoba untuk mencerna baik-baik apa yang di sampaikan oleh putri sulungnya.
"Aku pikir bibi hanya salah dengar, jika Derga mencari aku, bukan Kinara. Tapi ternyata apa yang di katakan oleh bibi itu benar. Jika Derga benar-benar mencari Kinara. Dan barusan, aku berdiri di balkon kamar. Aku melihat ke bawah, aku mendapari Kinara tengah duduk berdua di bangku taman bersama seseorang. Aku melihat mobil Derga terparkir di halaman depan. Aku turun untuk memastikan jika itu Derga atau bukan. Dan ternyata yang ku lihat di taman benar-benar Ara dengan Derga, mom."
Kirana kembali terisak. Rasanya ia sudah tidak kuat untuk melanjutkan penjelasan. Tapi ia harus menceritakan semuanya pada momy Anika.
"Aku berusaha meminta penjelasan pada Derga kenapa dia bisa bersama Ara. Di rumah ini, ada aku calon istrinya. Kenapa dia datang untuk Ara, bukan aku. Aku berhak menanyakan alasannya. Dia bilang ada urusan dengan Ara. Dan begitu aku paksa dia untuk mengatakan apa urusannya dengan Ara dengan cara aku akan membatalkan pernikahan jika dia tidak mau mengatakan yang sebenarnya padaku, justru dia malah kecewa karena aku terlalu mudah memutuskan sesuatu yang seharusnya tidak mudah untuk di ucapkan. Akhirnya Derga pergi dan kecewa padaku, mom. Aku berusaha mengejarnya tapi dia tidak mau mendengar penjelasan aku jika aku tidak bersungguh-sungguh akan hal itu. Sekarang aku harus bagaimana, mom?"
Momy Anika merangkul putrinya. Ia tahu bagaimana perasaan putrinya saat ini. Tapi ia juga tidak bisa menyalahkan Ara dalam situasi seperti ini. Justru Ana lah yang salah di sini karena terlalu cepat mengambil keputusan tanpa memikirkan resikonya.
_Bersambung_
__ADS_1